Merindukan Generasi Antisipatif

Musim hujan berdampak pada banyak hal dan ragam aspek. Banjir dan tanah longsor adalah ciri utamanya.

Merindukan Generasi Antisipatif
Akun Twitter TMC Polda Metro Jaya
Ilustrasi: Mobil-mobil nyaris tenggelam akibat banjir 

Oleh: Lasarus Jehamat
Dosen Sosiologi Fisip Undana

DI saat musim hujan seperti sekarang ini, wajar jika semua mata tertuju pada berbagai gejala alam. Laik jika perhatian banyak orang diarahkan pada implikasi dan dampak dari fenomena itu. Kerusakan fisik terjadi di mana-mana. Keluarannya adalah kesulitan masyarakat dalam Musim hujan berdampak pada banyak hal dan ragam aspek. Banjir dan tanah longsor adalah ciri utamanya. melakukan berbagai aktivitas.

Realitas itulah yang membuat banyak orang sibuk mencari solusi. Karena fenomena alam itu pulalah yang menyebabkan berbagai pihak baik secara sosial maupun individual mencari jalan keluar guna mengatasi fenomena hujan. Lepas dari semangat dan motivasi, usaha dan upaya serta kesibukan banyak orang tersebut, hemat saya, kita semua belum memiliki watak antisipatif. Masyarakat di satu sisi dan pemerintah di sisi yang lain; rakyat di sudut yang satu dan pemimpin di sudut yang lain.

Semua manusia Indonesia gemar bertindak `posfactum'. Berpikir setelah ada masalah. Sadar setelah mendapatkan akibat tertentu. Kita baru memikirkan strategi menghadapi musim hujan setelah ada tanah longsor; berpikir tentang strategi menghadapi banjir pada saat musim hujan tiba. Gugatannya, bagaimana kita bisa memahami realitas demikian?

Tulisan ini ingin membahas tentang bangsa minus antisipasi. Hemat saya, munculnya realitas seperti itu karena kita telah diajarkan menjadi bangsa instan. Negara terlampau mudah dijebak oleh hegemoni kolonial.  Selanjutnya, dalam cara yang berbeda, negara yang sama dijajah kesadaarannya oleh rezim kapitalisme global. Maka, bisa dimengerti mengapa daya ingat manusia Indonesia saat ini sangat terbatas. Kita menjadi manusia yang tidak antisipatif.

Jebakan Kolonialisme
Negara kita telah merdeka 71 tahun. Meskipun demikian, kita telah dijajah oleh bangsa lain ratusan tahun. Determinasi psikis menyebabkan bangsa ini menerima sesuatu yang baru dari luar sebagai sebuah kebenaran absolut. Maka, kita bisa memahami mengapa korupsi tumbuh subur di negara kita.

Pemerintahan kolonial telah mengajarkan bangsa ini menjadi bangsa yang sangat bergantung pada orang lain; mengajarkan bangsa ini menjadi bangsa yang suka meminta-minta bantuan. Akibatnya, kerja keras yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia masuk dalam jebakan pragmatisme akut. Kejujuran yang telah diturunkan nenek moyang sejak dulu takluk di bawah ketiak hipokriditas. Jadilah generasi kita menjadi generasi yang `harap gampang'; munculnya generasi hipokrit. Kita menjadi bangsa hibrit; bangsa yang kerdil. Kerdil pola pikir dan minus antisipatif.

Dalam Hybridity: Limits, Transformations, Prospects, Prabhu (2007) menjelaskan bahwa hibriditas merupakan produk kolonial. Hibriditas bangsa-bangsa jajahan disebabkan karena determinasi kolonialisme masuk sampai ke pusat kesadaran bangsa yang dijajah.

Ketika kekayaan alam dieksploitasi dan dibawa ke negara dan bangsa kolonial, rakyat dibuai dengan logika tetesan ke bawah. Soal besarnya adalah karena negara dalam diri para pemimpin kala itu diminta bergabung dan berselingkuh dengan penjajah. Dalam nama kerajaan, fee dan upeti menjadi sangat khas dan kental.

Pemerintahan kolonial meminta kerajaan membayar upeti atas semua usaha kolonial menjaga negara dan kerajaannya dari serangan musuh. Upeti merupakan bentuk lain dari apa yang disebut korupsi saat ini. Dalam langgam yang sama, masyarakat dibiarkan tidur karena kekayaan alamnya.

Masyarakat tidak pernah diajarkan cara mempertahankan hidup secara efektif dalam berbagai kondisi. Malah, dalam konteks tertentu, sistem sosial dibuat setergantung mungkin pada kerajaan agar kolonial bisa bertahan di Indonesia. Luar biasa. Jadilah kita manusia yang tidak siap dan minus antisipasi.

Konteks Kita
Jika boleh membaca realitas bangsa dan negara saat ini, sulit untuk tidak mengatakan bahwa bangsa kita memang menjadi terlampau kerdil. Kita tidak pernah menjadi bangsa yang memiliki tingkat percaya diri yang tinggi. Kita masuk pula dalam jebakan lain. Kalau dulu kolonial cerdas menjebak bangsa ini, sekarang, kapitalisme gemar menjadi bangsa ini menjadi bangsa uji coba. Kita menjadi terlampau `manja dan cengeng' menghadapi semua realitas; fisik, sosial, budaya dan ekonomi.

Payahnya, realitas itu didukung oleh pemimpin negara dan bangsa ini saat ini pula. Program pembangunan negara dan bangsa yang dirumuskan para elit kekuasaan Negara dan bangsa ini tidak pernah bervisi puluhan dan ratusan tahun. Rumusan kebijakan pembangunan terlampau tiba-tiba. Tidak hanya itu. kebijakan pembangunan kemudian berisi banyak sekali kepentingan.

Restorasi dan pendidikan integritas bisa dijadikan tumpuan. Tetapi harus dipahami bahwa jika aktor penggerak dua hal itu tidak memiliki kesadaran untuk segera keluar dari berbagai jebakan kolonialisme dan neokolonialisme kapitalis maka usaha restorasi dan upaya pendidikan integritas akan menemui jalan buntuh. Dibutuhkan sel-sel kecil untuk selalu mendiskusikan dan menyebarkan ide-ide kreatif dalam mencari dan menemukan kembali watak asli bangsa.

Pada level praksis, semua pihak tidak bisa hanya memikirkan kekeringan di saat hujan tiba. Di saat musim kering, pikiran harus tertuju pada banjir yang akan datang dimusim hujan. Sebaliknya, pada saat musim hujan, yang harus dipikirkan adalah kekeringan yang bisa muncul pada saat musim kemarau. Sama kasusnya jika masuk ke ruang kesehatan. Kita baru berpikir tentang sehat dikala sakit. Manusia kita enggan berpikir sehat dikala sehat. Kita buruh generasi antisipatif; generasi yang tidak hidup dalam kemapanan manipulatif. Kiat harus membiasakan diri berpikir tentang pergolakan dan konflik tetapi bukan menjadi agen dan aktor pergolakan dan konflik itu. Generasi antisipatif bisa muncul dari sana. Yakinlah!*

Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help