PosKupang/

Viktoria Fanggidae Sebut Indikator Paling Kritis Terkait Kemiskinan di NTT

Penduduk miskin yang tidak dapat mengakses bahan bakar layak tidak berubah. Pada tahun 2012 ada 99,9 persen penduduk

Viktoria Fanggidae Sebut Indikator Paling Kritis Terkait Kemiskinan di NTT
Pos Kupang/Edy Hayong
Para peserta diskusi kemiskinan di kantor IRGSC, Selasa (3/1/2017) 

Salah satu caranya, lanjut Viktoria, meningkatkan pasokan bahan bakar gas dan memperbanyak distribusi elpiji bersubsidi. Selain itu, penyediaan sumber penerangan bagi rumah tangga di perdesaan dengan memperluas jaringan kelistrikan dan menambah daya listrik di NTT.

"Perlu juga dibuka peluang menggunakan energi alternatif. Sebagai daerah kepulauan dan memiliki musim kemarau yang panjang, wilayah NTT memiliki kekayaan energi angin dan surya yang belum dimanfaatkan," kata Viktoria.

Perbaikan sanitasi bagi rumah tangga di perdesaan, demikian Viktoria, dengan cara menjalankan program jambanisasi yang sehat untuk keluarga miskin yang tidak memiliki jamban yang sehat.

Sedangkan untuk penyediaan fasilitas air bersih bagi rumah tangga di perdesaan, lajutnya, memperbanyak sumur bor di tiap desa yang dapat dimanfaatkan bersama.
Program prioritas berikutnya, kata Viktoria, perbaikan asupan gizi seimbang pada balita di perdesaan dengan cara memberi makanan tambahan secara rutin lewat program Posyandu di masing-masing dusun.

Direktur IRGSC, Elcid Li, mengatakan, hasil penelitian IRGSC menunjukan kemiskinan ini membuat orang memilih migrasi ke luar daerah. Di Timor Barat yang paling banyak adalah warga Timor Tengah Selatan (TTS). Dari total 278 desa di TTS, dua desa warganya bergerak dalam sektor perdagangan, empat desa di sektor jasa dan 270 desa bergerak di sektor pertanian.

Strategi untuk keluar dari kemiskinan, demiian Elcid Li, warga harus mampu merebut proses partisipasi di desa, pendidikan yang menghidupkan dan bersama-sama melawan perdagangan orang. Dengan program pemerintah pusat yang condong ke desa, demikian Elcid, mestinya desa menjadi locus baru pembangunan. Kaum perempuan harus mendapatkan tempat tersendiri di masyarakat, dan kepemimpinan perempuan di level desa harus ditingkatkan.

"Kemiskinan di NTT menjadi persoalan lama. Kami dari IRGSC pernah melakukan penelitian di Pulau Sumba. Kondisi paling miris yang dialami warga adalah kebutuhan akan air bersih. Bayangkan di salah satu desa, untuk mandi saja kami tanya di salah satu ibu dia jawab untuk mandi hanya butuh air dua gayung. Ini kan sesuatu yang memilukan. Di mana peran penentu kebijakan untuk mengatasi masalah kemiskinan ini," demikian Elcid. (yon)

Penulis: PosKupang
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help