Pemikiran Gus Dur Tetap Relevan Sampai Kapan Pun

Bertepatan dengan haul atau peringatan tahun ke-7 hari wafat Gus Dur, sejumlah kalangan dari berbagai agama dan

Pemikiran Gus Dur Tetap Relevan Sampai Kapan Pun
(ARSIP FOTO) KOMPAS / ARBAIN RAM
Mantan Presiden Soeharto menyambut kedatangan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di kediamannya di Jalan Cendana, Jakarta Pusat, 8 Maret 2000. 

POS KUPANG.COM - Di tengah suasana kerukunan antarumat beragama yang terancam oleh aksi-aksi intoleran, pemikiran Gus Dur, panggilan populer Abdurrahman Wahid, tokoh Nahdlatul Ulama yang menjadi presiden ke-4 Indonesia mencuat kembali ke ranah publik.

Bertepatan dengan haul atau peringatan tahun ke-7 hari wafat Gus Dur, sejumlah kalangan dari berbagai agama dan aliran kepercayaan berkumpul, berdialog, dan bertekad untuk mengimplementasikan gagasan pluralisme yang menjadi karakteristik pemikiran Gus Dur.

Pertanyaan penting yang layak dikemukakan di sini adalah: mengapa Gus Dur masih relevan untuk zaman gegap gempita percaturan pemikiran di dunia nyata dan maya sekarang ini?

Tidak adakah penggantinya yang sepadan sehingga publik begitu merindukan dan mendambakan untuk mengimplementasikan pemikiran kiai yang tak jarang kontroversial dalam sepak terjang politiknya itu?

Untuk pertanyaan pertama, jawaban yang paling populer adalah: Gus Dur di dalam menghayati keberagamaannya senantiasa berpegang pada prinsip bahwa humanisme yang antara lain terejahwantakan dalam kerukunan sesama manusia, tak peduli apa pun latar belakang agama, ras, dan ideologinya, harus ditempatkan pada posisi tertinggi.

Berbeda dengan beberapa tokoh agama yang cenderung sektarian, yang menempatkan akidah keberagamaan di atas segalanya, Gus Dur justru mementingkan sisi persaudaraan semua umat manusia, bukan cuma bersaudara sesama kaumnya sendiri, yakni umat Islam.

Sikap yang demikian ini tentu menimbulkan banyak salah paham di kalangan umat seiman, yang tak jarang memandang Gus Dur terlalu berpihak pada kelompok di luar komunitas Islam.

Bagi Gus Dur, ketika terjadi konflik antarumat beragama, yang melibatkan pengikut agama Islam berhadapan dengan pengikut non-Islam, Gus Dur justru cenderung menjewer kaumnya sendiri. Begitulah kebesaran jiwa Gus Dur, yang ibarat orang tua menjewer telinga anaknya sendiri ketika sang anak habis berkelahi dengan anak tetangga.

Dengan sikapnya yang cenderung keras ke dalam, ke kubunya sendiri, tak ayal lagi, Gus Dur sering berbenturan dengan tokoh-tokoh Islam sendiri. Ketika sebuah organisasi masyarakat bernama Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dibentuk, Gus Dur termasuk segelintir dari tokoh Islam yang tak berminat masuk ke dalamnya.

Baginya, kecendekiawanan adalah predikat yang diberikan kepada mereka yang memiliki kemerdekaan dalam berpikir. Bersikap dan bertindak untuk kebaikan dan keadilan kepada kelompok yang deiperlakukan tidak adil.

Halaman
123
Editor: Putra
Sumber: Antara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved