PosKupang/

Pater Amans Laka SVD

Suara yang Tak Bersuara

Sebagai seorang imam, selain pekerjaan pokok sebagai pastor paroki di sana, ia juga melakukan gebrakan yang luar biasa.

Suara yang Tak Bersuara
istimewa
Pater Amans Laka

VOICE of the Voices atau menyuarakan suara yang tak bersuara dan semangat misi sebagai seorang misioner dimana spiritualitas misinoer, "Sebagaimana Bapa mengutus Putra dan Bapa serta Putra mengutus Roh Kudus' demikian juga SVD ingin mengambil bagian dalam tugas perutusan mewartakan Sabda Allah." Dan semangat misioner inilah yang dilakukan seorang misionaris SVD (Serikat Sabda Allah) asal NTT ini di luar negri tepatnya di Argentina. Sebagai seorang imam, selain pekerjaan pokok sebagai pastor paroki di sana, ia juga melakukan gebrakan yang luar biasa.

Keprihatinannya terhadap anak-anak muda miskin yang merupakan imigrasi dari Eropa agar tidak keluar dari kampung atau desanya yang subur ke kota, dan tidak terjerumus ke hal-hal negatif seperti narkoba, minuman keras dan seks bebas, membuatnya membangun sekolah khusus untuk mereka. Alhasil berkat ketulusan hatinya dan kekuatan doa yang tak henti-hentinya ia berhasil membangun dua buah sekolah pertanian milik SVD yakni Sekolah St. Arnoldus Yansen, SVD dan Sekolah St. Yosep Frainademez.

Ia juga ingin agar Indonesia dikenal di Argentina, sehingga bersama Kedutaan Besar Indonesia di Argentina, ia membangun enam buah sekolah Republik Indonesia. Sekolah-sekolah ini juga khusus untuk anak-anak imigrasi yang hidup di desa dan miskin. Buah dari kerja keras dan ketulusanya, ia mendapatkan penghargaan dari Pemerintah Argentina. Namanya diabadikan menjadi nama jalan Provinsi tepatnya di Kota Puerto Esperanza, Provinsi Misiones (berbatasan dengan Brazil, Paraguay Triple Fronteras), yakni Jalan Raya Amans Laka. Bagaimana sepak terjangnya dalam bermisi di Argentina selama 20 tahun. Ikuti wawancara wartawati Pos Kupang, Apolonia Matilde Dhiu, dengan Pater Amans Laka, SVD, di Biara Soverdi Oebufu, Sabtu (5/11/2016).

Proviciat Pater, 20 tahun tinggal di Argentina bukan perkara gampang. Anda termasuk berhasil karena mampu membangun sekolah di sana. Bisa ceritakan pengalaman selama berada di Agentina?

Sebagai misionaris SVD yang bekerja di Argentina, kerinduan saya adalah bekerja dengan anak muda dari paroki saya. Saya melibatkan diri dengan anak-anak muda, mahasiswa dari Universitas Buenos Aires. Setiap bulan Januari saat libur, mereka datang membantu saya di paroki. Paroki saya termasuk paroki termiskin karena berada di pedalaman. Tetapi, kelihatan tidak berkelanjutan, sehingga saya mulai berpikir untuk bekerja untuk anak muda tetapi di bidang pendidikan. Timbulah ide mendirikan sekolah.

Mengapa harus pendidikan dengan membangun sekolah?
Saya ingin mendidik anak muda, saya mau menyuarakan suara anak-anak yang tidak bersuara terutama anak-anak dari. Saya mencoba bertemu dengan uskup di sana. Uskup ini seorang yesuit asal Spanyol dan merupakan teman akrab dengan Paus Yohanes Fransiskus. Saya sampaikan kalau mau mendirikan sekolah. Uskup ini menjawab, "Anak di Argentina agak sulit mendirikan sekolah, kita sudah punya sekolah paroki yang banyak, tetapi sudahlah saya tidak mau menghalangi keinginamu. Kalau kamu mau mendirikan sekolah oke silahkan". Terakhir Uskup mengatakan, "Saya tidak punya uang. Tetapi, dia yakinkan saya bahwa akan meberikan sesuatu yang luar biasa. Kamu tidak akan menyesal, saya memberikanmu berkat". Saya dengar dia sampaikan itu, saya begitu senang. Saya kembali ke paroki dan bertemu dengan tuan tanah. Tuan tanah memberikan saya tujuh bidang tanah untuk mendirikan sekolah. Saya bentuk kelompok dengan teman saya dari Jerman, kami membeli tanah lima hektar, dan mulai mendirikan sekolah, namanya sekolah pertanian keluarga. Saya mulai membangun dan dalam waktu empat bulan sekolahnya sudah berdiri.

Untuk membangun sekolah dalam tempo yang cepat pula Anda membutuhkan banyak biaya. Darimana sumber dananya?
Saya sangat percaya pada tangan-tangan yang tersembunyi, banyak pengusaha yang membantu saya. Dari Kedutaan Jerman, saya tidak tahu saya bisa mendapatkannya. Pemerintah Jerman memberikan saya 500 tempat tidur. Selain itu, saya melihat orang di sana suka pesta dan berdansa. Saya undang artis terkenal membuat acara selama seminggu di sekolah dan hasil dari kegiatan tersebut dipakai untuk pembangunan. Saya mulai membangun dua sekolah yakni St. Arnoldus Yansen dan Yosep Frainademez, dan saya menjadi ketua yayasan. Tanggung jawab cukup banyak harus mencukupi dan membiayai guru tahun pertama, memberi makanan kepada anak-anak, transportasi karena mereka tinggal cukup jauh, tapi sesudah setahun akhirnya negara membayar para guru dengan gaji yang sangat tinggi. Jumlah siswa di dua sekolah ini saya batasi hanya dengan 100 orang. Sekolahnya dua minggu di kelas dan dua minggu di kebun di kampung mereka. Guru-guru yang turun ke kebun memberi penilaian.

Anda juga membangun Sekolah Republik Indonesia. Mengapa?
Indonesia belum dikenal di Argentina. Selama ini Indonesia hanya mengirimkan misioner SVD ke sana. Dengan membangun sekolah Republik Indonesia mereka mulai mengenali Indonesia, bahkan anak-anak Argentina mulai melakukan pertukaran pelajar dan mahasiswa ke Indonesia. Sekolah Republik Indonesia ini para siswanya adalah anak-anak imigrasi dan anak miskin. Ada enam sekolah mulai dari SD hingga SMA. Saat peresmian mereka dari Kedutaan RI yang datang sendiri ke Misiones untuk melakukan peresmian. Sumber dana dari Keduataan RI di Argentina. Saat ini, Indonesia terkenal di Argentina melalui dua kegiatan pendidikan dan budaya yakni seni dan angklung. Saya selau mengundang pihak Kedutaan RI kalau ada pesta kabupaten. Saya juga pernah membuat pertemuan seluruh orang Indonesia di sana. Mantan Duta Indonesia, Sutan Manurung, Dr. Kartini, dan Johni Sinaga ikut dalam pertemuan ini di Sekolah RI di Misiones. Yah itulah beberapa kegiatan yang saya lakukan selama berada 20 tahun di Argentina.

Membangun Sekolah RI di negara Argentina. Anda tidak takut? Bagaimana Anda membagi waktu?
Sebagai pastor paroki dan ketua yayasan memang tugas dan tanggung jawab saya sangat besar. Saya malah punya kuasa untuk membangun dan menutup sekolah. Saya sama sekali tidak takut di sana. Motivasi saya adalah untuk membantu anak-anak kurang mampu di sana. Karena anak- anak tersebut adalah para imigran dari Eropa. Khusus di Argentina apalagi di Propinsi Misiones, hanya di situ saja sekitar 52 negara.

Pemerintah Argentina dan Kedutaan Indonesia di sana sangat percaya dengan Anda untuk mendirikan sekolah?
Saya ingat satu pengusaha dari Perancis yang perusahaannya tepat di Jalan Amans Laka (nama saya), menyampaikan ke saya membangun sekolah ini adalah pekerjaan pemerintah tetapi dilakukan oleh seorang pastor. Tapi saya lihat, bahwa sebagai seorang misionaris membuat sekolah seperti ada sesuatu mengartikan pekerjaan saya, menyuarakan anak muda yang tidak bersuara dan lebih jauh, agar anak muda di paroki saya tidak ke kota dan mulai membangun desa mereka terutama kebun-kebun mereka. Itu yang saya mau tekankan, mereka jangan terlibat narkoba. Di Argentina sangat bebas dan kecemasan dari orangtua dan negara adalah anak muda terjerumus ke narkoba. Dan, tidak heran kalau pemerintah di sana sangat memanjakan saya.

Saat ini Anda pulang kampung dan kembali ke SVD Profinsial Timor. Apa yang Anda lakukan di sini?
Sebenarnya tidak kembali juga tetapi kami di SVD memiliki norma tersendiri, kerinduan saya adalah saya mau ke negara lain. Dalam serikat kami sebelum ke negara lain, kembali ke negaranya untuk mengurus visa. Saya datang sekadar tarik nafas saja, bantu-bantu SVD di sini. Memang kami punya aset di Distrik Provinsial SVD Timor, kami punya lahan di Baumata dan saya sedang membantu di sana. Karena, ke depan akan membangun Rumah Ret-Ret. Saya juga sedang membantu Bruder Beatus (seorang misionaris Jerman) di Lebur-Atambua, sehingga saya bolak-balik. Di sini bersama anak-anak putus sekolah kami mengajarkan tentang pertanian. Selain itu, di Nenuk kami punya lahan yang ada di sana untuk pertanian, tanaman jangka panjang, pendek, ubi, dan sebagainya. Inilah pekerjaan saya di sini saat ini sambil mengisi waktu ke negara lain.

Rencana Anda akan ke negara mana?
Yah dimana angin meniup, ke sana saya akan pergi dan bermisi. Yah semua tergantung dari kebutuhan di SVD.

Ada ide di perbatasan di Indonesia khususnya di Timor dengan pengalaman dari Argentina membangun sekolah untuk anak-anak miskin di perbatasan?
Kami sudah lakukan di Lebur oleh seorang bruder dari Jerman, mengumpulkan anak putus sekolah diasramakan, mendidik menjahit, pertanian, perkebunan. Saya melihat misi SVD setelah 100 tahun SVD di Timor masih banyak yang harus dilakukan. Memang sudah banyak juga yang sudah dibuat oleh para misionaris pertama di Timor, tetapi kami perlu remodifikasi yang sudah ada. Ke depan, di Baumata dibuat rumah ret-ret yang sederhana sehingga umat kita bisa menghirup udara yang segar di luar keramaian di Kota Kupang.

Ada kenanangan terindah selama menjadi misionaris di sana?
Kenangan yang paling indah yakni anak-anak keturunan imigran dari Jerman, Swiss dan Italia bisa menikmati pendidikan sama seperti yang didirikan oleh pemerintah. Saya fokus anak dari kampung. Tantangan yang ada membuat saya lebih matang, misalnya tanpa uang saya bisa mendirikan sekolah dan audit dari negara sangat ketat. Karena saya bekerja baik saya mendapatkan proyek dari negara. Contoh terakir audit untuk sekolah St. Arnolus Yansen sebesar Rp 12 miliar, St. Yosep Frainademez Rp 15 miliar dan setiap triwulan ada auditor yang datang.

Anda juga pernah dicalonkan menjadi Presiden di sana?
Tidak juga, kemungkinan ada banyak pastor yang terima sebagai bupati dan gubernur. Tetapi saya tidak terima. Uskup saya dicalonkan jadi gubernur dia tidak terima. Tetapi kami menyuarakan suara-suara yang tidak bersusara. Walau tidak menjabat di pemerintahan tetapi sebagai misionaris SVD sudah cukup. (*)

Penulis: apolonia_m_dhiu
Editor: sipri_seko
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help