PosKupang/

Menanti Habitus Bersih tentang Kondisi Destinasi Wisata. Apa Itu?

Diskusi mengenai kebiasaan buruk masyarakat berkaitan dengan kebersihan tentu didasarkan pada kondisi empirik beberapa destinasi wisata di NTT

Menanti Habitus Bersih tentang Kondisi Destinasi Wisata. Apa Itu?
POS KUPANG/JOHN TAENA
Penataan obyek wisata Lasiana Kupang 

Oleh Lasarus Jehamat
Dosen Sosiologi Fisip Undana Kupang

POS KUPANG.COM - NTT telah menjadi New Tourism Territory. Karena telah menjadi New Tourism Territory, NTT harus menyiapkan semua hal. Semua itu bertujuan agar pariwisata benar-benar memberi dampak kesejahteraan bagi masyarakat.

Diskusi mengenai kebiasaan buruk masyarakat berkaitan dengan kebersihan tentu didasarkan pada kondisi empirik beberapa destinasi wisata di NTT. Media ini memberitakan banyaknya wisatawan yang tidak merasa betah dengan kondisi fisik tempat wisata Lasiana di Kota Kupang (Pos Kupang, 17 Maret 2017). Karena kotor, wisatawan akhirnya tidak ingin berlama-mama di tempat wisata tersebut. Hasil penelusuran saya beberapa tahun terakhir, kondisi kebersihan di beberapa tempat wisata memang masalah serius masyarakat kita di samping masalah lain yang tengah dibenahi pemerintah.

Tahun lalu, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mencanangkan program Gerakan Indonesia Bersih (GIB) di Labuan Bajo. Dua tahun sebelumnya, saya pernah menulis kondisi Pantai Nemberala yang dipenuhi kotoran ternak. Mengapa masyarakat kita sulit membangun habitus bersih di tengah besarnya harapan akan pengembangan beragam tujuan wisata oleh pemerintah NTT?

Ada beberapa hal yang perlu didalami. Pertama, realitas empiris menunjukan bahwa Lasiana, Labuan Bajo, Nemberala dan beberapa tempat wisata memang kotor bukan main. Kedua, gebrakan dalam bidang pariwisata tidak akan membawa hasil jika usaha peningkatan jumlah kunjungan wisata hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Ketiga, selain fisik, habitus tidak bersih menurut saya karena mental kita memang amat kotor dan buruk.

Tulisan ini ingin membahas tiga soal itu. Gugatan utamanya adalah sejauh program pembangunan tidak didukung oleh semua pihak, dengan membangun kesadaran masyarakat maka program itu hanya akan menjadi program akal-akalan.

Saya sering berteriak di berbagai media, bahwa soal utama bangsa kita adalah ketiadaan sikap antisipatif. Praktisnya, kita hanya mendiskusikan sehat dikala sakit dan membahas bersih ketika kotor. Kita tidak pernah mengajarkan pendidikan antisipatif ke dalam diri dan lingkungan kita. Terkait mental, yang harus diperiksa adalah model pendidikan kita yang hanya mengejar aspek fisik. Di situ kita harus mediskusikan habitus menurut perspektif Bourdieu.

Dalam Outline Of A Theory Of Practice, Bourdieu (1972) menjelaskan skema tindakan generatif. Menurut Bourdieu, membangun tindakan yang motifnya berasal dari dalam diri harus melibatkan tiga hal pokok di dalamnya yakni, habitus, modal dan ranah. Selanjutnya, dalam The Field of Cultural Production Essays on Art and Literature, Pierre Bourdieu (1993) menyebut habitus sebagai sistem disposisi yang berlangsung dalam waktu lama dan terus menerus serta dapat diterapkan (di-transpose) dalam beragam bidang kehidupan sosial. Di dalamnya, habitus merupakan struktur yang terstruktur berulang-ulang.

Struktur itu melibatkan semua aspek kehidupan manusia, baik sebagai individu subyek maupun manusia sosial dalam posisi sebagai obyek. Yang diulang adalah pengalaman masa lalu untuk terus dilakukan sekarang, di sini dan saat ini. Habitus merupakan proses sekaligus hasil. Disebut proses karena dibentuk sejak lama. Dan hasil karena habitus merupakan bentuk perilaku yang tampak atas pengulangan perilaku itu. Di ruang habitus, terjadi perkawinan yang melibatkan modal, kondisi objektif, habitus, disposisi, praktik, gaya hidup, sistem tanda, dan struktur selera.

Sinergisitas Sistem
Merujuk pada perspektif teoritik di atas, menarik untuk mengamati kebiasaan buruk masyarakat di sekitar tempat wisata dan perilaku busuk wisatawan yang membuang sampah di sembarang tempat. Sulit dibantah jika dalam empat hingga lima dasawarsa sebelum ini, semua konsep pembangunan di rumuskan secara sentralistik.

Halaman
12
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help