PosKupang/

Ratusan Ekor Sapi Betina Produktif Dijual Bebas di Pasar Ternak Lili

Ratusan ekor sapi betina produktif dijual bebas di Pasar Ternak Sapi Lili di Camplong, Fatuleu, Rabu (11/1/2017) dan Kamis (12/1/2017). Dan tidak ada

Ratusan Ekor Sapi Betina Produktif Dijual Bebas di Pasar Ternak Lili
POS KUPANG/JULIANUS AKOIT
Tampak sejumlah sapi betina produktif dijual bebas di Pasar Ternak Sapi di Lili Camplong. Ada sebagian yang diangkut pakai truk oleh saudagar hewan. 

Laporan Wartawan Pos Kupang, Julianus Akoit

POS KUPANG.COM, OELAMASI -- Ratusan ekor sapi betina produktif dijual bebas di Pasar Ternak Sapi Lili di Camplong, Fatuleu, Rabu (11/1/2017) dan Kamis (12/1/2017). Dan tidak ada pengawasan dari Pemkab Kupang.

Padahal penjualan sapi betina produktif dilarang oleh pemerintah sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

"Petugas cuma tarik retribusi saja untuk PAD. Dan tidak peduli terhadap aturan larangan jual-beli sapi betina produktif," jelas Yos Kefi, salah satu saudagar hewan yang ditemui Kamis (12/1/2017)pagi di Pasar Ternak Lili di Camplong.

Ia mengatakan kesalahan bukan saja oleh pemilik sapi, tapi juga oleh pemerintah desa/keluarahan setempat. Karena membuat surat pengantar atau keterangan izin pengeluaran (penjualan) sapi betina produktif. Berikutnya, petugas harus tegas ketika sapi tiba di Pasar Ternak Sapi di Lili.

"Jadi kesalahan bukan pada saudagar hewan. Kami cuma beli saja," tukasnya berkilah.

Salah satu calo ternak sapi di Pasar Ternak Sapi di Lili, yang enggan ditulis namanya, membenarkan. Ia memperkirakan setiap hari pasar, ratusan ekor sapi betina produktif dijual di pasar itu.

"Ratusan ekor Pak. Sapi jantan atau sapi bakalan cuma beberapa ekor saja. Dan tidak ada petugas yang datang melarang," jelasnya.

Ketua Forum Kuan Naek Pah Timor, Metu Oematan yang dimintai komentarnya, mengatakan penjualan ternak sapi betina produktif dilarang oleh UU Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

"Pada pasal 18 ayat (2) menjelaskan bahwa ternak ruminansia betina produktif dilarang diperjualbelikan untuk disembelih karena merupakan penghasil ternak yang baik. Kecuali untuk keperluan penelitian, pemuliaan atau untuk keperluan pengendalian dan penanggulangan penyakit hewan," jelas Oematan.

Sanksi bagi yang melanggar, kata Oematan, kurungan penjara 1 tahun sampai 3 tahun. Atau denda sebesar Rp 100 juta sampai Rp 300 juta.

Ciri-ciri sapi betina produktif yang tidak boleh dijual, lanjutnya, yaitu sapi betina yang melahirkan kurang dari 5 kali atau berumur di bawah 8 tahun. Sertsa memiliki orgasn reproduksi normal dan optimal menurut pemeriksaan dokter hewan.

"Cuma untuk di daerah miskin seperti NTT, khusus di Timor, para pemilik sapi beralasan terpaksa menjual karena terdesak kebutuhan hidup. Misalnya untuk biaya anak sekolah atau anak kuliah di kota. Atau untuk urusan adat. Ini fakta yang tidak bisa ditolak," jelas Oematan.

Pantauan Pos Kupang di Pasar Ternak Lili di Camplong, Kamis pagi, ratusan ekor sapi betina produktif dijual bebas. Lalu diangkut ke atas truk oleh saudagar hewan untuk dibawa ke Pelabuhan Tenau Kupang atau ke tempat pejagalan sapi di Kelurahan Oeba, Fatubesi.*

Penulis: Julius Akoit
Editor: alfred_dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help