Kerukunan Agama di NTT itu Otentik bukan Dibuat-buat

Kerukunan agama di daerah Nusa Tenggara Timur bersifat dinamis bukan statis, bersifat otentik dan turun temurun, bukan kerukunan yang dibuat-buat.

Kerukunan Agama di NTT itu Otentik bukan Dibuat-buat
POS KUPANG/NOVEMY LEO
Kepala Kanotr Agfama Kota Kupang, Drs. Ambrosius Korbafo, M.Si bersama nara sumber dan peserta kegiatan visualisasi pembangunan bidang Agama, di Kupang, beberapa waktu lalu. 

 Laporan Wartawan Pos-Kupang.com, Novemy Leo

POS-KUPANG.COM, KUPANG ‑ Kerukunan agama di daerah Nusa tenggara Timur (NTT) itu bersifat dinamis bukan statis, bersifat otentik dan turun temurun, bukan kerukunan yang dibuat‑buat.  Dan kerukunan di setiap daerah di NTT berbeda dengan kekhasan masing‑masing‑masing.

"Karena itu jika ingin negara dan daerah ini tetap aman damai dalam kedinamisan maka semua pihak perlu duduk bersama secara rutin untuk berdiskusi tentang pembangunan bidang agama dan kerukunan antar umat bergama," kata Kepala Kantor Agama Kota Kupang, Drs. Ambrosius Korbafo, M.Si, dalam kegiatan kegiatan visualiasi pembangunan bidang agama.

Kegiatan bertemakan "Kita tingkatkan kehidupan keagamaaan yang berkualitas" diselenggarakan di Kupang dan menghadirkan empat tokoh agama yakni Islam, Kristen Protestan, Kristen Katholik, dan Hindu.

Menurut Korbafo, kerukunan dan kedamaian adalah kebutuhan setiap orang yang harus dipenuhi.  Dan bersyukur karena kondisi ini tetap dipertahankan oleh masyarakat di NTT. "Kondisi ini harus terus dipertahankan dan ditingkatkan lagi.  Kemajemukan kepribadian merupakan kekayaan dan potensi bangsa kita dan bukan ancamam," kata Korbafo.

Karena itu, setiap orang harus mengamalkan 3 P Ajaib dalam membangun keberagaman yakni Penerimaan, Penghormatan dan Penghargaan.

Prof. Dr. I Gusti Bagus Arjana, MS, menekankan tentang pentingnya membuat simbol‑simbol kerukunan antar umat beragama itu di setiap daerah agar bisa dilihat dan diimplementasikan oleh masyarakat.

"Saat tiba di bandara Ende, ada spanduk di bandara yang menyentuh perasaan saya. Bunyinya kurang lebih begini, "Pancasila Rumah Kita, Selamat Datang di Ende, Kota Toleransi Antar Umat Beragama. Hal Ini adalah simbol yang bisa membuat semua orang mengingat tentang makna dan pentingnya hidup rukun dengan keberagaman dan perbedaan di sekitarnya. Harusnya setiap daerah bisa membuat simbol seperti itu," saran Arjana.

Menurut Arjana, pembangunan bidang keagamaan adalah membangun Indonesia dengan memahami pluralisme, karena Indoensia memiliki masyarakat yang serba multi. Multi etnik, religi, kultur, tradisi, lingua, partai, belum lagi kondisi sosial yang berbeda, kaya dan miskin, terdidik dan tuna didik, pemerintah dan swasta, masyarakat kota dan desa, majikan dan buruh, taat hukum dan pelanggar hukum. 

"Membangun daerah membutuhkan pemimpin yang taat pada agama yang dianutnya dan bisa menghargai agama lain," pesan Arjana.

Halaman
12
Penulis: omdsmy_novemy_leo
Editor: omdsmy_novemy_leo
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help