Peternak di Amarasi-Kaupaten Kupang Perlu Pendampingan

Camat Amarasi Timur, Jakob Banesi mengatakan, peternak di wilayahnya jujur kemungkinan jumlah ternak sapi yang mati tidak hanya 70 ekor tetapi lebih d

Peternak di Amarasi-Kaupaten Kupang Perlu Pendampingan
POS KUPANG/JULIANUS AKOIT
Ilustrasi 

POS KUPANG.COM, OELAMASI -- Camat Amarasi Timur, Jakob Banesi mengatakan, peternak di wilayahnya jujur kemungkinan jumlah ternak sapi yang mati tidak hanya 70 ekor tetapi lebih dari itu.

Jakob mengaku, pemerintah kecamatan tidak punya data akurat soal jumlah ternak sapi yang mati selama bulan Januari 2017.

"Sebenarnya bukan rugi, tapi mereka berusaha untuk mendapat sedikit keuntungan dari sapi yang mati itu untuk kebutuhan rumah tangganya. Jadi, mereka bawa daging sapi yang sudah mati itu ke Rumah Potong Hewan (RPH) Oeasao untuk ditimbang. Mereka memberi alasan sapi mati karena terbelit tali atau digigit ular, bukan karena penyakit," ungkap Jakob, saat ditemui Pos Kupang di Desa Oebesi, Senin (30/1/2017) .

Ia mengatakan, agar ternak sapi tidak kena penyakit, peternak perlu pendampingan dari petugas Dinas Peternakan Kabupaten Kupang.

"Masyarakat di sini perlu pendampingan, baik kesehatan ternak maupun lingkungan di mana ternak itu hidup. Jadi, terkait kesehatan ternak sapi ini, perlu pendampingan khusus," saran Yakob.

Menurut dia, pendampingan terhadap peternak sapi di Amarasi Tmur sangat penting karena masyarakat setempat rata-rata memiliki ternak sapi. "Ibaratnya kalau tidak ada ternak sapi, itu bukan orang Amarasi, dan itu belum kaya. Namun, tidak semua masyarakat yang beternak sapi itu sukses. Karena itu, perlu pendampingan termasuk saol manajemen mengelola ternak sapi," kata Jakob.

Seperti diwartakan kemarin, selama bulan Januari 2017 sebanyak 70 ekor sapi milik peternak di Desa Pakubaun, Kecamatan Amarasi Timur, Kabupaten Kupang, mati mendadak. "Orang bilang ratusan ekor. Tapi saya sudah suruh petugas turun ke desa dan melaporkan cuma 70 ekor sampai dengan posisi, Sabtu (28/1/2017)," jelas Kadis Peternakan Kabupaten Kupang, Obed Laha, Sabtu (28/1/2017) malam.

Ia belum memastikan kematian ternak sapi itu disebabkan oleh apa. Cuma Laha menduga disebabkan penyakit ngorok. Sebab warga melaporkan kepada petugas, sapinya mengorok dengan suara keras selama beberapa jam lalu mati.

Ia mengaku sangat kesal karena kasus kematian ternak sapi ini sebenarnya karena kesalahan pemilik ternak. "Saat petugas ke kandang untuk memberi vaksin, pemilik ternak menolak dengan alasan yang tidak masuk akal. Sekarang sudah terserang wabah baru teriak minta tolong. Ya, sudah terlambat kok," tukas Laha. (ama)

Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved