"Agama Bola" Menyatukan Pemuda Lintas Pemuda Sedaratan Sumba

Berbeturan fisik dan adu skill di lapangan antara sesama pemuda sedaratan Sumba yang berbeda keyakinan, adalah bagian bentuk komukasi dan toleransi.

POS KUPANG.COM/JOHN TAENA
Tim kesebelasan pemuda lintas agama saat upacara pembukaan Turnamen Sepak Bola Antar Umat Beragama Sedaratan Sumba Ke-XV, di lapangan Matawai, Waingapu, Sumba Timur. Selasa (15/11/2016) 

Laporan wartawan Pos kupang,  John Taena

POS KUPANG.COM, WAINGAPU -- Berbeturan fisik dan adu skill di lapangan antara sesama pemuda sedaratan Sumba yang berbeda keyakinan, adalah bagian bentuk komukasi dan toleransi. Pasalnya "Agama bola" tidak mengenal perbedaan karena dia mampu menyatukan semua orang.

Turnamen sepak bola antar umat beragama sedaratan Sumba ke-XV, merupakan salah satu bukti nyata akan tingginya kekerukanan dan toleranasi antar umat beragama yang ada di daerah itu. Saat beradu skill untuk mempertahankan atau merebut bola dari kaki pemain lawan itu adalah bagian dari ibadah. Pasalnya sepak bola merupakan salah satu jenis olahraga yang menjunjung tinggi sportifitas.

"Orang Sumba itu damai, rukun diantara sesama pemeluk agama. Turnamen sepak bola antara umat beragama ini sudah berlangsung selama 15 tahu," tegas ketua panitia Turnamen sepak bola antara umat beragama sedaratan Sumba ke-XV, Debertus Nd. Ndima, kepada Pos Kupang, di lapangan Matawai, Waingapu, (15/11/2016).

15 tahun untuk sebuah turnamen sepak bola, apalagi antar umat beragama dalam rangka menyongsong natal dan tahun baru, bukanlah waktu yang singkat. Sebuah pertandingan tentunya akan memiliki pememang, namun hadiah dan trofi untuk menjadi sang juara bukanlah target utama.

Membangun kebersamaan dan menjalin komunikasi yang harmonis merupakan nilai utama yang hendak dipelihara oleh para pemuda Geraja Kristen Sumba (GKS) Payeti, Waingapu, Sumba Timur, sebagai panitia penyelenggara turnamen itu. Ide untuk menyelenggarakan turnamen sepak bola pada mulanya mendapat tantangan dari sejumlah pihak. Alasannya sederhana. Agama merupakan isu sensitif.

"15 tahun lalu, kami dari pemuda GKS Payeti mencetuskan ide untuk turnamen sepak bola antara umat beragama itu memang mendapat tantangan. Tapi waktu itu, kami meyakinkan para tokoh dan syukurlah sampai sekarang terus dilaksakan setiap tahun," tutur Sekretaris Pemuda Sinode Geraja Kristen Sumba, Nikson D. R. Tana.

Di dalam lapangan hijau, bola akan digiring ke semua arah oleh para pemain, namun hanya merujuk pada satu tempat yakni di dalam kotak 16, 12 dan akhirnya disarangkan ke dalam gawang.

Saat berhasil menjebol gawang selebrasipun berlangsung baik oleh para pemain di dalam lapangan maupun penonton di luar lapangan. Sementara pihak yang kebobolan akan menunjukan ekspresi kesedihan.

"Remas At Taqwa Kamala Putih, sudah pernah memegang piala bergilir Turnamen Sepak Bola Antar Umat beragamna di Sumba ini selama tiga tahun berturut. Keyakinan tidak bisa memisahkan hubungan kekeluargaan dan kerukunan kita," sambung Abdul Haris, ST, anggota DPRD Sumba Timur dari Partai Hanura.

Bagi orang Sumba, toleransi dan kerukunan antar umat akan tetap terpelihara dengan baik. Perberbedaan keyakinan memang tidak bisa dipungkiri di mana-mana, dan semua orang bebas beribadah sesuai keyakinannya di rumah ibadahnya masing-masing.

Namun ketika `Agama bola' memanggil, semua pemuda akan berkumpul dari berbagai keyakinan di dalam sebuah rumah ibadah yang disebut lapangan hijau setip hari sore.

Dikatakannya, "Sumba itu sangat harmonis, baik karena ada hubungan kawin mawin. Kita semua boleh berbeda keyakinan tapi kalau sudah masuk di lapangan itu hanya satu, `agama bola'. Silakan datang studi banding tentang toleransi antar umat bermata di sini."

Assinten I, Sumba Timur, Assisten I, Sumba Timur, Domu Warondoy, saat membuka Turnamen Sepak Bola Antar Umat Beragama Sedaratan Sumba Ke-XV, di Lapangan Matawai, Waingapu, mengatakan, bermain sepak bola adalah bagian dari ibadah.

Saling menghargai dan menghormati antar umat bergama yang terjalin baik selama ini harus tetap dijaga. "Bermain bola di lapangan dengan soprtif itu adalah bagian dari ibadah. Mari kita menjaga kerukunan dan toleranasi antar umat beragama," tandasnya.*

Penulis: John Taena
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help