Menuju Sukacita Festival

Mengamati dan mengawal Festival Seni Pertunjukan antarSMU/SMK/MA se-Kabupaten Flores Timur

Menuju Sukacita Festival
ilustrasi

Catatan terhadap Festival Seni Pertunjukan di Flores Timur

Oleh Silvester Petara Hurit
Esais, Pengamat Seni Pertunjukan, Tinggal di Lewotala Flotim

POS KUPANG.COM - Mengamati dan mengawal Festival Seni Pertunjukan antarSMU/SMK/MA se-Kabupaten Flores Timur dalam beberapa tahun terakhir terasa betul iklim kompetitifnya. Festival karena dirangsang dengan kejuaraan-kejuaraan menjadi ajang pertaruhan gengsi dan nama baik sekolah termasuk reputasi guru pelatihnya. Kritik, tudingan bahkan hujatan biasanya datang dari sekolah yang tidak puas dengan hasil kerja tim pengamat.

Kejuaraan-kejuaraan dalam sebuah festival, apalagi festival pelajar, tak lain adalah sebentuk rangsangan dan motivasi supaya tumbuh gairah untuk senantiasa menampilkan yang terbaik dari sebuah kerja kreativitas. Yang terbaik dalam konteks pendidikan remaja bukan terutama perfeksi artistik melainkan kerjasama dan optimalisasi kemampuan dalam merancang-bangun dan mewujudkan kerja bersama dalam wahana yang bernama seni pertunjukan.

Karya seni pertunjukan merupakan hasil kerja kolektif. Kerja kolektif mengandaikan adanya proses bersama. Individu-individu yang terlibat di dalamnya belajar menyesuaikan dirinya dengan orang lain, saling topang, saling rangsang dan saling menguatkan demi target komunikasi pertunjukan yang efektif.

Hakekat pertunjukan adalah pengalaman perjumpaan. Yang menarik dalam event tahunan pelajar SMU/SMK/MA di Flores Timur adalah bagaimana para pelajar 'berjumpa' dengan khazanah kulturalnya dan melakukan kerja penciptaan yang bersumber darinya. Mencipta tak pernah bisa lepas dari kerja tafsir. Pada tafsirlah, dalam tingkatan yang paling sederhana sekalipun, diharapkan lahir pembacaan, cara pandang, pendekatan atau perspektif baru dari tradisi budaya yang dirujuknya. Diskusi, tukar atau sharing gagasan secara intensif dibutuhkan demi mencapai pengertian dan kesepahaman bersama.

Sukacita belajar
Spirit festival idealnya bertabur sukacita (pesta). Perayaan kegembiraan dalam indahnya ekspresi. Di sana bukan terutama siapa yang mengangkat piala, membusungkan dada dan menyatakan diri sebagai yang terbaik melainkan kegembiraan bisa berbagi dan belajar bersama dari kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh peserta dari sekolah lain. Yang belum menjadi juara misalnya, menyadari kekurangan, mengakui dan turut bergembira atas pencapaian peserta-peserta lain.

Maka festival pelajar menjadi ajang pembentukan karakter manusia pembelajar. Orang kreatif tidak lain adalah pribadi pembelajar. Yang senantiasa punya kegairahan mencari dan bereksplorasi. Bergembira menemukan jalan dari sekian kebuntuan, solusi dari kusutnya persoalan, sisi baru dari tradisi, cara pandang dan kemungkinan baru dari realitas yang dianggap baku dan beku.

Festival, apalagi festival seni pertunjukan, menekankan semangat berproses. Bahwa segala sesuatu tidak bisa dicapai secara instan. Menjadi juara bukanlah tujuan akhir. Yang mesti dilihat adalah apa yang dapat dibenihkan, ditumbuhkembangkan dan dirayakan secara bersama. Menyangkut kepentingan yang lebih besar daripada sekedar gengsi kejuaraan.

Bertemunya pelajar dan guru dari sekian sekolah idealnya menjadi momentum yang menggembirakan. Kesempatan saling belajar dengan segala kecenderungan pilihan bentuk, isi maupun gaya pemanggungan. Panggung menjadi obyek studi yang memikat dan menggairahkan. Minat pada sekolah lain dan karya orang lain memberi kontribusi besar pada pertumbuhan karya sendiri.

Spirit sukacita dalam berinteraksi, belajar dan berkarya inilah yang mesti dibenihkan dan dipelihara. Kejujuran dan ketulusan merupakan aspek penting dari kerja seni. Event festival menjadi panggung kecil mengakrabi dan menghormati yang lain dan keberlainan. Mengembangkan respek dan pengakuan terhadap kelebihan dan kekurangan diri maupun orang lain.

Perlahan tapi pasti problem ego sektoral, rasa hebat sendiri, tidak mengakui keunggulan dan kelebihan orang lain mulai dapat ditinggalkan. Budaya kerjasama dan saling topang dikedepankan. Yang ditanamkan adalah optimisme belajar dan berkarya menyambut masa depan dengan sukacita.

Idealnya festival pelajar tahunan di Flores Timur ini menjadi panggung alternatif untuk meneropong dan membongkar praktek dan paradigma kolonial yang tercapak di tubuh pendidikan kita dalam bentuk superioritas diri yang sempit sambil menggali hakekat ke-Lamaholot-an yang mempersatukan. Menjadikan yang lain, yang berbeda, sebagai bagian integral dari diri dan keberadaan kita.

Jika demikian maka akan terasa suasana festivalnya. Semua yang hadir berpartisipasi dan belajar dengan sukacita. Keindahan bukan hanya sebatas cerita di panggung sandiwara melainkan sungguh menjadi kisah nyata, kisah sukacita di panggung kehidupan aktual kita di masa-masa mendatang. *

Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved