PosKupang/

Alkohol dan Konsumsi Kompulsif

Sebagai ritus yang telah melembaga, produksi dan konsumsi minuman beralkohol adalah fenomena multidimensi, mencakup

Alkohol dan Konsumsi Kompulsif
Shutterstock
Ilustrasi 

Joseph Robert Daniel
Peneliti di IRGSC, Co-founder Komunitas Riset Kesejahteraan Konsumen

POS KUPANG.COM - Minuman beralkohol adalah produk sosial-budaya. Konsumsinya merupakan `ritus sosial' yang telah tertenun dalam tradisi hidup bangsa Indonesia selama kurang lebih 700 tahun lamanya (The Economist, 13/1/2017).

Sebagai ritus yang telah melembaga, produksi dan konsumsi minuman beralkohol adalah fenomena multidimensi, mencakup di antaranya persoalan mata pencaharian, pelestarian alam, cara hidup dan identitas sosial. Meski demikian, problem yang tetap dihadapi di berbagai peradaban adalah ketika ritus itu dirayakan tanpa kendali yang berarti hingga mencapai taraf yang membahayakan kesehatan pribadi dan kesejahteraan masyarakat (society well-being).

Terkait kesehatan, dalam "Global Status Report on Alcohol and Health" yang dipublikasikan oleh WHO tahun 2014 tercantum bahwa konsumsi minuman beralkohol secara berlebihan dapat meningkatkan resiko peminum terkena tekanan darah tinggi, penyakit jantung, gangguan liver, diabetes, dan juga kanker.

Konsumsi alkohol berlebihan juga diasosiasikan dengan gangguan neuropsikiatri seperti epilepsi, depresi dan kecemasan, serta menjadi faktor yang memoderasi tindak-tindak kriminal seperti kekerasan dan pemerkosaan. Konsumsi alkohol juga ditengarai memberi pengaruh buruk pada produktivitas individu, yang akhirnya memiliki efek lanjutan pada kinerja organisasi maupun kualitas-hidup lingkungan sosial (e.g. keluarga, komunitas, tempat kerja) di mana individu itu berada.

Jika memang konsumsi alkohol memiliki resiko kesehatan dan sosial yang serius, mengapa orang mau mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan? Studi perilaku konsumen melabeli perilaku semacam ini sebagai konsumsi kompulsif, yang dihubungkan dengan hasrat tak terbendung konsumen untuk memperoleh, menggunakan, atau merasakan sesuatu secara berulang-ulang hingga taraf yang berpotensi menimbulkan kerugian pada dirinya sendiri dan atau orang lain.

Sebuah studi fenomenologis yang dilakukan oleh Thomas O'Guinn dari Universitas Illinois dan Ronald Faber dari Universitas Minneasota, Amerika Serikat, mengungkapkan bahwa tipe konsumen kompulsif cenderung memiliki problem dalam meregulasi hasrat, memiliki rasa penghargaan diri (self-esteem) yang rendah, dan lebih mudah tergoda pada hal-hal menyenangkan dibandingkan konsumen normal. Penelitian lain dari Helga Dittmar, seorang pakar perilaku konsumen dari Universitas Sussex di Inggris menyebutkan bahwa konsumen biasanya terjerumus dalam perilaku kompulsif untuk menutupi kesenjangan antara gambaran diri yang sebenarnya (actual-self) dan gambaran diri yang didambakan (desired-self).

Konsumsi barang, layanan, maupun aktivitas adalah sarana bagi konsumen untuk menjadi sosok yang didambakannya secara pribadi. Penelitian dari Helga ini dipublikasi di Journal of Social and Clinical Psychology. Konsumsi kompulsif juga sering menjadi mekanisme untuk menghadapi, menekan, mengendalikan, atau menghindari perasaan-perasaan negatif.

Jika kondisi psikologis yang rentan membuat orang mudah berperilaku kompulsif, apa kiranya yang membuat minuman beralkohol menjadi objek menarik bagi perilaku kompulsif itu? Simbol subjektif atau makna yang diberikan terhadap minuman beralkohol dan pengalaman konsumsinyalah yang menjadi pemicu. Meski tak jarang dihindari karena efek negatif yang bisa ditimbulkan, konsumsi minuman beralkohol kerap diasosiasikan dengan "kesenangan", "relaksasi", "kehangatan", "keakraban", dan juga "keramahtamahan".

Minuman-minuman beralkohol tertentu juga sering menjadi simbol status sosial dan kesuksesan, sebagaimana diungkap oleh sekelompok peneliti dari Universitas Copenhagen yang dipimpin oleh Margaretha Jarvinen dalam sebuah studi yang dipublikasi di Journal of Consumer Culture. Pilihan jenis minuman mensinyalkan selera dan kedudukan sosial yang dimiliki konsumen bersangkutan. Pada kalangan tertentu, konsumsi alkohol berlebihan juga membuat orang mendapatkan penghargaan dan perhatian yang karenanya mempererat relasi sosial peminum bersangkutan dalam lingkungan sosialnya.

Berdasarkan studi-studi yang diulas di atas dapat dicermati konsumsi minuman beralkohol juga merupakan perkara psiko-sosial. Terkait dengan kompulsifitas, kemampuan kontrol-diri konsumen menjadi pokok sentral. Intervensi terhadap perilaku konsumsi kompulsif baiknya dipumpun pada peningkatan kemampuan konsumen terkait hal tersebut. Dengan asumsi bahwa konsumen adalah pengambil keputusan yang peduli pada kesehatannya, salah satu cara yang dapat ditempuh adalah memberinya informasi yang tepat.

Hal ini bisa dilakukan dengan mengampanyekan bahaya-bahaya konsumsi alkohol berlebih pada kesehatan pribadi maupun kesejahteraan masyarakat melalui berbagai media dan strategi, tentu dengan tetap menghormati tradisi budaya yang ada. Hal ini pada hakekatnya bertujuan untuk menstimulasi kontrol-diri dan memerangi persepsi, pemahaman, dan pemaknaan-pemaknaan sesat (misguided) yang telah diyakini begitu saja oleh konsumen hingga terjerumus pada perilaku konsumsi alkohol beresiko.

Kampanye ini juga perlu dilengkapi dengan pemetaan berkala jenis-jenis minuman, evaluasi kadar alkohol, dan penentuan standar konsumsi yang rendah resiko bagi konsumen Indonesia. Dengan informasi tersebut konsumen dapat mengetahui jenis minuman beralkohol apa yang boleh untuk dikonsumsi olehnya, dan pada tataran mana konsumsinya itu dapat mengancam kesehatan dirinya.

Di samping itu, penciptaan lingkungan sosial yang lebih kondusif bagi konsumen untuk mengekang kompulsifitas dan merawat kontrol diri juga diperlukan. Hal ini antara lain bisa ditempuh dengan membangun sentra-sentra rehabilitasi khusus bagi pecandu alkohol, baik oleh pemerintah maupun swadaya masyarakat, di daerah-daerah yang memiliki prevalensi peminum alkohol tinggi agar konsumen memiliki akses terhadap penanganan medis dan psikologis.

Dengan cara-cara demikian, harapannya, ritus sosial konsumsi minuman beralkohol yang telah berumur ratusan tahun ini dapat dirayakan secara lebih baik dan bertanggung jawab tanpa mencederai tatanan sosial yang melahirkan ritus itu sendiri. *

Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help