Terorisme Mengancam Perdamaian

Terorisme global sangat membahayakan keselamatan umat manusia, karena itu seluruh umat manusia perlu waspada terhadap yang satu ini.

Terorisme Mengancam Perdamaian
(ANTARA FOTO/David Muharmansya)
Ilustrasi aksi tolak ISIS

Oleh: Andy Mello, SVD
Magister Pendidikan UNY

DUNIA internasional dikejutkan lagi dengan berbagai aksi dari trend terorisme global. Dari mulai aksi bom bunuh diri, aksi pemboman di sekian tempat, baik di airport, tempat ibadah, gedung yang digunakan untuk aktivitas bisnis dan perkonomian hingga ke aksi-aksi penyanderaan seperti yang dilakukan oleh para teroris di Filipina. Sesungguhnya terorisme global ini sangat membahayakan keselamatan umat manusia di seluruh penjuru dunia, karena itu seluruh umat manusia perlu waspada terhadap yang satu ini. Terorisme adalah suatu bentuk aksi kebiadaban dari kepengecutan sekelompok orang dengan maksud untuk menciptakan suatu kondisi yang menakutkan dan menimbulkan trauma masyarakat. Untuk mendukung rencana aksi terorisme tersebut, mereka biasanya menaburi "bumbu" terorisme dengan kata demi membela Tuhan, membela agama, menghancurkan bangsa kafir, memerangi barat dan Yahudi, perang jihad, dsb. Memang bumbu-bumbu tsb tidak selamanya harus selalu dikaitkan dengan kata "agama", tetapi juga dengan "bumbu-bumbu" ideologi tertentu seperti demi nasionalisme atau marxisme, atau juga demi komunitas dan golongan tertentu. Bumbu agama dapat lebih mempunyai efek negatif yang lebih besar daripada hanya sekedar bumbu ideologi, ras, atau komunitas tertentu. Fundamentalisme agama adalah salah satu paham yang dapat menjadi akar tindakan-tindakan irasional, seperti kekerasan atau terorisme dengan motif menjalankan perintah agama.

Di balik berbagai aksi terorisme selalu muncul klaim paham keagamaan. Karenanya serentak menunjuk fundamentalisme sebagai aktor utamanya. Dengan demikian stigma fundamentalis kental disematkan kepada kaum teroris. Fundamentalisme yang memupuk lahirnya terorisme mengembangkan satu ideologi yang merasuki kehidupan para teroris, selanjutnya menjadi suatu pilihan hidup. Karenanya terorisme menjadi sebuah komunitas yang mempunyai lembaga, titik tolak perjuangan serta objek yang jelas.

Fundamentalisme pada dasarnya berkaitan dengan mekanisme rasionalitas yang mampu menggali nilai-nilai luhur keagamaan seperti keadilan dan kemanusiaan. Namun, justru tidak menunjukkan substansi pokok keagamaan tersebut. Faktanya fundamentalisme telah memupuk lahirnya terorisme dengan mengedepankan credo kekerasan.

Terorisme biasanya selalu berkaitan dengan gerakan ekstrem politik, baik dari sayap kiri maupun sayap kanan. Kelompok ektremis biasanya mempergunakan senjata terorisme untuk menekan pemerintah, menyerang kekuatan status quo atau oposisi, melumpuhkan kegiatan ekonomi, dan juga untuk meraih dukungan dari sekelompok masyarakat yang buta dan fanatik. Mereka biasanya sangat senang dalam menyebarluaskan propaganda-propaganda dengan menggelorakan rasa sentimen anti golongan tertentu dengan maksud untuk menumbuhkan rasa benci yang mendalam terhadap golongan tertentu tersebut. Hal ini dimaksudkan agar rasa kebencian tersebut mampu menjadikan para korban propaganda sebagai orang-orang psikopat yang nantinya bakalan menjadi pendukung fanatik mereka. Yang menjadi sasaran dari propaganda biasanya adalah sekelompok orang yang disinyalir mempunyai ciri, yakni fanatik, radikal, emosional, militan, dan mudah terbuai oleh janji-janji manis dari si pemimpin ektremis tersebut.

Melawan terorisme adalah tugas kita semua bukan hanya pemerintah dan aparat keamanan. Menghadapi aksi para teroris yang semakin meningkat, maka kita perlu memikirkan beberapa alternatif untuk meredam munculnya aksi teroris pada masa mendatang.

Perlu adanya dialog dan pendekatan persuasif dengan kaum fundamentalis. Karena teroris berkaitan erat dengan fundamentalisme, maka selalu berhubungan dengan agama-agama tertentu. Perlu mencari akarnya dalam agama. Dialog dan pendekatan persuasif tersebut bertujuan untuk menggali muatan di balik aksi para teroris.

Setiap agama terbuka terhadap rasionalitas. Bagi Habermas, bahaya fundamentalisme dan kekerasan atas nama agama bisa dihindari jika agama-agama terbuka terhadap prinsip-prinsip akal budi. Agama harus ditantang untuk menggunakan senjata bahasa (rasionalitas) dan bukannya bahasa senjata dalam menyelesaikan konflik. Agama juga mesti menerjemahkan doktrin-dokrtin teologisnya ke dalam term-term rasional, sehingga dapat dimengerti oleh pemeluknya. Dengan demikian doktrin-doktrin tersebut tidak disalahtafsirkan sehingga tidak melahirkan fundamentalisme (agama).

Perlu ada ketegasan hukum. Hukum sebagai diskursus penegakan keadilan mesti tegas dan tidak diintimidasi oleh pihak luar. Hukum bekerja pada garis kebenaran, karenanya ia independen dan tidak mengarah pada kepentingan-kepentingan politik tertentu. Pemerintah harus tangkas dalam menangani kasus terorisme.

Perhatian terhadap unsur-unsur tersebut, maka kestabilan, keamanan sosial dan politik tercipta. Seiring dengan itu tercipta pula kesadaran manusia akan nilai-nilai kemanusiaan. Marilah kita melawan terorisme agar visi-visi kemanusiaan dan perdamaian di dunia dapat terwujud.*

Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help