Polisi Adat dan Strukturasi Wisata Alam dan Budaya Kelimutu

Salah satu destinasi wisata alam dan budaya yang unggul sejak zaman Bung Karno di Flores adalah Kelimutu dan perkampungan adat sekitarnya.

Polisi Adat dan Strukturasi Wisata Alam dan Budaya Kelimutu
Ist
Danau Kelimutu

Oleh: Dr. Watu Yohanes Vianey, M.Hum
Dosen Unwira Kupang

SEJAK tahun 1991 Provinsi NTT telah dirancang bangun menjadi salah satu dari 17 daerah tujuan pariwisata di Indonesia. Teristimewa jenis pariwisata alam dan pariwisata budaya, yang terkait dengan keunikan alam dan pemukiman perkampungan adat. Dalam hubungan dengan pembangunan kepariwisataan alam dan budaya tersebut, dan dalam perspektif paradigma merek "NTT" terbaru, sebagai 'Wilayah Baru Turisme' apakah kegiatan pariwisata alam dan budaya eksotis ini sungguh-sungguh distrukturasi sebagai sebuah industri yang kreatif dan rekreatif, etis dan estetis, sakral dan aman?

Di Indonesia pada umumnya, gunung yang sakral dan kampung-kampung budaya penopangnya meninggalkan jejak peradaban warisan budaya Nusantara, yang jika dilihat dari sisi lapisan sejarahnya terdiri dari lapisan budaya Prasejarah, Austronesia, Hindu, Budha, Islam, dan Eropah (Kristen). Hal mana jejaknya juga tersimpan pada warisan tata ruang kosmis sekitar gunung dan perkampungan budaya lokal di seluruh wilayah Flobamorata. Jika di Bali kental dengan lapisan budaya Prasejarah, Austronesia dan Hindu, maka di Flores tersimpan warisan budaya Prasejarah, Austronesia, Hindu Purba, dan Katolik Roma (Ardika, 2007; Watu, 2009).

Salah satu destinasi wisata alam dan budaya yang unggul sejak zaman Bung Karno di Flores adalah Kelimutu dan perkampungan adat sekitarnya. Tahun 1979 penulis pertama kali mengunjungi dan merasakan keindahan mistikal tata ruang Kelimutu. Ada lautan warna merah darah seperti darah kerbau korban di Tiwu Ata Polo. Terasa kesejukan ribuan rintik warna hijau daun "mawo lai liko oge" di Tiwu Nua Muri Koo Fai, dan kekalnya warna hitam yang "mite ri" (misterius) Tiwu Ata Mbupu. Pengalaman mistikal warna itu kembali hadir ketika bulan Mei 2016 saya mengunjungi ruang kosmis Kelimutu bersama Mosalaki Blasius Radja. Sebelum masuk ke ruang kosmisnya, Pa Blas dan saya memohon izin kepada penjaga pintu mistikal Kelimutu, yaitu Leluhur Konde. Sirih, pinang dan tembakau yang dibawa dari Kupang, kami sajikan di tempat sakral itu. Dan beberapa menit berikutnya kami disambut dengan sapaan getaran bas dari suara burung yang dalam bahasa Bajawa saya disebut "Bengu". Bengu adalah makhluk langit yang juga ada di hutan gunung Inerie. Selanjutnya kami berdua mendaki, membayar karcis masuk, dan tiba di lokasi terakhir sebelum masuk area Danau Kelimutu, yang dijaga dua orang polisi dan kehadiran beberapa wisatawan lokal dan mancanegara.

Di tempat itu ada sebuah rumah persinggahan, yang berarsitektur Lio dan rumah biasa yang rupanya digunakan untuk menjual makanan dan minuman ringan dan beberapa potong kain tenun adat. Pada rumah yang berarsitektur vernakular itu Pak Blas memeluk tiang utamanya. Beberapa tahun sebelumnya, beliau adalah putra pertama Mosalaki Lio-Ndori yang mengorbankan seekor kerbau di wilayah kosmis ini. Dua polisi penjaga di situ adalah anggota Polri yang tampaknya tidak peduli dengan ekspresi kultural religius dari Pak Blas. Perilaku tidak peduli itu dapat dimengerti, karena mereka bukan polisi adat.

Polisi Adat
Dapatkah wisata alam dan budaya Kelimutu dan berbagai potensi wisata alam dan budaya yang lain di Flobamorata ini distrukturasi sebagai industri pariwisata yang kreatif dan rekreatif, etis dan estetis, sakral dan aman? Dan jika demikian, maka apakah perlu membentuk institusi polisi adat untuk bersama masyarakat menjaga keamanan bagi pusaka alam dan budaya ini?

Strukturasi itu dimaknai sebagai penataan relasi-realasi sosial lintas ruang dan waktu berdasarkan dualitas struktur. Dualitas struktur (duality of structre) dalam pandangan Giddens (1995) menegaskan tentang struktur sosial dalam dunia kehidupan suatu masyarakat sebagai media dan hasil perilaku dari para pendukungnya. Struktur sosial itu diorganisasikan secara dinamis, baik dalam tindakan yang mempertahankan dan menumbuhkembangkan struktur yang ada secara produktif dan reproduktif maupun yang sebaliknya.

Dunia takjub dengan keajaiban ruang kosmis Kelimutu. Maka dalam kaca mata teori strukturasi itu, saya kira masyarakat adat pendukung budaya Kelimutu, Pemerentah Daerah Kabupaten, serta Gereja Lokal (terutama yang terlibat dalam festival Kelimutu) dapat mengaktualkan semua modal wisata yang sudah ada. Selanjutnya dalam keseluruhan kegiatan kepariwisataan, suka atau tidak suka, butuh keterlibatan Polri untuk merawat ketertiban sosial dan kesakralan religio kosmisnya. Untuk itu perlu adanya kulturasi dengan tindakan strukturasi keberadaan lembaga Polisi Adat yang bekerja sama dengan Polri.

Jika diterima ide ini, maka usul saya adalah sebagai berikut. Eksistensi Polisi Adat itu mohon berguru pada kearifan tradisi "Mula Tura Wake Jaji" yang mengunggulkan strategi inside out dan kesaktian para Leluhur Lio. Teristimewa dalam perlindungan Sang Konde. Situs altar batunya perlu dirawat secara sadar, aktif, dan saleh. Selanjutnya gaji Polisi Adat mohon dibiayai oleh anggaran negara. Karena sesungguhnya struktur kelembagaan semirip ini, telah dipraktikkan di Provinsi Sumatera Barat dan Bali.*

Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help