Peran Keluarga dalam Pendidikan Anak

Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara (1997:374) mengatakan alam keluarga adalah suatu tempat yang

Peran Keluarga dalam Pendidikan Anak
ilustrasi

Refael Molina
Anggota Forum Penulis NTT

POS KUPANG.COM - Pesatnya kemajuan di era globalisasi dewasa ini menuntut persaingan di berbagai aspek kehidupan, baik sosial, politik, ekonomi, budaya, pendidikan, kesehatan dan lain-lain. Salah satu instrumen penting dalam menghadapi tuntutan persaingan global yang kian pesat adalah tersedianya pendidikan yang memadai bagi generasi bangsa sejak dini. Untuk menyediakan pendidikan bagi generasi bangsa sejak dini, maka peran keluarga sangat dibutuhkan dalam pendidikan anak.

Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara (1997:374) mengatakan alam keluarga adalah suatu tempat yang sebaik-baiknya untuk melakukan pendidikan individual dan pendidikan sosial, sehingga boleh dikatakan keluarga adalah tempat pendidikan yang lebih sempurna sifat dan wujudnya daripada pusat-pusat pendidikan lainnya, untuk melangsungkan pendidikan ke arah kecerdasan budi pekerti (pembentukan watak individual) dan persediaan hidup kemasyarakatan.

Pada tataran ini, dapat dipahami bahwa pola interaksi dan pendidikan orangtua sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter, bahkan perkembangan dan pencapaian prestasi anak dalam pendidikan formal. Keterlibatan orangtua memiliki pengaruh langsung dan paling kuat pada kesejahteraan anak terkait perkembangan fisik, kognitif, psikososial dan emosionalnya. Meski demikian, orangtua bukan merupakan instrumen tunggal yang bertanggungjawab terhadap kesejahteraan anak.

Namun, pemerintah dan masyarakat memiliki peran penting, karena interaksi anak dengan keluarga dan lingkungan yang lebih luas akan membentuk perkembangan anak itu. Sejalan dengan itu, Konvensi Persatuan Bangsa-Bangsa tentang Hak Anak pada 1990 dan Peraturan Presiden tahun 2013 tentang Pengembangan Anak Usia Dini Holistik-Integratif (PAUD HI) menetapkan kerangka kerja yang menyerukan keterlibatan pemerintah, lembaga dan masyarakat.

Sebuah studi yang dilakukan Harlen dkk (2001) tentang sistem pembinaan profesional dan cara belajar siswa aktif menunjukkan kemitraan dan peran aktif orangtua di sekolah berpengaruh meningkatkan kemajuan dan kesuksesan anak-anak mereka. Selain itu, penelitian yang dikakukan World Bank (2013) tentang dampak program pendidikan dan pengembangan anak usia dini di 50 kabupaten tertinggal menunjukkan bahwa intensitas dukungan keluarga berpengaruh meningkatkan pencapaian perkembangan anak usia dini (usia 0-6 tahun).

Dengan demikian, penguatan peran keluarga terhadap pendidikan anak perlu didukung semua pihak.

Pendidikan keluarga dapat dikenal dengan beragam istilah dan memiliki beragam wujud, seperti program pengasuhan, pendidikan keluarga dan lain sebagainya. Meskipun demikian, tujuan pendidikan keluarga, yaitu meningkatkan kesejahteraan anak dan keluarga dengan membangun kesadaran tentang pentingnya peran orangtua, sekaligus meningkatkan kontribusi mereka dalam perkembangan dan keberhasilan anak. Pada tataran ini, hemat penulis, pendidikan keluarga berhubungan erat dengan perkembangan anak usia dini (PAUD), karena intervensi PAUD mencakup mendidik dan mendukung orangtua, mengembangkan kapasitas pengasuh dan gunakan komunikasi massal untuk pertajam pengetahuan dan praktek orangtua dan pengasuh.

Berdasarkan perspektif ini, maka Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan membentuk Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga di bawah Direktorat Jenderal PAUD dan Pendidikan Masyarakat untuk mendukung penguatan peran keluarga dalam pendidikan anak. Sedangkan Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga dibentuk untuk meningkatkan keterlibatan dan kontribusi orangtua dalam pendidikan.

Menurut Roadmap of Family Education Direktorat ini akan bermitra dengan 33.000 unit pendidikan di seluruh Indonesia. Dan, 3.000 di antaranya akan dipilih untuk menjadi model unit pendidikan. Model unit pendidikan ini akan menerima dukungan fasilitas dan infrastruktur serta pengembangan kapasitas. Beberapa kementerian di Indonesia telah menyediakan layanan untuk meningkatkan kesejahteraan anak dan keluarga pada usia dini sejalan dengan amanat Peraturan Presiden Nomor 60 Tahun 2013 tentang Pendidikan Anak Usia Dini Holistik Integratif (PAUD HI).

Sebelum dibentuknya Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga di Kemdikbud, beberapa badan pemerintahan (termasuk Kementerian Kesehatan, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, dan Kementerian Sosial) dan LSM internasional (termasuk Plan Indonesia, Save the Children dan World Vision) telah menjalankan program terkait pendidikan keluarga.

Kelas Ibu yang dijalankan Kementerian Kesehatan disediakan untuk ibu hamil dan ibu balita. BKKBN menjalankan program untuk orangtua yang memiliki anak berumur 0-6 tahun dan sering berkoordinasi dengan program PAUD. Di sisi lain, Kementerian Sosial menjalankan dua program yang secara spesifik ditargetkan untuk keluarga miskin.

Program-program ini paling sering menawarkan kelas-kelas untuk para orangtua dan banyak yang menargetkan keluarga miskin atau keluarga di daerah miskin. Oleh karena itu, pemerintah setempat, baik RT, RW, Dusun, Desa atau Kelurahan diharapkan agar melakukan pendataan setiap keluarga di setiap wilayahya agar bisa mengetahui jumlah atau keluarga mana yang layak mendapatkan program-program tersebut. Hal ini perlu dilakukan agar bisa mengatasi kurangnya koordinasi dan ketersediaan data. Dengan demikian setiap keluarga bisa mendapat informasi yang sangat mereka butuhkan dan layanan pendidikan di saat kritis.

Memang harus diakui, tidak semua aspek PAUD sudah terkoordinasi. Namun dengan langkah-langkah tersebut, pemerintah dapat membangun sistem layanan PAUD yang solid dan dapat meningkatkan jumlah program PAUD. Ulasan di atas merupakan upaya untuk mendorong peran keluarga dalam pendidikan anak.

Oleh karena itu, untuk membentuk perkembangan dan pencapaian prestasi anak serta karakter anak, maka pola interaksi yang selama ini dilakukan orangtua terhadap anak harus didukung semua stakeholders (pemangku kepentingan). Pada tataran ini, bila keluarga ingin berhasil memberikan pendidikan anak, maka keluarga pun harus siap membuka diri terhadap semua stakeholders.*

Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help