NTT dan Alunan Berjuta Simfoni

Posisi NTT dalam kemiskinan sudah disampaikan kepada publik. Tak seorang pun membantah namun di luar itu

NTT dan Alunan Berjuta Simfoni
ilustrasi

Oleh Angela Regina Maria Wea
Warga Kota Kupang

POS KUPANG.COM - Posisi NTT dalam kemiskinan sudah disampaikan kepada publik. Tak seorang pun membantah namun di luar itu, sedikit sekali terdapat persesuaian pendapat. Setiap pembahasan mengawalinya dengan merumuskan seketat mungkin apa yang dimaksudkan dengan kemiskinan itu.Terlebih lagi adanya pertanyaan terhadap universalisme konsep kemiskinan.

Dalam masalah sosial-ekonomi-politik,ada adagium "beauty is in the eye of the beholder" kecantikan ditentukan oleh mata yang memandang: kalau ada seribu pasang mata maka ada seribu jenis kecantikan. Kadang-kadang orang gemuk dikatakan cantik, di saat lain lagi orang kurus mengambil alih posisi cantik. Semuanya atas nama kecantikan. Ini berarti antropologi meniadakan konsep universal kecantikan (Dhakidae, 2015).

Penduduk miskin selalu dikatakan sebagai bagian dari kelompok manusia yang tidak bersuara atau suaranya tak terdengar. Suara adalah syarat pertama untuk berbicara,maka kalau kelompok ini tidak bersuara, hampir pasti inilah kelompok yang tidak berkata-kata alias silent majority. Hal ini memperpanjang misteri tentang kemiskinan yang begitu nyata, tetapi sekaligus juga begitu misterius.

Meskipun silent majority, bukan berarti mereka tidak bahagia. Mereka menyanyi saat ke kebun, panen, dan bahkan pada saat kematian pun mereka melahirkan rasa sedihnya dengan melagukan sajak yang tersusun rapi dalam bentuk nyanyian. Timbul pertanyaan pantaskah kita menyatakan bahwa orang NTT itu miskin sementara banyak pendapat mengatakan orang miskin itu tidak gembira, kapan pun, di manapun mereka berada, dalam rumah kolong, rumah tanah, dan di pondok.

Max Weber, seorang Jerman pernah menulis ketika mengunjungi Flores sekitar tahun 1800-an, ia mendengar suara orang bernyanyi di padang rumput, di balik bukit dan lembah, di mana-mana ia mendengar suara orang bernyanyi dalam kelompok,sangat musikal, hal yang tidak ia temukan ketika berkunjung ke pulau lain seperti Jawa dan Sumatera.

Tentang kebahagiaan, Bob Sadino menulis, "Di saat kita memakai jam tangan seharga lima ratus ribu atau lima ratus juta, kedua jam itu menunjukkan waktu yang sama. Kita tinggal di rumah seluas lima puluh meter persegi atau lima ribu meter persegi kesepian yang kita alami tetap sama. Ketika kita terbang dengan first class atau economy class, saat pesawat terbang itu jatuh, kita semua jatuh". Ini membuat kemiskinan sulit dijelaskan bila dilihat dari konteks kebahagiaan, dan karena itu kita perlu mencari fenomena tersebut dalam konteks lain.

Konteks ekonomi-politik diharapkan mampu menjelaskan fenomena kemiskinan NTT. Dhakidae (2015) melukiskan NTT sebagai wilayah yang di dalam pelbagai analisis ekonomi-politik dimasukkan ke dalam kategori belum atau tidak disentuh sepenuhnya oleh aparat negara. Frans Seda yang perannya luar biasa mengubah peta sosial politik dan ekonomi negara ini, sempat mengalami semacam penyakit sosial yaitu kompleks rendah diri, minderwaardigheidcomplex, terutama karena latar belakang sosial dan ekonomis memaksanya untuk masuk ke dalam golongan minoritas kembar: minoritas etnis dan minoritas agama.

Dia berasal dari suatu wilayah yang tidak banyak artinya dalam pentas politik dan ekonomi bangsa ini (Dhakidae, 2015). Baru pada tahun 1904, setelah Perang Aceh, wilayah ini dimasukkan ke dalam administrasi kolonial Belanda. Namun, ini sama sekali tidak berarti bahwa kekuatan yang mendekati kekuatan negara tidak pernah menyentuh wilayah ini. Sejak pertengahan abad ke-15 mendekati abad ke-16, Portugis cukup memiliki kekuatan untuk menaklukkan beberapa daerah di wilayah ini. Namun, penguasaan secara birokratik tidak pernah berlangsung sampai Portugis dikalahkan Belanda tahun 1859. Demikian juga institusi tidak pernah tercipta. Satu-satunya lembaga yang bisa dibandingkan dengan suatu lembaga negara yaitu lembaga yang berurusan dengan rahmat, yaitu gereja.

Flores baru masuk ke dalam perhitungan Belanda ketika perjanjian dengan Portugis tahun 1851 menyerahkan Flores kepada Belanda. Itu pun terhadap Flores adalah "onthouding", menjaga jarak, "niet bestuuren", tidak memerintah, atau yang secara tegas dikatakan "tidak memerintah, menjauhkan diri dari semua urusan, cukup dengan mengawasi".

Halaman
12
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help