PosKupang/

Indonesia Miliki 1.340 Suku, Prof Sanga Tanya, Bagaimana Temukan Unsur Tunggal Ika-nya?

Adat dan peradaban masyarakat Indonesia saat ini sudah diambang kepunahan, karena sudah hampir tidak diperdulikan lagi oleh generasi bangsa saat ini.

Indonesia Miliki 1.340 Suku, Prof Sanga Tanya, Bagaimana Temukan Unsur Tunggal Ika-nya?
istimewa
Felysianus Sanga

- Laporan Wartawan Pos Kupang, Benny Dasman

POS KUPANG.COM, KUPANG-Budayawan Nusa Tenggara Timur Prof. Dr. Felysianus Sanga MPd mengatakan adat dan peradaban masyarakat Indonesia saat ini sudah diambang kepunahan, karena sudah hampir tidak diperdulikan lagi oleh generasi bangsa saat ini.

"Generasi muda kita lebih cenderung kebarat-baratan, dan jarang berkunjung ke museum untuk menemukan akar budayanya, padahal di sana (museum) kita bisa menemukan adat dan peradaban," kata guru besar dari Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang itu saat beraudiens dengan Kapolda NTT Brigjen Pol Agung Sabar Santoso di Kupang, Rabu (15/3/2017).

Audiens tersebut dipelopori oleh Meo Naek (Panglima Besar) Teflopo, pemimpin 108 suku di Timor, untuk menyatukan persepsi tentang adat dan budaya dalam menjaga keamanan bersama agar rakyat Nusa Tenggara Timur hidup penuh dengan kedamaian dan kenyamanan dalam ikatan Bhineka Tunggal Ika.

Dalam pandangan Prof Dr Felysianus, unsur ke-Bhinekaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sudah diakui oleh semua elemen bangsa, namun untuk menemukan unsur Tunggal Ika-nya, hanya lewat laut dan selat yang menyatukan serta Bahasa Indonesia yang mempersatukan.

"Lalu bagaimana untuk menemukan unsur Tunggal Ika dari adat dan peradaban bangsa Indonesia yang memiliki 1.340 suku bangsa ini? Karena masing-masing budaya memiliki kekuatan yang unik dan magnis serta misterius yang merupakan warisan leluhur dalam tata adat dan peradaban," katanya.

Menurut dia, pada masing-masing adat dan peradaban itulah yang menyimpan nyawa dan kekuatan saktinya Tunggal Ika, namun untuk menemukan kembali kekuatan sakti Tunggal Ika di zaman sekarang, masih merupakan sebuah pekerjaan rumah.

"Sepanjang kita belum menemukan unsur inti adat dan beradaban itu maka kita bisa disebut biadab. Ini kata yang teramat kasar untuk diucapkan, namun dengan terpaksa dikatakan, karena zamannya telah mengubah keberadaan generasi muda," katanya. *

Penulis: benny_dasman
Editor: benny_dasman
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help