Tak Sekadar 'Selamatkan' Wajah

Sejak Timor Leste berpisah dari NKRI, NKRI baru memiliki PLBN yang dinilai representatif di wilayah perbatasan dengan negara Timor Leste.

Tak Sekadar 'Selamatkan' Wajah
(ANTARA /Kornelis Kaha) ()
unker Presiden Jokowi Ke NTT Presiden Joko Widodo didampingi ibu negara Iriana Joko Widodo memasuki mobil yang disiapkan saat tiba di Bandara El Tari Kupang, NTT, Selasa (27/12/2016). Dalam kunjungan kerjanya ke NTT Jokowi dijadwalkan akan meresmikan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Mota Ain di Kabupaten Belu, dan sejumlah kegiatan lainnya.

PRESIDEN RI, Joko Widodo, meresmikan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Motaain hari Rabu (28/12/2016). Keberadaan bangunan PLBN di Motaain ini sungguh sangat membanggakan masyarakat sekaligus mengangkat wajah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), khususnya NTT dan Kabupaten Belu di mata masyarakat internasional. Sebab, sejak Timor Leste berpisah dari NKRI, NKRI baru memiliki PLBN yang dinilai representatif di wilayah perbatasan dengan negara Timor Leste.

Peresmian PLBN Motaain oleh Presiden Joko Widodo tentu bukan karena bangunan megah dan mewah ini  telah menghabiskan anggaran negara miliaran rupiah. Juga bukan karena letak bangunan ini berada di wilayah perbatasan dengan negara Timor Leste. Tapi kehadiran simbol tertinggi di negara RI ini meresmikan PLBN Motaain sekaligus membawa pesan moril bagi para pihak atau petugas yang bekerja di PLBN tersebut. Salah satu pesan morilnya tentunya dalam hal pemberian pelayanan kepada masyarakat. Pemberian pelayanan kepada masyarakat, khususnya masyarakat yang mau menyeberang ke Timor Leste tentu harus semakin baik.

Harapan akan pelayanan kepada masyarakat, khususnya para pelintas menjadi lebih baik, juga mengandung makna bahwa pelayanan yang sudah dilakukan selama ini belum benar-benar memuaskan masyarakat yang pernah mendapatkan pelayanan. Tapi lebih dari sekadar signal itu bahwa harapan akan pelayanan yang lebih baik itu karena pelayanan yang diberikan atau dilakukan oleh para petugas yang bertugas di PLBN itu merupakan simbol dari pelayanan negara kepada masyarakatnya. Jika masyarakat yang mendapatkan pelayanan petugas di PLBN itu merasa kurang memuaskan, maka para pihak yang mendapatkan pelayanan itu bisa serta merta menilai itu sebagai pelayanan negara terhadap masyarakatnya yang kurang memuaskan.

Jika pola pelayanan seperti ini terjadi pada masyarakat dari negara lain, misalnya dari Timor Leste, atau dari negara lain yang masuk ke Indonesia melalui PLBN Motaain, maka  rusaklah citra pelayanan pemerintah di negeri ini. Para wisatawan yang datang melalui PLBN Motaain tentu dengan serta merta menilai pelayanan Pemerintah RI kurang memuaskan.

Karena itu, hal terpenting dari keberadaan PLBN Motaain ini tak hanya sekadar untuk menyelamatkan wajah NKRI di hadapan masyarakat internasional, khususnya dengan masyarakat Negara Timor Leste, tapi juga pada peningkatan pelayanan. Kondisi bangunan yang dinilai megah dan representatif harus sebanding dengan pelayanan para petugas yang berada di PLBN tersebut. Apabila selama ini ada selentingan yang dinilai kurang memuaskan dari masyarakat yang mendapatkan pelayanan, maka hal-hal seperti itu harus segera ditinggalkan. Peresmian PLBN Motaain haruslah menjadi awal atau babak baru dalam perbaikan pelayanan. Pelayanan yang diberikan petugas harus smart seperti wajah bangunan PLBN itu.*

Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved