Abu vs Politikus Abu-abu

Tanpa bermaksud mengabaikan makna abu seperti ini, izinkanlah saya mengelaborasi makna abu terkait

Abu vs Politikus Abu-abu
ilustrasi

(Sebuah "khotbah" politik Prapaskah)

Oleh Inosentius Mansur
Rohaniwan Katolik dari Seminari Ritapiret, Maumere

POS KUPANG.COM - Umat Katolik kini memasuki masa prapaskah. Rangkaian masa ini dimulai hari Rabu Abu, terutama saat umat menerima abu. Abu adalah tanda pertobatan (Maryanto, 2004). Itu berarti penerimaan abu mesti berdampak positif, baik secara internal (ke dalam diri) maupun secara sosial. Orang-orang Katolik diajak untuk mendesain pola tingkah dan merancang kiprah agar sesuai dengan ajakan Kristus: "bertobatlah dan percayalah kepada Injil" (Mrk. 1:15). Selain itu, abu juga dapat dijadikan pijakan refleksi orang-orang beriman, bahwasannya manusia berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah.

Tanpa bermaksud mengabaikan makna abu seperti ini, izinkanlah saya mengelaborasi makna abu terkait sikap abu-abu para politikus. Ulasan ini bermaksud mengajak para politikus -terutama yang menerima abu -agar tampil sebagai figur yang miliki opsi dan sikap keberpihakan jelas bagi kebaikan rakyat.

Politikus Abu-Abu
Salah satu "penyakit kronis" yang melanda perpolitikan nasional akhir-akhir ini adalah munculnya politikus abu-abu. Yang saya maksudkan di sini adalah politikus yang tidak memiliki sikap dan keberpihakan jelas terhadap kebaikan bersama.

Alih-alih berpihak pada rakyat, sikap politik mereka justru menyingkirkan rakyat sambil mengakomodir kepentingan yang didesain secara parsial. Mereka tampaknya berada bersama rakyat, tetapi di balik itu sesungguhnya "mendiskreditkan" rakyat. Ya, harus diakui panggung demokrasi kita seringkali diisi para politikus yang memelintir politik untuk kepentingan pragmatis.

Orientasi politik pun disetir seturut selera mereka. Rujukan dalam mengambil sikap adalah keuntungan politis dan bukannya kemaslahatan bersama. Efeknya, prasksis politik acapkali menyangkal esensi politik sebagai instrumen artikulatif, tidak mengejawantahkan harapan publik.

Gawatnya lagi, para politikus secara apik memainkan praksis politik bunglon. Para politikus acapkali terampil berpura-pura demi menjamin eksisntensi politik mereka. Tidak ada sikap dan keberpihakan yang jelas kepada rakyat. Satu-satunya kepastian sikap politik mereka adalah ketidakpastian dalam mengambil sikap untuk membela rakyat.

Esensi eksistensi mereka pun diabaikan. Seolah-olah membela rakyat, tetapi faktanya hanya mengadvokasi apa yang mereka inginkan. Mereka berjuang seakan-akan atas nama dan demi kepentingan rakyat, tetapi kenyataannya mengeliminasi rakyat.

Mereka gampang mengalihkan dukungan atau sikap politik asalkan hal itu memberi efek (keutungan) kuantitatif bagi kiprah politik mereka. Celakanya, sikap yang gampang diombang-ambingkan ini tanpa tedeng aling-aling mencabut rakyat dari centrum demokrasi. Benarlah jika dikatakan bahwa para politikus kita umumnya menunjukkan wajah abu-abu, bermain pada ranah abu-abu, tujuan gerakan serta orientasi keterlibatan mereka juga seringkali abu-abu. Padahal, kalau kembali kepada fitrahnya, orientasi politik tidak pernah abu-abu. Orientasi politik sudah sangat jelas yaitu mengadvokasi dan mengartikulasikan cita-cita rakyat untuk meraih bonum commune.

Efek Restoratif
Tidak ada jaminan politikus kita yang juga menerima abu tidak terlibat dalam politik abu-abu seperti ini. Kita mesti secara sportif mengakui bahwa mereka telah mengambil peran sebagai politikus abu-abu, agitatif serta tidak memiliki sikap serta keberpihakan yang jelas bagi pengartikulasian harapan rakyat jelata. Karena itulah, kita berharap agar abu yang diterima mesti mendatangkan efek restoratif.

Dengan demikian, mereka harus "bertobat" dari sikap politik yang abu-abu dan kembali menjadi politikus sejati yang berpihak dan berpijak pada rakyat. Tentang hal ini, Konsili Vatikan II (GS) No. 1, secara elok mengatakan: "kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga".

Para politikus yang menjadi anggota Gereja dan menerima abu mesti menampilkan keberpihakan pada "duka dan kecemasan" rakyat dan pada akhirnya mampu membawa rakyat kepada situasi "kegembiraan dan harapan". Mereka mesti secara masif merestorasi diri dari praksis politik abu-abu yang justru merugikan rakyat.
Selain itu, mereka juga bisa mempengaruhi para politikus lain untuk mencurahkan pikiran dan tenaga bagi kepentingan rakyat. Sebagaimana Kristus yang menyelamatkan umat manusia, begitu jugalah para politikus itu. Sikap politik mereka mesti jelas yaitu "menyelamatkan" rakyat dari derita sosial.*

Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved