PosKupang/

Jadi Kapolda NTT, Ini Prinsip Hidup Agung Sabar Santoso

Kapolda NTT, Brigjen Pol Agung Sabar Santoso, menyadari bahwa adat dan peradaban sekarang sudah mulai hilang.

Jadi Kapolda NTT, Ini Prinsip Hidup Agung Sabar Santoso
Antara
AUDIENS-Kapolda NTT, Brigjen Pol Agung Sabar Santoso beraudiens dengan masyarakat adat dan peradaban di bawah pimpinan Meo Naek (Panglima Besar) Teflopo (kanan), di Mapolda NTT, Rabu (15/3/2017).

- Laporan Wartawan Pos Kupang, Benny Dasman

POS KUPANG.COM, KUPANG-Kapolda NTT, Brigjen Pol Agung Sabar Santoso, menyadari bahwa adat dan peradaban sekarang sudah mulai hilang karena tak ada generasi bangsa yang berusaha untuk menghidupkannya kembali.

"Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Itulah prinsip hidup saya, dan saya selalu menekankan kepada para Kapolres di seluruh NTT untuk tahu adat dan budaya di suatu daerah agar bisa menjadi seorang pemimpin yang dihormati," kata jenderal polisi berbintang satu ini ketika beraudiens dengan Masyarakat Adat dan Peradaban (Los Palos-Noelsinas) yang dipimpin Meo Naek (Panglima Besar) Teflopo, di Mapolda NTT, Rabu (15/3/2017). Turut mendampingi Meo Naek Teflopo, Budayawan NTT, Prof. Dr. Felysianus Sanga, Mpd.

Sejak dilantik menjadi Kapolda NTT di Gedung Rupatama Markas Besar Polri, Jakarta, Rabu (4/1/2017) lalu, Agung Sabar Santoso baru pertama kali mengundang masyarakat adat dan peradaban untuk berdialog.

Pertemuan dengan mantan Kapolda Sulawesi Tenggara ini  selain untuk menyatukan persepsi tentang adat dan budaya dalam menjaga keamanan dan ketertiban bersama agar rakyat NTT hidup penuh dengan kedamaian dan kenyamanan dalam ikatan Bhineka Tunggal Ika, juga sebagai bagian dari pernyataan ucapan selamat karena dalam beberapa hari lagi akan ada kenaikan tingkat Polda NTT menjadi tipe A.

Artinya bahwa Kapolda Agung Santoso akan juga mengalami kenaikan pangkat dari Brigjen Pol menjadi Inspektur Jenderal (Irjen) Polisi dengan pangkat dua bintang.

Menurut Kapolda Santoso, para pemangku adat dan budaya memiliki sebuah kekuatan yang tidak nyata yang tidak dimiliki oleh semua orang, karena mereka adalah bagian dari sebuah perutusan masa lalu.

Masyarakat lapisan bawah, diakuinya, adalah masyarakat adat yang memiliki kekuatan adat dan menjadi penjaga kebudayaan suatu daerah agar tidak punah. "Di mana pun saya bertugas, saya selalu memilih beraudiens dengan para tokoh adat dan masyarakat, karena mereka adalah kekuatan inti dalam masyarakat yang patut kita hargai sebagai orang yang berbudaya," ujarnya. *

Penulis: benny_dasman
Editor: benny_dasman
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help