PosKupang/

Air dan Masa Prapaskah, Apa yang Mesti Dilakukan Umat Kristiani?

Penderitaan Kristus patut dimaknai dalam kehidupan setiap umat Kristiani. Sehubungan dengan itu, tulisan berikut

Air dan Masa Prapaskah, Apa yang Mesti Dilakukan Umat Kristiani?
Net
Ilustrasi

Oleh: Jakobis Johanis Messakh
Warga GMIT, Staf Pengajar PTB Undana Kupang

POS KUPANG.COM - Saat ini umat Kristiani seluruh dunia sementara merayakan minggu-minggu sengsara atau masa prapaskah memperingati kesengsaraan Tuhan Yesus Kristus yang mencapai puncaknya di kayu salib, mati dan dikuburkan. Namun di hari ketiga Ia bangkit dari kematian dan menang atas maut.

Penderitaan Kristus patut dimaknai dalam kehidupan setiap umat Kristiani. Sehubungan dengan itu, tulisan berikut disengaja untuk mentautkan antara masa minggu-minggu sengsara Tuhan Yesus dan air, untuk kita renungkan. Lebih tepatnya: Apa yang bisa dilakukan umat Kristiani di minggu-minggu sengsara dalam kepeduliannya terhadap air, sebagai wujud ia memaknai penderitaan Kristus?

Beberapa bagian Alkitab mengisahkan tentang air, bahkan Tuhan Yesus sendiri mengatakan diriNya adalah `air kehidupan'. Dikatakan air merupakan sumber kehidupan, tentu bukan merupakan sesuatu yang mengada-ada, faktanya sekitar 70% tubuh manusia terdiri dari air, lebih dari 70% permukaan bumi tertutupi air. Secara fisik manusia bisa bertahan tidak makan hingga delapan minggu dengan catatan masih konsumsi air, sedangkan bisa hidup tanpa air atau menahan haus hanya maksimal 3-5 hari. Manusia bisa hidup tanpa listrik, namun tidak jika tanpa air. Peradaban manusiapun umumnya berada di dekat air, hal ini disebabkan seluruh aktivitas manusia membutuhkan air alias tidak ada substitusinya.

Betapa pentingnya air dalam kehidupan manusia sehingga pada banyak daerah penamaan tempat erat kaitannya dengan air. `Oe' di Timor -Oepura, Oebobo, Oenasi dan lain-lain. `Cai' atau "Ci" di Jawa Barat -Cimahi, Cilacap, dan masih banyak lagi. Membicarakan air merupakan suatu topik yang menarik karena air memiliki sifat yang khas dan unik. Banyak air mengakibatkan banjir, yang berarti bencana. Sedikit air, mengakibatkan kekeringan yang juga merupakan bencana. Air yang bersih bermanfaat, air yang tercemar menimbulkan penyakit.

Nusa Tenggara Timur sebagai daerah semi-kering di Indonesia merupakan bagian dari daerah pelayanan Gereja. Oleh sebab itu sudah semestinya `air' menjadi pokok pergumulan penting bagi Gereja karena ketersediaan air merupakan persoalan rumit yang terus `berulang tahun' di daerah ini. Kenapa saya menyoroti persoalan air dalam momen perayaan hari keagamaan seperti ini? Karena pergumulan jemaat di dunia, tidak saja rohani tetapi juga jasmani. Gereja (GMIT) sejak tahun 2016 sering berbicara tentang program `tanam/panen/tabung air' yang merupakan program prioritas GMIT (Pos Kupang.com 13 April 2016; 26 Januari 2017, dll). Sejauhmana program tersebut diketahui, dimengerti dan dilaksanakan oleh jemaat adalah hal terpenting. Jika tidak maka hanya wacana.

Kita patut bersyukur kepada Tuhan karena saat ini di NTT secara umum berada dalam `tahun basah' dengan curah hujan yang cukup. BMKG Kupang memprediksi kondisi hujan di NTT akan terjadi sampai akhir April 2017 (Pos Kupang.com, 9 Maret 2017). Berarti masih ada kesempatan untuk memanfaatkan potensi curah hujan untuk berbagai kepentingan, sambil tidak lupa untuk `menabungnya' agar bisa digunakan pada masa paceklik air nanti.

Program pemerintah membangun 7 buah waduk di NTT sampai tahun 2019 dan banyak lagi embung di NTT adalah implementasi dari konsep `menanam, memanen, menabung air' dalam skala besar. Dalam skala kecil, dapat dilakukan dengan membuat jebakan air berbentuk parit di daerah yang berkontour (berbukit), sumur resapan, lubang biopori. Intinya air hujan jangan sampai terbuang percuma.
Secara rata-rata potensi curah hujan di NTT sekitar 1.200 mm per-tahun.

Banyak faktor yang mempengaruhi proses infiltasi air hujan tidak dapat berlangsung dengan baik yang berdampak pada ketersediaan cadangan air tanah. Faktor-faktor tersebut bisa dari alam, misalnya kondisi penutupan lahan, jenis dan struktur tanah atau batuan, karakteristik hujan. Faktor lainnya akibat intervensi manusia yang negatif terhadap alam. Aktivitas yang paling menonjol adalah adanya alih fungsi lahan dari kawasan hutan menjadi kawasan pertanian dan permukiman khususnya di daerah hulu DAS yang seharusnya merupakan lahan konservasi.

Berikutnya, meningkatnya luasan bidang kedap air khususnya di perkotaan akibat pembangunan rumah dan lantai halaman yang dicor kedap air tanpa perhatikan aturan konservasi. Besarnya limpasan air permukaan saat terjadi hujan merupakan indikasi kita gagal mengelola air hujan dengan baik. Kondisi ini mau tidak mau akan memperparah dampak kekurangan air. Oleh karena itu, program `menanam/memanen/menabung air' seharusnya menjadi `Gerakan Konservasi Air' yang sangat bermanfaat bagi seluruh masyarakat NTT jika dilakukan secara massal dan tepat. Dan, bagi warga Gereja, patut dilakukan sebagai wujud tanggung-jawab `memelihara bumi' sebagaimana Alkitab katakan.

Halaman
12
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help