Bila Mendikbud Terpakau dalam Tari Memayu Hayuning Bawono

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy yang mengaku terpukau dengan tari "Memayu Hayuning Bawono"

Bila Mendikbud Terpakau dalam Tari Memayu Hayuning Bawono
Kontributor Malang, Andi Hartik
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy saat berkunjung ke SDN Mangliawan I, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Jumat (2/9/2016) 

POS KUPANG.COM, NUSA DUA -- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy yang mengaku terpukau dengan tari "Memayu Hayuning Bawono", berpendapat bahwa keharmonisan tercermin dalam gerak kolaborasi 156 penari.

"Sangat bagus. Luar biasa, dan ini adalah kolaborasi yang dibentuk dalam waktu singkat," kata Mendikbud usai menyaksikan tari kolaborasi Memayu Hayuning Bawono di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Nusa Dua, Rabu.

Ia mengapresiasi Bimo Wiwohatmo selaku koreografer dari tari yang memiliki pesan perdamaian ini, dan mampu membangun penampilan yang mencerminkan keharmonisan.

Ia berpendapat tarian ini membawa semangat multikultural dengan baik, dan di dalamnya terdapat simbol keberlanjutan.

Tidak hanya tariannya, menurut Muhadjir, pertunjukan tari tersebut juga berhasil mengharmoniskan antara teknologi dan seni. "Teknik pencahayaan juga bagus, sangat mendukung pertunjukannya".

Koreografer tari Memayu Hayuning Bawono Bimo Wiwohatmo mengatakan bahwa sesungguhnya memang satu gerakan itu universal. Seperti ketika orang berjalan, memang bisa berjalan dengan gaya masing-masing, tapi tidak ada masalah jika tempo dan teknik geraknya disamakan.

Bimo terharu karena 156 penari dari 14 negara yang melakukan kolaborasi pada malam pertunjukan yang digelar sebagai rangkaian World Culture Forum (WCF) 2016 ini ternyata sangat mengapresiasi kerja sama seni tersebut.

"Ada sesuatu yang baru dalam multigerak yang mereka tampilkan. Ada pengalaman baru buat mereka," ujar dia.

Seperti gerak terakhir dalam sangkakala, menurut Bimo, itu adalah kebersatuan, kebersamaan dalam simbol lingkaran yang tidak ada ujung dan pangkalnya.

"Jadi kita sama-sama lah di atas bumi ini, tidak ada pengkotak-kotakkan. Pengkotakkan itu hanya sebuah nama, oh namanya A namanya B, oh negaranya A negaranya B, tapi intinya tetap sama," ujar dia.

Lagu penutup yang dimasukkan dalam pertunjukan tari tersebut adalah Imagine milik John Lennon. Dan alasan memilih lagu tersebut, menurut Bimo, karena ingin memberikan pesan bahwa kita hidup di bumi sebaiknya menjaganya karena ini tempat hidup, berpijak, sehingga lingkungannya perlu dijaga.

Tantangan terbesar untuk membuat koreografi tersebut, menurut Bimo, adalah masalah bahasa. "Meski faktanya ada yang tidak bisa berbahasa Inggris terutama dari Taiwan. Yang lain kadang-kadang bahasa inggrisnya terbatas juga, tapi faktanya teratasi".

Karena, menurut dia, kesenian sebenarnya bukan merupakan bahasa verbal tetapi lebih kepada bahasa tubuh. Sangat mudah untuk diciptakan menjadi satu rangkaian seperti yang sebelumnya.

Koreografi dari tari yang dipertunjukkan di hadapan ratusan peserta WCF 2016 tersebut dibuat dalam waktu lima hari, dan menurut dia, waktu tersebut sangat tidak wajar. (Kompas.Com)

Editor: Rosalina Woso
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help