Menunggak Rp 124 Juta di RS Sanglah Romanus Sadar Pentingnya BPJS Kesehatan

belum memikirkan hutang-hutangnya saat ini karena ingin membawa pulang Katarina ke kampung halamannya di Atambua untuk dimakamkan

Menunggak Rp 124 Juta di RS Sanglah Romanus Sadar Pentingnya BPJS Kesehatan
tribun bali
TRIBUN BALI/ SARAH VANESSA BONA DIAM-Romanus terdiam menatap peti jasad istrinya, Katarina Lalian, saat hendak beribadah sederhana di Pendopo Rumah Duka RSUP Sanglah, Senin (5/9) lalu. 

POS KUPANG.COM-Romanus Teresi (25), warga asal Atambua, NTT, di Bali, baru menyadari pentingnya memiliki kartu BPJS Kesehatan setelah istrinya, Katarina Lalian (24), meninggal dunia di RSUP Sanglah, Denpasar, Bali, Jumat (1/9) lalu akibat hipertensi. Romanus pun belum membayar biaya perawat istrinya itu yang jumlahnya mencapai Rp 124.607. 831.

Sebelumnya Katarina dirawat di RSUP Sanglah pada Sabtu (13/8) karena mengalami hipertensi saat kehamilan (praeklamsia) yang juga menyebabkan dirinya harus melahirkan bayi pertamanya secara caesar. Romanus mengatakan, Katarina sempat tak sadarkan diri dan hilang nafas saat keduanya pergi ke RS menggunakan mobil pinjaman dari seorang teman.

Romanus mengatakan, Katarina sudah dirawat selama lebih dari 20 hari dan belum pernah sekalipun sadar sejak masuk rumah sakit. Romanus masih mengingat kondisi terakhir Katarina dimana tensinya sangat tinggi hingga mencapai 190/60. Ia juga tak merasakan firasat aneh sebelumnya hingga dokter mengatakan istrinya telah meninggal dunia saat itu.

Romanus mengaku belum memikirkan hutang-hutangnya saat ini karena ingin membawa pulang Katarina ke kampung halamannya di Atambua untuk dimakamkan. "Mungkin biayanya tidak sebesar itu kalau saya memiliki kartu BPJS Kesehatan. Saya baru sadar pentingnya BPJS Kesehatan. Setelah ini saya mengurusnya," ujar Romanus.

Romanus pun menceritakan bahwa Katarina adalah seorang wanita yang suka bekerja. Sebelumnya Katarina pernah bekerja sebagai petugas kebersihan di Malaysia selama tiga tahun. Namun semenjak tinggal di Bali dan mengetahui dirinya hamil, Katarina memutuskan untuk berhenti bekerja dan menjaga kandungannya.

Romanus juga sering membawa istrinya memeriksakan kehamilan di puskesmas ataupun bidan. Selama pemeriksaan, tensi Katarina selalu berada di angka 100-120 dan Katarina juga tak memiliki riwayat penyakit darah tinggi. "Kalau miliki BPJS Kesehatan mungkin perawatan di puskesmas tidak dirawat," ujarnya.

Romanus bertanggungjawab membayar semua hutang itu dengan cara dicicil. "Kalau bayar tunai saya tidak mampu, tapi kalau boleh dicicil akan saya bayar sampai lunas," harapnya.

Dirut RSUP Sanglah, I Wayan Sudana, mengatakan RSUP Sanglah selalu mengutamakan pelayanan tanpa melihat apakah itu pasien mampu ataupun tidak mampu. Sudana menjelaskan pihak RS belum dapat mengatakan Romanus tidak mampu karena pria kelahiran Atambua tersebut tidak dapat menunjukkan KTP dan surat keterangan tidak mampu dari daerah.

"Kami akan bicara dulu dengan bapak Romanus dan tentu berkoordinasi dengan pemerintah daerah pihak yang bersangkutan jika memang benar pasien tergolong kurang mampu agar tidak salah memberikan bantuan nantinya," ujar Sudana di sela-sela kesibukannya.

Romanus sedikit lega karena pihak RSUP Sanglah membolehkan membawa pulang jasad istrinya ke kampung halamannya di Atambua menggunakan pesawat yang dibayar oleh keluarga di Atambua. (tribun bali)

Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help