Natal dan Intoleransi Sosial

Bangsa ini masih terperanjat dengan gelombang demo besar-besaran kasus Ahok yang dimanipulasi oleh pihak-pihak tertentu demi nafsu kekuasaan

Natal dan Intoleransi Sosial
IST
IST Presiden Jokowi saat memberikan sambutan Natal Nasional di Manado, Sulawesi Utara 

Oleh: Dr. Martin Chen
Dosen STKIP St. Paulus Ruteng, Flores

PERAYAAN Natal tahun ini dibayangi oleh mendung kelabu gerakan intoleran dan kekerasan. Bangsa ini masih terperanjat dengan gelombang demo besar-besaran kasus Ahok yang dimanipulasi oleh pihak-pihak tertentu demi nafsu kekuasaan yang menjijikkan termasuk upaya makar terhadap pemerintahan yang sah. Namun lebih mengerikan lagi, ketika gejolak politis ini belum sungguh mereda, tiba-tiba muncul sweeping oleh FPI di beberapa tempat untuk melaksanakan fatwa MUI tentang larangan penggunaan atribut Natal bagi orang muslim. Ormas yang dikenal melalui baju panjang putih ini sudah sering berperan sebagai `polisi' penjaga keputusan MUI dan berperilaku sebagai pembela Islam dengan mengharamkan yang non muslim. Padahal bukankah Islam itu rahmatan lil `alamin, rahmat bagi semesta alam, juga bagi yang menghayati iman kepercayaan yang lain? Sangatlah disayangkan bila dimensi Islam yang toleran yang berakar berabad-abad di bumi nusantara ini dirusak oleh perilaku intoleran kelompok demikian. Bagi umat kristiani muncul pertanyaan, bagaimanakah merayakan Natal dalam situasi demikian? Kidung merdu malaikat di malam Natal, "in terra pax hominibus bonae voluntatis", "damai di bumi bagi orang yang berkenan kepada-Nya", masih mungkinkah hal itu terjadi di tanah khatulistiwa tercinta ini?

Intoleransi dalam Zaman Yesus
Ketika Yesus lahir lebih dari 2000 tahun yang lampau, situasi sosial yang mewarnai dunia Israel jauh dari situasi damai dan harmonis. Malah sebaliknyalah yang terjadi. Terdapat gesekan dan konflik sosial yang hebat antara pelbagai kalangan. Pertentangan sosial yang paling utama adalah antara penjajah Roma dan bangsa Israel, yang mengungkapkan pula bau amis intoleran. Hal ini nyata dalam kebengisan kekaisaran Roma yang tidak mentolerir sedikitpun keinginan Israel untuk menyatakan jatidirinya sebagai sebuah bangsa. Israel dicangkokkan ke dalam imperium romanum sebagai salah satu provinsinya. Pimpinan wilayah, wali negeri Pilatus, dikirim dari Roma untuk memerintah israel. Tentu bukan hanya Israel tetapi juga bangsa-bangsa lain dalam wilayah jajahan dihomogenisasi dan diintegralisasi ke dalam pax romanum. Semua harus mengakui dan menyembah Kaisar Roma. Tetapi bukan hanya secara politis, kultural, dan religius juga secara ekonomis, bangsa Israel dieksploitasi dan dipaksa untuk kehilangan kemandiriannya, pajak harus dibayar kepada Kaisar (Mat 22:17).   

Konflik sosial yang diwarnai oleh semangat intoleran ini terjadi juga di kalangan bangsa Israel sendiri. Elite agama yang diwakili oleh kaum Saduki, ahli taurat dan orang Farisi mengklaim diri sebagai keturunan Abraham sejati, penjaga tradisi dan pelaksana hukum yang setia. Pada saat yang sama mereka menghina kelompok lain dalam masyarakat sebagai najis, `haram'. Mereka misalnya tak mau bergaul dengan orang Samaria yang berdarah campuran, tidak asli Israel. Demikian juga bagi mereka, orang berdosa itu najis dan jangan didekati karena bisa menularkan dosanya. Maka tidaklah mengherankan bila mereka mengkritik Yesus dengan pedas karena Dia makan bersama orang-orang berdosa. Begitu juga dengan kaum perempuan diperlakukan oleh elite religius tersebut sebagai warga kelas dua. Oleh sebab itu mereka  membawa kepada Yesus hanya wanita yang kedapatan berzinah, sedangkan prianya tidak. Sikap dan perilaku intoleran kelompok elite Yahudi ini ditolak oleh Yesus. Dia justru memilih berdiri di sisi orang-orang yang menjadi korban-korban penghinaan, penyingkiran dan penindasan. Dia adalah pembebas kaum tertindas dan menderita (Luk 4:18-19).

Kabar Gembira Kemajemukan
Sejak kelahiran-Nya Yesus menyatakan kabar gembira pembebasan yang menghargai keunikan dan kemajemukan. Natal sesungguhnya sangat kuat menggaungkan pesan toleransi. Toleransi ini bahkan dimulai oleh Allah sendiri. Meskipun Dia adalah yang agung dan penuh kuasa, tetapi Dia bertoleran dengan manusia. Dia menjadi manusia dan mengenakan kerapuhan dan kelemahan manusiawi. Meskipun dia adalah Allah yang kudus, dia rela lahir di tengah-tengah manusia berdosa, hidup semangkuk dan segelas dengan mereka. Rasul Paulus melukiskan hal ini dengan indah: "Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia" (Flp 2:5-7). Peristiwa kenosis inilah misteri terindah dalam iman Kristiani. Allah mengosongkan diri-Nya, agar manusia memperoleh kepenuhan cintaNya yang berlimpah-limpah.

Lebih dari itu melalui peristiwa inkarnasi, martabat setiap manusia dimuliakan dan disucikan. Nilai pribadi manusia tidak lagi dikualifikasi oleh kondisi manusiawinya tetapi oleh kerahiman ilahi. Siapa pun dia, entah berkulit kuning atau hitam, tak peduli ras dan sukunya, agama dan keyakinannya, berharga dan bernilai di mata Allah. Setiap manusia adalah citra Allah, diciptakan sesuai dengan gambar-Nya. Martabat manusiawi inilah yang dibaharui oleh Kristus dalam peristiwa inkarnasi-Nya. Ketika Dia menjadi manusia, Dia memulihkan dan menyucikan martabat setiap dan semua orang. Karena itulah Konsili Vatikan II menegaskan, bahwa dalam misteri inkarnasi tersingkaplah martabat manusia yang sejati. Kodrat manusia mencapai martabat yang amat luhur. "Sebab Dia, Putera Allah, dalam penjelmaan-Nya dengan cara tertentu telah menyatukan diri dengan setiap orang" (GS 22).

Bila setiap manusia menjadi citra Allah, wadah kehadiran yang ilahi, maka Natal sesungguhnya mengumandangkan warta gembira tentang kebernilaian setiap manusia dalam segala keunikannya. Justru karena itu pula Natal meneguhkan keberagaman dan kemajemukan manusia. Kemajemukan itu indah bahkan suci, karena dipatri oleh peristiwa inkarnasi Allah. Karena itu Natal bukanlah sekedar pesta internal umat kristiani. Natal mengundang dan mengutus setiap orang kristiani untuk keluar dari `pintu-pintu Gereja' dan mendendangkan pesan toleransi kepada semua orang. Setiap orang entah apapun warna kulit, sukunya, budayanya dan agamanya, berharga dan bernilai di mata Allah. Natal mengajak semua orang kristiani untuk merawat kemajemukan bangsa Indonesia, sebab dengan itulah mereka menyambut dan merayakan kelahiran Yesus di bumi pertiwi ini. Selamat merayakan pesta Natal 2016.*

Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved