Pasien RSUD Kupang Diduga Bunuh Diri

Husein Pria yang Rajin Solat

Muhamad Husein (33), pasien di RSU Prof Dr WZ Johannes Kupang yang nekat bunuh diri dengan menikam pisau di lehernya, ternyata rajin solat atau rajin

Husein Pria yang Rajin Solat
POS KUPANG/MAKSI MARHO
Inilah ruang kelas 2 laki, RSUD Prof WZ Johannes Kupang tempat pasien yang tewas bunuh diri 

Laporan Wartawan Pos Kupang, Maksi Marho

POS KUPANG.COM, KUPANG -- Muhamad Husein (33), pasien di RSU Prof Dr WZ Johannes Kupang yang nekat bunuh diri dengan menikam pisau di lehernya, ternyata rajin solat atau rajin sembahyang.

Korban juga tidak berperilaku aneh sehingga tindakan bunuh diri yang dilakukan sontak membuat semua kaget.

Hal itu diungkap Jimmy Hosana, salah seorang pasien yang dirawat satu ruangan dengan korban. Setelah kejadian kasus bunuh diri, Jimmy Hosana dipindahkan ke kamar sebelahnya. Kasus bunuh diri pasien RSU Prof Dr WZ Johannes Kupang terjadi, Senin (19/9/2016) siang, sekitar pukul 11.00 wita.

"Di kamar itu ada empat tempat tidur. Satu tempat tidur pasiennya sudah lebih dulu meninggal dunia. Sehingga sisa kami tiga orang. Waktu itu saya sedang ke ruang cuci darah, terus pasein yang satunya sedang ke ruangan rongent. Di ruangan waktu itu ada istrinya. Tapi kemudian istrinya pergi untuk ambil obat sehingga dia sendirian di kamar. Saat itulah dia melakukan aksi bunuh diri," kata Jimmy ketika ditemui di kamar sebelah timur dari ruangan tempat kejadian, Selasa (20/9/2016) siang.

Hingga Selasa (20/9/2016) siang, ruangan Komodo RSU Prof Dr WZ Johannes Kupang yang menjadi TKP kasus bunuh diri masih dipasang garis polisi oleh pihak kepolisian. Pintu kamar ruangan Komodo tampak masih ditutup rapat.

Wadir Pelayanan RSU prof Dr W Z Johannes Kupang, dr Mina Sukri yang ditemui di ruang kerjanya, Selasa (20/9/2016) siang, menolak memberi keterangan.

"Nanti pak direktur RSU kembali dari Jakarta baru gelar jumpa pers. Kita harus satu pintu dalam memberi ketarangan," kata Sukri.

Kasat Reskrim Polres Kupang Kota, AKP Didik Kurnianto di Mapolres Kupang Kota, mengatakan, korban melakukan aksi bunuh diri karena mengalami depresi karena menderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Pihak keluarga juga menolak jenasah korban diotopsi dan menerima kematian tersebut sebagai ajal. Sehingga kasusnya ditutup dan tidak dilakukan penyelidikan lebih lanjut.*

Penulis: maksi_marho
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved