Inilah "Pesan Ahok" di Masa Tobat

Pertobatan yang benar ditunjukkan dengan perubahan sikap. Siap keluar dari zona nyaman rakitan diri sendiri.

Inilah
Kompas.com/Kurnia Sari Aziza
Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok 

Oleh: Romo Ino Nahak Berek, Pr
Pastor Pembantu Paroki Nualain, Keuskupan Atambua

POS KUPANG.COM - Berita seputar Ahok selalu kontroversial. Tergantung siapa yang menilainya. Sosok Ahok ketika tampil di hadapan publik selalu dibayangi kisah unik. Seperti apa pribadi Ahok? Mengapa ia (baca:Ahok) dibenci lawan politiknya? Wajar dan normal. Dalam kaca mata insani memandang rendah orang lain menjadi hal lumrah. Bisa diterima sebagai bias sesaat untuk bermenung. Mungkin ada nilai guna. Ada apa di balik semua peristiwa yang dialaminya? Sekedar berita tanpa umpan balik untuk ditanggapi?

Bisma Alief Laksana dalam detiknews merilis berita. Ahok: Siapa pun Gubernur DKI Jika Tak Normalisasi Pasti Nggak Kerja (Senin, 20/2/2017). Hal mendasar yang menjadi target. Kerja bisa mengatasi masalah. Menemukan solusi untuk mencapai hidup yang memerdekakan. Kata Ahok, banjir Jakarta bisa dikurangi dengan normalisasi sungai. Ada komitmen kuat dalam diri Ahok. Keinginan terbesar terbaca sangat kental. Berjuang demi kepentingan banyak orang.

Menimba kekuatan dengan menumbuhkan kepedulian. Namun benturan yang dialaminya sungguh hebat. Cobalah berkaca pada fakta. Seperti apa pribadi Ahok menurut bisikan nurani?

Perputaran waktu pasti tinggalkan ceritera. Walau usang tapi membekas untuk diretas. Belajar dari pengalaman yang dijumpai. Memang menarik. Menyimak kisah hidupnya selalu saja menginspirasi. Militan dalam perjuangan. Fokus pada tujuan hidup. Tak pernah takut jika berhadapan dengan para penentang. Ini pelajaran berharga. Berupaya membangkitkan sisi kehidupan sebagai pejuang di era modern. Memang menekuni cara hidup seperti Ahok bukan perkara gampang. Butuh upaya maksimal. Tenaga ekstra. Siap mental untuk memantapkan langkah.

Keberanian untuk memulai menjadi hal penting. Fokus pada tujuan. Setia pada pekerjaan. Tidak semata mengungkap ide tapi menyentuhnya dengan aksi nyata. Pekerjaan akan menghasilkan nilai bila menyentuh kebutuhan dasariah manusia. Orang merasa nyaman. Komunikasi pun bisa berjalan sesuai harapan. Bahkan terbuka ruang untuk membangun relasi humanis. Segala kemungkinan bisa terjadi. Intinya bila bekerja menurut kata hati. Bertindak tanpa kepalsuan.

Masa tobat kini datang lagi. Tentu selama 40 hari seluruh hidup dibingkai dalam kata pertobatan. Masa prapaskah. Inilah retret agung yang dimaknai Gereja sebagai kesempatan emas untuk pembaharuan. Bukan sekedar perayaan seremonial. Berjalan tanpa tujuan. Seakan mengalir tanpa ketakpastian. Pemaknaan yang lebih mendalam patut dimulai dari sekarang. Berani membuka diri untuk peduli kepada sesama. Siap berkorban demi kehidupan yang layak.

Masa tobat tidak diartikan dalam konteks harafiah. Semata `perjalanan pulang' untuk mengalami hidup baru. Namun terpenting menata sikap dengan berani berbuat. Mengabdi dengan kesadaran penuh pada tujuan akhir. Bertanggung jawab akan tugas yang diemban. Di sini bisa nampak target. Tujuan hidup yang sejati terlihat dari mengubah masa lalu yang kelam. Memulai masa kini dengan sukacita. Menatap masa depan penuh harapan. Berani memulai tanpa menunda.

Tepat diulas jika prapaskah perlu diartikan sebagai tindakan memberi sebagai wujud konkrit perwujudan iman. Seturut pesan Paus Fransiskus agar masa prapaskah 2017 dimaknai sebagai pertobatan sejati yang menghantar kita kepada kemenangan Paskah. "Seorang kristiani dipanggil untuk kembali kepada Allah dengan segenap hatimu," (bdk.Yoel 2:12). Saling mendoakan dan mampu membuka pintu-pintu hati kita kepada mereka yang lemah dan miskin (sumber:penakatolik.com). Seruan kenabian yang menggerakkan hati. Berani berbagi dalam kekurangan. Rela memberi dengan keikhlasan.

Bergulat dengan masalah kebangsaan yang terjadi. Beragam polemik dihadapi. Terlebih sorotan publik pada figur Ahok. Mata hati kita digerakkan untuk berbicara. Berkata tentang kebenaran yang diredam golongan tertentu. Siap bersaksi akan keadilan yang perlahan redup oleh kepentingan sepihak.

Menanggalkan mantel kekuasaan untuk melayani tanpa mengejar maunya dunia. Keberanian diperjuangkan. Membuka diri untuk mengambil bagian dalam derita sesama. Kesaksian hidup dibutuhkan. Diperjuangkan tanpa takut akan apa yang terjadi. Bukankah ini sungguh menantang? Masa tobat memberi arti untuk kita perdalam iman.

Pertobatan yang benar ditunjukkan dengan perubahan sikap. Siap keluar dari zona nyaman rakitan diri sendiri. Terdiam dalam kepentingan semu. Bukalah hati untuk siap berbagi. Ulurkan tangan bagi mereka yang terkurab dalam ketakberdayaan. Hapuslah air mata anak negeri yang kehilangan kasih sayang. Biarkan damai yang dirasakan menjadi bagian hidup untuk dialami bersama. Merangkul yang terbuang. Mendekatkan yang jauh. Itulah tobat yang sejati. Langkah Ahok dengan keberaniaannya. Sikap Ahok dengan kejujurannya. Air mata Ahok karena kecintaannya bagi kaum marginal, seakan menjadi tinta emas yang bisa digoreskan di hati kita.

 Mengubah dunia tidak membutuhkan kekuatan lautan manusia. Cukup satu orang. Siap `bertarung' dengan keberaniaannya. Kesaksian hidup yang menggugah banyak orang menjadi langkah tepat mengubah wajah dunia. Kata Mother Theresa: Jangan menunggu datangnya seorang pemimpin. Lakukan saja sendiri, orang per orang. Jangan remehkan hal-hal kecil karena di situlah kekuatan anda berada. Jadikan masa tobat kesempatan emas meraih mimpi menjadi kenyataan penuh sukacita. Bukan sekedar kata indah tapi tindakan nyata dalam kasih dan kebenaran. *

Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help