PosKupang/

Menabung Air Bagi Generasi Kita

Majelis Sinode GMIT melihat bahwa jemaat di wilayah pelayanan GMIT, terutama di NTT, rentan kekeringan dan kelaparan.

Menabung Air Bagi Generasi Kita
POS KUPANG/HERMINA PELLO
LUBANG JEBAKAN AIR--Lubang jebakan air yang berada di halaman Kantor sinode GMIT. Gambar diambil Selasa (24/1/2017) 

POS KUPANG.COM - Gerakan Menanam Air yang digelorakan Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) patut disambut baik oleh seluruh warga Kota Kupang khususnya dan NTT umumnya. Air hujan yang berlimpah saat ini perlu ditabung ke dalam tanah, sehingga tidak terbuang begitu saja ke laut. Gerakan menanam air yang sudah berlangsung sejak tahun 2016 merupakan program prioritas GMIT, bisa dijadikan gerakan massal.

Majelis Sinode GMIT melihat bahwa jemaat di wilayah pelayanan GMIT, terutama di NTT, rentan kekeringan dan kelaparan. Keluhan ini mengemuka saat majelis mengunjungi jemaat di klasis-klasis di berbagai pulau di NTT pada tahun 2016. Jemaat mengalami kekeringan yang serius, sehingga mengancam tanaman produktif dan ternak peliharaan mereka.

NTT lebih rentan kekeringan karena topografi daerah yang berbatu. Salah satu upaya yang dilakukan gereja adalah mendidik masyarakat kembali bersahabat dengan alam. Pemanasan global dan kekeringan terjadi karena ulah manusia yang tidak ramah alam. Dengan demikian, tindakan iman adalah bersahabat kembali dengan alam. GMIT mengajak seluruh jemaat untuk melakukan gerakan menanam air secara masif di wilayah pelayanan GMIT.

Gerakan menanam air diawali dengan seminar. Itu berarti gerakan ini digelorakan setelah melalui kajian ilmiah. Pada seminar itu pengurus GMIT menghadirkan pihak-pihak yang peduli konservasi alam khususnya air. Di antaranya dosen UKAW Kupang Zet Malelak, aktivis CIS Timor yang selama ini bergerak dalam pelayanan pemberdayaan masyarakat, khususnya air dan Dirjen Air dari Kementerian Pekerjaan Umum. Dan, hal ini menjadi studi yang sangat serius. Studi diikuti pembangunan kesadaran jemaat dengan apa yang disebut bulan lingkungan.

Kita patut memberikan apresiasi kepada Majelis Sinode GMIT yang peka terhadap kondisi alam dan kesulitan jemaat yang mayoritas petani. Majelis Sinode GMIT memahami betul, air adalah segala-galanya. Air merupakan sumber kehidupan, tanpa air makhluk hidup di bumi ini, termasuk manusia, sulit hidup. Tanpa air petani tidak bisa bercocok tanam dengan baik. Hal ini akan berdampak pada kemiskinan seperti yang dialami NTT saat ini, menjadi peringkat tiga provinsi termiskin secara nasional.

Gereja terpanggil secara iman mendorong dan memotivasi jemaat untuk keluar dari belenggu kemiskinan. Langkah awal yang dilakukan, bagiamanan NTT yang kering ini harus dijadikan basah dengan berbagai rekayasa manusia. Rekayasa itu bisa melalui program menanam pohon maupun program menanam air dengan membuat jebakan agar air hujan tertampung di jebakan yang telah disiapkan, dan meresap ke dalam tanah. Dengan demikian, suatu saat tanah-tanah yang gersang akan menjadi lembab dan petani bisa menamam berbagai tanaman untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Kita menyambut baik program pemerintah membangun bendungan dan cekdam. Namun program besar pemerintah itu membutuhkan biaya yang besar dan teknologi yang memadai. Kondisi NTT yang masih miskin, membutuhkan pola pikir dan tindak yang sederhana, yang bisa dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat dan tidak membutuhkan biaya yang besar. Membuat jebakan air dengan menggali lubang, siapa saja bisa melakukannya. Hal ini tidak membutuhkan teknologi tinggi dan biaya yang besar. Majelis Sinode GMIT sudah mengkaji ini semua dan menggelorakan gerakan ini kepada seluruh jemaat.*

Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help