Meredam Konflik Antar Etnis

Tragedi nahas ini turut menyita animo seluruh masyarakat NTT pada umumnya, dan masyarakat Kota Kupang khususnya.

Refleksi atas Tragedi Lasiana-Kupang

Oleh: Yanuarius Y.T.Igor
Tinggal di Kota Kefamenanu

BERBAGAI media massa, baik cetak maupun online, dalam beberapa hari terakhir begitu fokus melansir berita ke hadapan publik mengenai tragedi berdarah yang terjadi di wilayah RT 13/RW 03, Kelurahan Lasiana, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang. Tragedi berdarah dipicu konflik dadakan yang didalangi oleh sekelompok mahasiswa saat berlangsungnya pesta syukuran wisuda. Aksi brutal kelompok mahasiswa ini terjadi karena mengonsumsi minuman keras. Imbas dari tindakan brutal ini akhirnya menelan korban, di antaranya, Xaverianus Lawan Geroda alias Heri Lamawuran (21) tewas di tempat. Sementara salah satu rekannya, Adrianus Kia Beda (20), dinyatakan sekarat. Kedua korban dalam tragedi ini berasal dari Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur.

Ketika publik coba mendalami secara cermat kronologi kejadian ini, kelihatannya bermula biasa-biasa saja. Perang mulut yang menjadi penanda awal tragedi akhirnya berujung maut. Tragedi nahas ini turut menyita animo seluruh masyarakat NTT pada umumnya, dan masyarakat Kota Kupang khususnya.

Betapa tidak? Tafsiran disertai aksi solidaritas dari berbagai kalangan meningkat drastis dan membentuk siklus darurat tak terputuskan. Berita teraktual mengenai aksi seribu lilin dan doa yang difasilitasi oleh mahasiswa Angkatan Muda Adonara (AMA) Kupang di Jalan El Tari, depan Rumah Jabatan Gubernur NTT, pada hari Senin, 10 Oktober 2016 (Pos Kupang, 11/10/2016). Atensi yang muncul di balik aksi solidaritas ini lebih mengarah pada ungkapan dukacita atas para korban serta tuntutan terhadap pemerintah terkait (kepolisian) untuk mengusut tuntas kasus yang telah terjadi. AMA mendesak agar aparat keamanan bekerja profesional guna menangkap pelaku utama yang masih dinyatakan buron. Harapan yang tersirat di balik aksi solidaritas para mahasiswa asal Adonara yang berada di Kupang sejatinya menyita empati publik, bahwa tragedi berdarah adalah suatu peristiwa miris dan karena itu perlu diusut tuntas agar tidak terjadi lagi.

Penulis mengapresiasi para pemerhati sosial dari berbagai kalangan yang dalam beberapa hari terakhir begitu antusias membagikan opini-opini bermanfaat bagi publik. Muncul begitu banyak perhatian dan catatan solutif yang menjadi bahan pelajaran serta bentuk awasan bagi publik guna menetralisir situasi pasca tragedi berdarah itu.

Opini yang penulis utarakan ini merupakan sebuah seruan reflektif. Penulis tidak secara parsial menafsir aspek-aspek yang turut membentuk kronologi kejadian, tetapi lebih fokus pada pemaknaan isu yang sedang aktual berkembang di media mengenai isu konflik antar etnis. Ada sebuah kekhawatiran yang perlu disiasati bahkan diredam sedini mungkin. Kekhawatiran ini penulis temukan dari berbagai tanggapan dan kritik publik yang diposting di media-media sosial.

Secara sepintas, penulis menemukan bagaimana kekecewaan dari pihak keluarga korban maupun sahabat korban. Memang, sebagian orang yang bermukim di wilayah NTT tentu mengenal dan tahu tentang adat masyarakat Lamaholot pada umumnya, dan masyarakat Adonara khususnya. Menurut pandangan banyak orang, masyarakat Adonara adalah salah satu etnis yang berada di wilayah Kabupaten Flores Timur yang sangat menjunjung tinggi adat-istiadat. Adonara selalu diklaim sebagai masyarakat perang karena berdasarkan basis sejarah leluhur (perang suku: Paji-Demon) yang terjadi puluhan tahun silam. Unsur sakral dalam ritus penumpahan darah sebagai bentuk pemulihan pasca perang itulah yang menjadi atribut bernilai yang tetap dijunjung sepanjang hayat. Oleh karena itu, masyarakat Adonara hingga saat ini masih kuat mengadopsi hukum sebagaimana yang terjadi dalam tradisi umat Perjanjian Lama (baca Kitab Suci) yang mengatakan, mata ganti mata serta gigi ganti gigi.

Dengan prinsip ini, kita bisa berasumsi bahwa keluarga dari pihak korban bisa menerapkan hukum yang sama untuk menebus nyawa. Maka bisa saja hukum gigi ganti gigi diplesetkan ke arah darah ganti darah. Akan tetapi, animo dari realitas ini lebih sebagai aspek deskriptif tentang tata adat masyarakat Adonara. Bukan tidak mungkin apa yang penulis utarakan tidak terjadi pasca tragedi nahas tersebut. Sebab dalam keseharian, pengalaman seperti ini rentan dan mungkin bisa terjadi.

Menyikapi latar-belakang adat budaya masyarakat Adonara sebagaimana penulis utarakan, sangat diharapkan agar pihak terkait (kepolisian) NTT mengusut kasus ini secara komprehensif. Hal ini sebagai bentuk antisipasi untuk menetralisir situasi agar tidak membias kepada perang atau konflik antar etnis. Penulis tidak bermaksud memperluas isu atas kasus ini, tetapi refleksi penulis ini berangkat dari rasa khawatir serta bentuk antisipasi atas realitas miris yang telah terjadi. Ada banyak kemungkinan yang bisa terjadi pasca tragedi berdarah ini. Oleh karena itu, diharapkan semua pihak perlu menciptakan situasi yang kondusif. Jika kita mengikuti alur pemberitaan di berbagai media, untuk sementara belum ditemukan adanya motif utama terjadinya tragedi berdarah itu. Bias dari aksi brutal yang dilakukan sekelompok mahasiswa (pelaku) tidak mengatasnamakan etnis tertentu. Hal ini bukan berarti bahwa perang atau konflik antar etnis tidak terjadi. Segala kemungkinan bisa terjadi kapan dan di mana pun. Sangat diharapkan agar konflik horizontal yang lebih melibatkan unsur subjektif tidak sampai melibatkan unsur kolektif atau etnis. Diimbau kepada seluruh masyarakat, baik dari pihak korban maupun pelaku, agar tidak menciptakan situasi dendam yang berujung pada konflik antarsuku. Semoga masyarakat yang terlibat dalam mengklarifikasi fenomena ini tidak membentuk konflik-konflik baru. Para pemerhati sosial diharapkan seefektif mungkin membantu menetralisir situasi agar tidak terjadi konflik susulan. Biarkan kasus ini diselesaikan secara hukum lewat jejak juang para aparatus negara.*

Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help