Kirim Daging Beku dari Kupang?

Di antaranya, Kabupaten Kupang yang mulai menggandeng salah satu BUMN, PT Berdikari, untuk bekerja sama.

Kirim Daging Beku dari Kupang?
POS KUPANG/EDY BAU
DAGING BEKU--Kepala Dinas Peternakan Propinsi NTT, Thobias Uli memegang produk daging sapi beku yang siap kirim hasil olahan PT Segarau Bahari di Desa Oben, Kecamatan Nekamese, Kabupaten Kupang, Sabtu (12/7/2014). 

POS KUPANG.COM - Selama ini NTT dikenal dengan ternak sapi. Menjadi pemasok bagi sejumlah daerah di Pulau Jawa. Pengiriman sapi tersebut sering dilakukan secara gelondongan. Hal ini juga ternyata menuai masalah karena diduga ada mafia perdagangan sapi. Terkadang, sapi asal NTT itu sangat sulit masuk Jakarta. Hal seperti ini tentu mengundang berbagai pihak untuk mencari terobosan terbaik.

Di antaranya, Kabupaten Kupang yang mulai menggandeng salah satu BUMN, PT Berdikari, untuk bekerja sama. Kerja sama tersebut nanti dari Kabupaten Kupang pengiriman sapi dalam bentuk daging beku.

Hal ini tentu bagus. Bisa jadi, ada keuntungan lain dari pola antarpulau sapi seperti ini. Kalau selama ini, orang NTT tidak tahu apa kegunaan dari tulang sapi mungkin nanti bakal muncul semacam industri rumah tangga yang khusus mengelola tulang sapi. Itu tentu harapannya.

Selain itu, mafia perdagangan sapi antarpulau tentu saja akan mendapat pukulan berat. Di sisi lain, ada hal yang mungkin akan menjadi masalah ke depan soal populasi sapi.

Informasi sementara menyebutkan, perusahaan yang diajak bekerja sama oleh Pemerintah Kabupaten Kupang dalam seharinya bisa menjagal 100 ekor sapi. Jumlah itu tergolong sangat fantastis. Apakah populasi sapi kita cukup untuk memenuhi standart itu? Ataukah memang nantinya, sapi yang produktif juga bisa dijagal hanya untuk memenuhi kuota pengiriman daging beku itu. Idealnya, rencana mengirimkan daging beku ke Jawa hendaknya dipikirkan secara matang.

Kondisi ini tentu punya dampak tertentu. Mengirim daging beku harusnya disertai dengan pola pengembangan sapi yang lebih moderen. Paling tidak pemerintah harus menyiapkan rance tersendiri untuk memelihara sapi. Kalau nantinya mengharapkan sapi dari masyarakat maka bukan tidak mungkin masalah sapi produktif juga ikut dijagal. Persoalannya akan bertambah rumit dan mengkuatirkan. Saat ini saja, dalam kondisi normal, populasi sapi di NTT belum tentu dalam jumlah seperti yang dilaporkan.

Bisa jadi, populasi sapi kita di NTT sangat-sangat jauh berkurang. Ini terjadi karena padang pengembalaan kita semakin hari terkikis dengan pertumbuhan penduduk. Jadi, soal mengirimkan daging beku ke Jawa hendaknya dikaji benar soal untung ruginya. Jangan sampai kita hanya mendapatkan keuntungan yang bersifat instan dan merugi dalam jangka panjang.*

Penulis: PosKupang
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help