Mengenang Gus Dur

Ini ungkapan cinta para sahabat kepada sang tokoh pluralis yang tak pernah bosan menyuarakan pentingnya menghargai perbedaan.

Mengenang Gus Dur
KOMPAS / TOTOK WIJAYANTO [ARSIP FOTO]
Ketua Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) versi Musyawarah Luar Biasa Parung Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memberikan tausyiah di hadapan peserta Dialog Kebangsaan Pemberantasan Korupsi di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Minggu (15/6/2008). 

Oleh: Theodorus Widodo
Wakil Ketua Forum Pembauran Kebangsaan (FPK)-NTT

HARI ini, tepat tujuh tahun yang lalu kita kehilangan sang guru bangsa. 30 Desember 2009. Gema bacaan tahlil yang menyatakan keesaan Allah dan pengakuan atas kerasulan Muhammad SAW itu menggema dari lorong-lorong Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta. Jenazah mantan Presiden Abdurrahman Wahid dibawa dengan keranda dari gedung Ruang Pacu Jantung Terpadu RSCM menuju ambulans yang diparkir di depan gedung A RSCM. Sejumlah pelayat yang berhasil memegang keranda Gus Dur tak kuasa membendung tangis. (Anita Yossihara dan M.Zaid Wahyudi. Kompas, 31 Desember 2009).

Itulah sepenggal ceritera sedih di seputar wafatnya Gus Dur. Sekaligus ini ungkapan cinta para sahabat kepada sang tokoh pluralis yang tak pernah bosan menyuarakan pentingnya menghargai perbedaan.

Romo Franz Magnis Suseno dalam kekagumannya kemudian menulis. (Kompas, 4 Januari 2010). Meskipun tahu Gus Dur sakit-sakitan, namun saat kemarin Tuhan mengatakan, "Gus, sudah cukup", ini tetap mengagetkan juga. Banyak dari kita, khususnya tokoh dan umat berbagai agama di Indonesia merasa kehilangan. Kita menyertai arwahnya dengan doa-doa kita agar ia dengan aman, gembira, dan pasti terheran-heran dapat sampai ke asal-usulnya.

Betapa luar biasa Abdurrahman Wahid, Gus Dur kita ini. Seorang nasionalis Indonesia seratus persen tapi juga seratus porsen Islam dengan wawasan kemanusiaannya yang universal. Seorang tokoh Muslim yang besar dalam lingkungan yang konservatif, namun sangat pluralis bahkan selalu melindungi umat-umat beragama lain. Enteng-enteng saja dalam segala situasi, tetapi selalu berbobot; acuh-tak acuh, tetapi tak habis peduli dengan nasib bangsanya. Orang pesantren yang mahir melantunkan ayat-ayat Al Qur'an, tapi juga suka mendengarkan simfoni-simfoni Beethoven. Studi di pusat Islam di Timur Tengah (Al Azhar di Kairo dan Universitas Baghdad di Irak) dan dibesarkan dalam lingkungan NU yang tradisional, tapi pikirannya tidak kalah modern dibanding orang barat. Ketua umum PB NU, ormas Islam terbesar di Indonesia yang mestinya punya kantor pusat yang mentereng sebab selalu didatangi para tokoh dari seantero negeri bahkan dunia untuk minta nasehat, tapi kantornya paling  "ndeso" di Jakarta (Greg Barton. The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid. 2002).

Rahasia Gus Dur adalah bahwa ia sama sekali mantap dengan dirinya sendiri. Ia percaya diri. Ia total bebas dari segala perasaan minder. Bahkan dalam keadaan tidak bisa melihat sekalipun ia bersedia jadi Presiden. Ia tidak pernah takut mengalah kalau itu demi kepentingan bangsa. Ia siap mundur dari jabatan Presiden demi bangsa yang dicintainya walaupun jutaan Nahdhliyin, Ansor dan Banser siap berjibaku membelanya. Ia tidak takut kehilangan muka (dan karena itu memang tak pernah kehilangan muka) karena itu ia siap turun dari jabatan Presiden walaupun dekrit pembubaran parlemen sudah disiapkan. Seolah ingin mengejek para politisi jahat yang dulu mengusungnya dan sekarang sangat bernafsu menjatuhkannya, ia keluar dari istana bersandal jepit dan bercelana pendek melambaikan tangan kepada Indonesia ketika dipaksa keluar dari istana rakyat. Ini istana yang bebas dikunjungi rakyat di masa pemerintahannya. "Aku ora poopo. Nggak jadi Presiden gak pate'an". Begitu kira-kira pesan yang ingin ia sampaikan ketika itu. Ia tak pernah tersinggung untuk soal-soal sepele karena tidak pernah merasa disepelekan. Ia acuh saja ketika sering dikata-katai Presiden buta oleh lawan-lawan politiknya yang jahat. Ia selalu enteng menghadapi berbagai persoalan sementara orang lain sewot ketika dikritik, termasuk gurauan kritik DPR TK.

Ada yang tidak mengerti mengapa Gus Dur begitu ramah terhadap agama-agama minoritas, tetapi sering keras terhadap agamanya sendiri. Gus Dur demikian karena ia begitu mantap dalam agamanya. Ia tidak perlu defensif dan tidak takut bahwa agamanya dirugikan kalau ia terbuka terhadap mereka yang berbeda. Ia tidak pernah merasa agamanya dinista oleh siapapun karena ia meyakini agamanya yang mulia tidak akan berkurang kemuliaannya hanya karena ulah manusia. Gus Dur bahkan menyimpan The Moor's Last Sigh, buku karya Salman Rusdie  di belakang tempat duduknya (Greg Barton).

Saat-saat begini rasanya kita semua pasti sepakat. Kita kehilangan seorang bapak bangsa yang besar dan sangat kuat yang mampu melindungi semua anak bangsa sekaligus menjaga persatuan. Dan ini tanpa reserve. Siapapun yang tertindas pasti dibela Gus Dur termasuk agama mayoritas di masa Orde Baru dulu. Kalau saja Gus Dur masih ada, tidak mungkin akan terjadi kondisi bangsa seperti sekarang ini yang sedang terpecah-belah oleh perbedaan agama yang dengan sengaja dipertajam untuk kepentingan politik sempit. Bagi Gus Dur, agama seharusnya jadi Rahmatan Lil Alamin. Sumber rahmat bagi lingkungan termasuk makhluk ciptaan Tuhan termulia yaitu manusia. Agama harus jadi perekat bangsa, bukan sebaliknya jadi sumber perpecahan. Agama boleh berbeda-beda tetapi spirit kebangsaan tetap hanya satu yang tetap harus dirawat sampai kapanpun. Agama juga tidak boleh dipakai untuk mempertegas identitas diri yang membuat agama-agama menjadi semakin jauh satu dengan yang lainnya.

Sayang sekali kita telah kehilangan opo jarene Gus Dur. Kalau saja Gus Dur masih ada, aksi-aksi radikal yang terjadi belakangan ini tidak mungkin akan terjadi. Dengan karismanya yang luar biasa, Gus Dur pasti akan mampu menghentikan semua praktek politik kotor menggunakan latar belakang agama untuk terus menerus memecah belah bangsa. Titah Gus Dur pasti akan dituruti semua anak bangsa tanpa kecuali, bukan hanya oleh kaum Nahdliyin.

Gus, kami merindukanmu. Semoga kami yang terlahir dari rahim ibu pertiwi ini tidak jadi anak-anak durhaka yang mengkhianati ajaranmu. Beri kami kekuatan Gus. Panjenengan kan weruh sak durunge winarah (mengetahui sebelum sesuatu itu terjadi). Beri kami kebijaksanaan Gus. Sadarkan kami semua bahwa menghancurkan Indonesia memang paling gampang lewat konflik agama. Dan kami tidak mau itu terjadi Gus.*

Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help