PosKupang/

80 Keluarga Nikmati Listrik Tenaga Angin di Tanarara- Maubokul, Sumba Timur

Sejak kami lahir sampai empat tahun lalu baru ada penerangan listrik di wilayah kami

80 Keluarga Nikmati Listrik Tenaga Angin di Tanarara- Maubokul, Sumba Timur
John Taena
POS KUPANG/JOHN TAENA LISTRIK-Pembangkit listrik tenaga angin yang ada di Dusun Tanarara, Desa Maubokul, Kecamatan Pandawai, Sumba Timur. Gambar diabadikan, Minggu (19/3/2017) 

POS KUPANG.COM, WAINGAPU - Sumba Timur yang terkenal sebagai daerah bersabana, tandus dan kering menyimpan sejuta potensi. Salah satunya potensi pembangkit listrik tenaga angin, di Dusun Tanarara, Desa Maubokul, Kecamatan Pandawai, Kabupaten Sumba Timur. Sejak beroperasi tahun 2013 silam, sedikitnya 300 jiwa dari 80 lebih kepala keluarga (KK) di lokasi desa itu telah menikmati penerangan listrik.

Mantan Kepala Desa Maubokol, Meta Tanggu Humba, kepada wartawan di kediamannya, Minggu (19/3/2017), mengaku kerinduan ratusan jiwa di wilayah itu untuk menikmati penerangan listrik baru terobati tahun 2013 lalu sejak bangsa ini merdeka.

Hal ini disebabkan potensi alam yang dimiliki daerah itu telah dioptimalkan.

"Sejak kami lahir sampai empat tahun lalu baru ada penerangan listrik di wilayah kami. Kita bersyukur karena listrik tenaga angin yang dibangun sudah sangat membantu peneragan di sini," jelasnya.

Lebih lanjut Meta Humba menjelaskan, sebelumnya warga setempat rata-rata menggunakan lampu pelita. Hal ini sebabkan ketiadaan jaringan listrik di lokasi yang berjarak sekitar 50 kilometer dari Kota Waingapu, pusat ibukota kabupaten.
Namun dibalik padang sabana yang terbentang luas di daerah itu, terdapat potensi listrik cukup besar. Hal ini yang tekah dinikmati warga Dusun Tanarara selama empat tahun terakhir.
Dijelaskannya, berkat kerjasama pihak Pertamina dan Yayasan Institut Bisnis Ekonomi Kerakyatan (IBEKA), sebuah pembangkit listrik tenaga angin bisa hadir di dusun itu.

"Program Kegiatan Bina Lingkungan (PKBL) Pertamina, dan dikerjakan Yayasan IBEKA (Institut Bisnis Ekonomi Kerakyatan,red) waktu itu maka masyarakat bisa menikmati listrik memanfaatkan tenaga angin," terang Humba.

Para pemanfaat listrik tenaga angin di dusun itu, tambahnya, dikenakan iuran sebesar Rp 20 ribu/kepala keluarga setiap bulan.

Dana tersebut dipakai untuk biaya operasional dan perawatan pembangkit listrik tenaga angin yang ada di lokasi itu.
Meta mengaku biasanya operator menyala aliran listrik mulai jam enam sore.

"Pokoknya kalau sudah gelap baru kasih menyala. Nanti kalau tengah malam kita sudah mau tidur baru listrik dikasih padam karena tak bisa sampai pagi. Tapi kalau ada acara di kampung bisa menyala sampai pagi," terang Meta Humba. (jet)

Editor: Ferry_Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help