PosKupang/

Frans Lebu Raya : Segudang Pesona Obyek Wisata di NTT Butuh Rute Penerbangan Internasional

Frans Lebu Raya, mengatakan provinsi NTT membutuhkan rute penerbangan internasional untuk memperlancar arus kunjungan wisatawan

Frans Lebu Raya : Segudang Pesona Obyek Wisata di NTT Butuh Rute Penerbangan Internasional
KOMPAS/AGUS SUSANTO
Panorama di Pulau Kelor, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. 

POS KUPANG.COM, KUPANG -- Nusa Tenggara Timur (NTT) terutama Pulau Flores punya segudang pesona destinasi wisata. Gubernur NTT, Lebu Raya'>Frans Lebu Raya, mengatakan bahwa saat ini provinsi tersebut membutuhkan rute penerbangan internasional untuk memperlancar arus kunjungan wisatawan asing.

Hal itu disampaikan Frans saat kegiatan sosialisasi Transport Tourism Stimulus Package Kementerian Pariwisata bersama Staf Khusus Menteri Pariwisata Bidang Infrastruktur Judi Rifancantoro dan Tenaga Ahli Menteri Pariwisata Bidang Aksesibilitas Udara Robert D Waloni.

"NTT punya banyak obyek wisata yang menarik baik itu alam, budaya, maupun bahari. Namun, sampai saat ini belum ada rute penerbangan internasional ke NTT. Penerbangan langsung misal dari Singapura tentu akan semakin mendorong roda perekonomian daerah ini," tuturnya di ruang rapat Gubernur, Rabu (8/3/2017).

Frans memberi apresiasi dengan ditetapkannya Labuan Bajo sebagai salah satu dari 10 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional. Dalam tahun ini, kata Frans, pihaknya akan menyelenggarakan sejumlah kegiatan berskala internasional yakni Soekarno Month di Kota Ende, Tour de Flores, serta Festival Tenun Ikat dan Parade Kuda Sandelwood di Sumba.

Festival Tenun Ikat di Pulau Sumba rencananya akan dihadiri oleh Presiden Jokowi dan para Duta Besar. "Kami mengharapkan agar Badan Otorita Pariwisata Flores segera dibentuk, untuk mempercepat pertumbuhan pariwisata di daerah ini," ucap Frans.

Dalam kesempatan yang sama, Staf Khusus Menteri Pariwisata Bidang Infrastruktur, Yudi Rifancantoro, menjelaskan bahwa tujuan dari program Transport Tourism Package adalah untuk meningkatkan daya angkut udara wisatawan asing dari pasar-pasar potensial luar negeri, langsung menuju daerah-daerah destinasi.

"Kementerian Pariwisata menargetkan kunjungan turis pada tahun 2017 sebesar 15 juta orang. Ditargetkan international flight seat (kursi penerbangan internasional) sebesar 24 juta, namun yang disediakan Kementerian Perbubungan hanya 22 juta seat," jelasnya.

Kapasitas dua pintu utama penerbangan internasional, lanjut Rifancantoro, yakni Denpasar dan Cengkareng sudah sangat padat dan terbatas. Karena itu pihaknya ingin mengembangkan bandara internasional di daerah destinasi pariwisata yang prospektif. Selain itu, pihaknya juga ingin bekerja sama dengan Kemenhub, Angkasa Pura, maskapai penerbangan, dan Pemerintah Daerah demi mengejar kekurangan seat internasional itu.

Yudi mengaku, untuk memuluskan agenda tersebut, Kementerian Pariwisata menyiapkan dua stimulus yakni joint promotion dan incentive hardselling. Joint promotion ditujukan bagi penerbangan rute reguler baru. Biaya promosi maskapai untuk rute internasional dengan kedatangan di luar Denpasar dan Cengkareng akan ditalangi oleh Kementerian Pariwisata.

Sedangkan pola incentive hardselling ditujukan untuk maskapai charter internasional yang langsung ke tujuan destinasi wisata. Kementerian Pariwisata akan memberikan insentif uang per penumpang kepada maskapai tersebut.

Pihaknya pun mengharapkan peran serta Pemerintah Daerah berupa kesiapan atraksi budaya, akomodasi, infrastruktur dan keramahan masyarakat. Sementara itu, Tenaga Ahli Menteri Pariwisata Bidang Aksesibilitas Udara Robert D Waloni mengimbau agar Pemerintah Provinsi NTT melakukan berbagai upaya dalam merawat keaslian dan keindahan alam, budaya dan bahari di NTT.

Menurutnya, pemerintah harus segera mengupayakan dan memikirkan lahan bagi pendirian bandara berskala besar di NTT. Konektivitas udara, kata dia, merupakan salah unsur penting dalam pengembangan pariwisata karena 80 persen wisatawan menggunakan transportasi udara. (Kompas.Com)

Editor: Rosalina Woso
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help