Berita Sumba

Ini Alasannya, Kenapa kain Sumba Timur itu Harganya Mahal

Pasalnya setiap lembar motif kain yang dijual oleh para pengrajin bisa mencapai Rp 5 juta.

Ini Alasannya, Kenapa kain Sumba Timur itu Harganya Mahal
POS KUPANG/JHON TAENA
Seorang ibu sedang menenun kain Sumba 

Laporan Wartawan Pos Kupang, John Taena

POS KUPANG.COM, WAINGAPU -- Kain tenun ikat Sumba Timur boleh dikata cukup mahal. Pasalnya setiap lembar motif kain yang dijual oleh para pengrajin bisa mencapai Rp 5 juta.

Penggunaan bahan alami dalam proses pembuatan kain adalah salah satu alasan yang nilai jual motif kain tenun ikat di daerah itu terlampau mahal.

"Kenapa kita pakai bahan alami? Karena kain tenun ikat juga kami pakai untuk membungkus dan mengawawetkan jenasah," demikian Umbu Rihi (44), warga Kampung Kalu, RT 15, RW 05, Kelurahan Prailius, Kecamatan Kambera, Sumba Timur.

Kepada Pos Kupang, di kediamannya, dia menjelaskan setiap motif yang dilukis dalam lembaran-lembaran kain tenun ikat daerah itu memiliki maknanya masing-masing. Salah satu contohnya adalah mengisahkan tentang proses pemakaman raja-raja di daerah itu.

Evi Zainal Abidin tengah berpose sambil mencium kain tenun Sumba.
Evi Zainal Abidin tengah berpose sambil mencium kain tenun Sumba. (POS KUPANG/YENI RACHMAWATI)

"Misalnya cerita tentang penguburan raja-raja mulai dari proses awal kematiannya bisa dilukiskan dalam sebuah kain. Motif yang dilukis itu bisa menceritakan."

Para pengrajin di daerah itu, lanjutnya membutuhkan waktu paling cepat empat hingga lima bulan untuk menghasilkan satu lembar kain motif tenun ikat.

Proses pembuatan motif kain tenun ikat setempat yang membutuhkan waktu cukup lama itu disebabkan oleh masalah bahan.

Baca: Ratu Wulla Talu Perkenalkan Tenun Ikat Sumba

"Semua bahan yang dipakai itu alami. Tidak ada yang pakai produk pabrik makanya proses pembuatan kain tenun ikat itu lama. Misalnya benang, kita pintal benang sendiri. Untuk pewarna pakai bahan alami dan harus direndam berhari-hari supaya menghasilkan hasil yang berkualitas," tandasnya. (*)

Penulis: John Taena
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help