Klaim Nyasar dan Tak Berdasar

Jjikalau YS ingin dipandang sebagai seorang pengamat puisi 'yang baik', maka ada baiknya menjadikan objek puisi yang sudah terkenal ...

Klaim Nyasar dan Tak Berdasar
ilustrasi

Tanggapan atas Opini "Puisi yang Baik dan yang Buruk" Yohanes Sehandi

Oleh: Muhammad Soleh Kadir
Guru Bahasa Indonesia di SMPN Satap Tapobali

POS Kupang edisi Selasa (13/9/16) melansir opini dengan titel "Puisi yang Baik dan yang Buruk". Opini bergenre sastra ini digurat oleh mata pena Yohanes Sehandi (YS). Menurut dosen sastra Universitas Flores ini, "... puisi yang baik, yang berbobot literer adalah puisi yang berada antara dua dunia atau dua realitas, yakni realitas faktual (fakta) dan realitas fiksi (imajinasi). Realitas faktual adalah segala sesuatu yang ada dan benar-benar terjadi, tercerap oleh panca indera, ada dalam kenyataan, bisa dibuktikan kebenarannya. Sedangkan realitas fiksi adalah realitas imajinasi yang diciptakan penyair, hanya ada dalam pikiran dan perasaannya, namun 'seolah-olah ada dan terjadi' di mata hati pembaca." (alinea: 5).

Bobot Literer yang Tak Literer
Ada sebagian kecil hal dalam opini itu yang perlu kita diskusikan bersama. Pertama, 'puisi yang baik, yang berbobot literer', sesuai nukilan sebelumnya. Pernyataan ini cukup mengganggu urat nalar awam saya. Pasalnya, pencatutan kata 'literer' sebagai penguat dalil tersebut, dalam kaca mata saya, tergambar sekadar lipstic. Bahkan, cenderung kamuflase (nisbi). Apa alasan saya?

Bilamana penulis kekeh mencatut kata 'literer' sebagai garansi pendapatnya agar terlihat ilmiah, maka paling tidak dalam menginterpretasikan kata 'puisi', harus didahului dengan 'literatur' sebagai landasan teoretis. Karena, kata 'literer' atau 'literatur' (ALA Glozary of Library and Information Science) bermakna bahan bacaan yang dipakai dalam berbagai macam aktivitas, baik secara intelektual maupun rekreasi.

Nah, sementara itu, dalam opini tersebut, tak ditemukan satu pun pengertian puisi berdasarkan 'literer'. Bahkan, literatur puisi sestandar KBBI ataupun pendapat dari beberapa ahli puisi termasyhur, semisal A. Teeuw dan HB. Jassin, pun tak ada. Adapun penukilan nama A. Teeuw, pada hidangan tulisan itu sekadar mengutip satu istilah yang biasa digunakan oleh sang ahli, bukan definisi puisi dari sang ahli itu. Dengan demikian, urat awam saya menyimpulkan, pengertian puisi yang disodorkan oleh YS yang katanya berbobot literer sungguh tidak literer.

Klaim Nyasar Tak Berdasar
Selanjutnya, bilamana YS melemah lantas ikhlas mendelete kata 'literer' dan menggantinya dengan kata 'menurut pendapat saya', maka pendapat dari YS ini pada bagian selanjutnya perlu kita diskusikan lagi. Di antaranya, pemilihan puisi dan pengarang, yang dijadikan sebagai sampel untuk mengklaim 'puisi baik' dan 'puisi buruk'.

Akal picik saya, jikalau YS ingin dipandang sebagai seorang pengamat puisi 'yang baik', maka ada baiknya menjadikan objek puisi yang sudah terkenal dan ditulis oleh penyair terkenal, sebagai bahan analisis atau sampel pendapatnya. Ambil contoh, puisi-puisi yang ditulis oleh penyair terkenal Indonesia: Chairil Anwar, Sutardji Calzoum Bachri, Mario F Lawi, dan Bara Pattyradja.

Kenyataannya, puisi-puisi yang dijadikan sampel untuk memperkuat klaim YS adalah puisi-puisi yang belum banyak dibaca orang (belum terkenal), termasuk penulisnya. Semisal puisi 'Kepada Bung Karno' karya Ata Labala, yang diambil YS dari postingan facebook. Atau puisi 'Kerinduan' karya DA Alfredo yang dikliping dari Pos Kupang (21/2/2010).

Naasnya lagi, tak ada analisis yang kritis dan ilmiah atas puisi tersebut. Namun, YS justru secara lantang mengklaim puisi tersebut termasuk 'puisi buruk' dan 'puisi baik'. Klaim yang dilontarkan tersebut hanya berdasar pada amatan kesetimbangan faktual dan fiksi saja.

Bagi saya, pengklaiman ini sungguh nyasar dan tak berdasar. Nyasar, karena yang dikuliti adalah para penulis pemula, bukan penulis terkenal. Jika pengklaiman itu disasarkan kepada penulis sekelas Mario F Lawi, tentu Mario dapat memiliki ketahanan intelektual atas itu. Lebih-lebih, Mario juga memiliki senjata pamungkas sebagai pertanggungjawaban ilmiah atas karyanya. Namun, bagaimana dengan kesigapan batin penulis pemula? Apa yang diharapkan YS? Ibarat menginjak rumput di taman sebagai tumpuan memetik mangga.

Selanjutnya, pengklaiman ini juga tak berdasar. Karena, tidak disertai dalil-dalil skriptural. Tak ada satu teori pengkajian puisi pun yang disertai untuk memperkuat klaim tersebut. Bahkan, kajian sestandar intrinsik dan ekstrinsik pun tiada. Apalagi, struktural genetik, semiotik, sosiolinguistik, dan psikolinguistik. Dengan begitu, menurut urat nalar awam saya, klaim yang dibangun YS dalam opininya tersebut sungguh nyasar dan tak berdasar.*

Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved