`Cover Nature'

Hasil karya yang kreatif mampu memikat khalayak untuk membaca dan mencari tahu informasi

`Cover Nature'
POS KUPANG/AGUSTINUS SAPE
Harian Pagi Pos Kupang meraih medali peraih sebagai cover terbaik se-Bali-Nusra 2017. 

Oleh: Drs. Willem B Berybe
Pernah Mengajar Mulok Jurnalistik di SMAK Giovanni Kupang

SERING kita dengar ungkapan seperti cover boy, cover girl. Atau, don't judge a book by its cover, bunyi sebuah sarkasme (cemoohan halus) berbahasa Inggris. Ungkapan pertama punya kaitan erat dengan sampul media cetak (majalah, tabloid) yang tak jarang menampilkan sosok artis muda (laki-laki atau perempuan). Ini dipandang bahwa dengan terpampangnya gambar atau foto sang artis pamor media tersebut semakin melejit di tengah masyarakat. Model kiat seperti ini adalah salah satu bentuk iklan (attractive advertisement) yang terselubung. Sebaliknya kata cover pada ungkapan kedua adalah sebuah analogi yang menggunakan benda buku sebagai medianya. Makna pesannya bahwa sesuatu yang berkualitas tidak selalu diukur dari sudut penampilan luar.

Media komunikasi
Dalam dunia komunikasi yang bersifat verbal (lisan) seperti berpidato (public speaking), menyeleksi topik untuk sebuah materi pembicaraan/pidato merupakan langkah pertama yang harus dikerjakan oleh si pembicara (penyusun). Pakar public speaking Stephen E. Lucas mengelompokkan topik-topik dimaksud dalam sembilan jenis (cluster) yaitu: people, places, things, events, processes, concepts, natural phenomena, problems, plans and policies (The Art of Public Speaking, Stephen E. Lucas, University of Wisconsin-Madison, 1983). Sosok seperti Joko Widodo, SBY, Megawati, Ahok, Donald Trump, Hillary Clinton, Pope Francis (people) sering menjadi topik pilihan dalam berbagai diskursus. Demikian percikan-percikan api intoleransi akhir-akhir ini menjadi masalah (problem) yang serius dan harus dicari solusinya. Kebhinekaan tidak boleh dikalahkan oleh reaksi kontra toleransi yang radikal. Peristiwa gempa Flores (event) 12 Desember 1992 yang menimbulkan gelombang raksasa tsunami, sebuah fenomena alam (natural phenomena) jadi kisah pilu bagi masyarakat NTT, khususnya Flores, bahkan seantero nusantara di ujung tahun.

Lalu bagaimana dengan komunikasi yang bersifat visual (media cetak) atau audio-visual (media elektronik)? Topik selalu menjadi komponen dan perhatian utama. Konten dari setiap produk melalui topik yang diangkat oleh setiap media massa senantiasa menjadi daya tarik bagi para konsumen. Topik tersebut muncul pada sampul muka surat kabar, majalah, dan tabloid yang biasa disebut cover. Tentu saja hasil karya yang kreatif mampu memikat khalayak untuk membaca dan mencari tahu informasi. Inilah kerja dunia jurnalistik (media cetak) yang berada di bawah manajemen perusahaan pers. Pengelolaan dan pemasaran produk media di bawah kendali perusahaan menjadi tulang punggung pers.

Pakar komunikasi menyebut media adalah `pemain' dalam pertandingan industri media cetak yang menyasar masyarakat pembaca dengan kata kunci ` to read and see' (membaca dan melihat). Artinya mereka senantiasa terbius oleh daya tarik tampilan dan konten (isi) sehingga berminat untuk melihat dan membaca. Julianne Schultz, wartawan surat kabar, radio dan televisi untuk program-program siaran Australia dan luar negeri, mengutip kata-kata Paul Keating, media companies could either be `princess of print `or `queens of the screen' yang melukiskan bahwa perusahaan media ibarat pangeran cetak atau ratu layar kaca (televisi) sebagaimana termuat dalam tulisan Julianne Schults berjudul Educating a New Generation of Journalist' (Australian Government Publishing Service Canbera, International Development Issues No.6; Australian Media's Treatment of the Developing World: How doesit rate? 1989, hal: 41).   

Cover nature
Berita Pos Kupang pada halaman satu edisi 4/2/2017 di bawah headline `Cover Pos Kupang Terbaik Se-Bali-Nusra' setidaknya membuat decak kagum. Pasalnya, harian pagi kecintaan warga Nusa Tenggara Timur ini menyabet medali Perak IPMA (Indonesia Print Media Award) 2017 se-Regio Bali-Nusra (NTB dan NTT). Sebuah ajang kontestasi sampul  muka (cover) media cetak se-Indonesia yang melibatkan surat kabar harian, majalah, tabloid. Pihak penyelenggara yaitu SPS (Serikat Penerbit Suratkabar) melakukan penilaian oleh dewan juri independen dalam kelompok region tempat media cetak tersebut terbit. Jadi ada region Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali-Nusra (NTB dan NTT), dll. Yang membanggakan koran-koran daerah tak mau ketinggalan dalam kompetisi bergengsi ini. Surat kabar lokal yang beroperasi jauh dari media ibu kota (Jakarta) atau yang terbit di wilayah Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, nota bene memiliki industri media cetak yang maju pesat baik dari segi profit maupun kualitas, ingin unjuk kebolehan dengan tampilan materi lomba yang kreatif dan inovatif juga.

Cover, sampul muka Pos Kupang yang mengambil tema alam (nature) berhasil menembus level terbaik (medali perak) dan merengkuh trofi penghargaan menampilkan grafis fenomena alam yaitu gerhana matahari total (GMT) pada 9 Maret 2016 lalu.  Sebuah gejala alam yang langka, penuh keajaiban, dan bersifat universal. Manusia di muka bumi dibuat penasaran. Rasa ingin tahu dan lihat seperti apa rupa matahari yang tidak normal itu tak terbendung.

Kali ini keberuntungan memihak Indonesia. Wilayah-wilayah tertentu mulai dari Lautan Hindia, Sumatera (Palembang), Kalimantan, Sulawesi (Palu dan Teluk Tomini) sampai Halmahera di Maluku berkesempatan mengalami gerhana matahari total tersebut secara utuh. Gara-gara GMT inilah seorang pelancong (traveller) sengaja datang ke Palu dan beberapa hari menjelang dan sesudah GMT tinggal di kampung Wayu, yang terletak di sebuah gunung bagian selatan Palu. Ia berhasil merekam moment tersebut dengan kamera selama 2 menit 30 detik. Tidak cuma mengambil gambar (foto), dia juga jadikan peristiwa ini sebuah penelitian tentang gerhana matahari dengan melibatkan diri sebagai nara sumber dalam Sulawesi Eclipse Festival yang diselenggarakan oleh kalangan kampus (www.beingintheshadow.com/eclipses/9-march-2016).   

Kreativitas dan naluri menangkap fenomena alam dengan cepat untuk disajikan sebagai sebuah informasi media dalam kemasan gambar/foto bersama narasinya lalu waktu publikasi yang tepat merupakan keunggulan sebuah media.

Selain prestasi di bidang sampul muka media (cover) dengan titik penekanan pada obyek gambar/foto, harian pagi Pos Kupang juga mampu bersaing dalam lomba penulisan artikel tingkat nasional. Penulis mencatat pada tahun 2010 sebanyak 10 koran lokal, termasuk Pos Kupang, yang berasal dari provinsi-provinsi kategori bergizi buruk ikut dalam lomba jurnalistik nutrisi tingkat nasional. Salah satu anggota tim juri ialah wartawan senior H. Rosihan Anwar. Hasilnya tiga surat kabar daerah menjadi pemenang yaitu Banjarmasin Post, Tribun Pontianak, dan Pos Kupang (C&R 639/THN XIII, 24-30 November 2010). Jadi antara cover dan konten (isi) media saling mendukung dan memperkuat publisitas.

"Di tengah perubahan tren pola konsumsi media yang cenderung bergeser ke media digital, media cetak dituntut lebih kreatif dalam mengemas konten. Salah satunya melalui tampilan cover. Kompetisi ini merupakan wahana mengukur pencapaian karya jurnalistik media cetak melalui kerja-kerja inovatif dan menginspirasi," demikian Ahmad Djauhar, Ketua Harian SPS menegaskan. Proficiat, Pos Kupang!*

Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help