Mendukung Perjuangan Perempuan

Perjuangan terhadap hak-hak perempuan sudah berlangsung sejak awal abad XIX. Hari Perempuan pertama kali dirayakan pada tanggal

Mendukung Perjuangan Perempuan
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
ilustrasi 

POS KUPANG.COM - Hari Perempuan Internasional atau dalam bahasa Inggris disebut International Women's Day dirayakan pada tanggal 8 Maret setiap tahun. Apa pentingnya hari ini sehingga mesti dirayakan?

Perjuangan terhadap hak-hak perempuan sudah berlangsung sejak awal abad XIX. Hari Perempuan pertama kali dirayakan pada tanggal 28 Februari 1909, namun baru tahun 1977, diresmikan sebagai perayaan tahunan oleh badan dunia Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).

Cerita tentang sejarah perempuan memperjuangkan haknya beraneka ragam. Panjang dan punya latar belakang yang berbeda-beda. Ada yang karena diawali dengan penindasan kaum buruh perempuan, ada yang karena perempuan belum mendapatkan hak yang sejajar sama seperti laki-laki, ada juga yang karena tak ingin selalu menjadi obyek laki-laki.

Kita mengenal perempuan dengan berbagai versi. Sebagai ibu rumah tangga, wanita karier, pembantu rumah tangga hingga aktivis pergerakan. Perempuan memiliki peran yang sangat sentral dalam keluarga dan masyarakat. Kepala keluarga adalah laki-laki, namun rumah tangga bisa sejahtera lahir dan batin jika dikelola seorang perempuan.

Lalu, bagaimana perjuangan perempuan di NTT? Apakah sudah selesai? Apakah hak-hak mereka yang diperjuangkan sudah diperoleh secara patut? Ataukah perjuangan itu masih panjang karena ada halangan yang menghadang?

Harus diakui masyarakat kita belum sepenuhnya memposisikan perempuan secara adil. Di beberapa tempat, perempuan tetap dianggap sebagai warga kelas dua setelah laki-laki. Budaya yang sudah mengakar itu sungguh tidak menguntungkan perempuan secara sosial, ekonomi pun politis. Dalam momentum pilkada di NTT, misalnya, tokoh perempuan yang kapasitasnya tak kalah dengan laki-laki masih jua dipandang sebelah mata oleh elite partai politik yang memang didominasi kaum pria.

Namun, bukan berarti perempuan NTT tak punya kiprah yang mengagumkan. Kita mengenal aktivis perempuan yang sangat kuat dalam pergerakannya. Sebut saja Mien Pattimangoe, Aletha Baun, Maria Loretha, Sarah Lery Mboeik, Mery Kolimon, Ince Sayuna, Maria Geong dan lainnya. Ada juga generasi berikut seperti An Kolin, Ansi Rihi Dara, Libby Sinlaeloe, Ana Djukana dan lainnya.

Nama-nama ini memiliki peran yang tidak bisa dikesampingkan dalam pembangunan di NTT. Punya kualitas, mereka bahkan melakukan aktivitas mengagumkan yang patut mendapat pengakuan. Saat ini peran perempuan tidak bisa kesampingkan. Itulah sebabnya mendukung perjuangan perempuan merupakan keniscayaan. Semakin banyak perempuan terlibat dalam pengambilan kebijakan publik, maka kesejahteraaan akan semakin dekat menghampiri.*

Penulis: PosKupang
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help