Banyak Anak Sekolah, Tak Banyak Pelajar

Hanya dengan membaca Anda dapat membaca dunia dan membuka gembok ilmu pengetahuan.

Banyak Anak Sekolah, Tak Banyak Pelajar
Shutterstock
Shutterstock Ilustrasi membaca 

Oleh: Marsel Robot
Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Undana

SETIAP kali mahasiswa keluar-masuk sebuah ruangan berukuran 3 x 6 m2 itu pasti memancarkan wajah sungut, mencak-mencak, membantingkan kaki ke lantai mendistribusikan kemarahannya. Pasalnya, mahasiswa yang hendak mendapat tanda tangan surat apa saja dari Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, ia wajib membaca beberapa halaman sebuah buku yang telah disiapkan, kemudian dilaporkan hasilnya.

Reaksi mahasiswa di atas mengindikasikan, aktivitas membaca dirasakan sebagai penyiksaan. Membaca seolah sebuah insiden yang membebankan dan menyebalkan. Padahal, mereka lupa bahwa menulis adalah penderitaan yang sebenarnya. Ketika menulis laporan ilmiah, atau menulis skripsi, maka segera datang petaka dan kepekatan itu. Sebab, bagaimana ia menulis laporan ilmiah sebanyak 20.000 kata, jika stok kosa kata dalam rak pikirannya hanya tersedia 3.000 kata?

Aktivitas literasi ini telah ditradisikan sejak setahun yang lalu di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Undana. Kepada mereka, sering saya mewanti, "Nak, adat istiadat akademik adalah membaca dan menulis. Kantor ini adalah rumah adatmu. Mahasiswa yang masuk rumah adat harus tahu adat, ya membaca itulah ritual penting atau adat istiadatnya. Hanya dengan membaca Anda dapat membaca dunia dan membuka gembok ilmu pengetahuan. Sambil mengutip petuah Francis Bacon, saya menambahkan, membaca membuat manusia bernas, bicara membuat manusia siap, dan menulis membuat manusia menjadi cermat.

Kebijakan ini hanya usaha kecil untuk menumbuhkan kultur literasi di lingkungan kampus yang kian lama kian lenyap kepesonaannya sebagai lembaga ilmiah. Keluhan tentang jiplak-menjiplak, copy paste, plagiat dan seterusnya. Pada sisi lain, habitus itu terus dirimbunkan oleh kecanggihan teknologi informasi (internet). Internet telah memojokkan dan membuat mahasiswa tak berdaya. Sebab, ia menyediakan semuanya secara ajaib. Internet menjadi semacam "makhluk halus" di jagat kampus, bahkan di sekolah-sekolah. Anda meminta data apa saja darinya, ketik kata kunci, ikuti titahnya maka segera ia kabulkan.

Lingkungan Literasi
Ada kebijakan unik yang diberlakukan oleh Pemerintah Brasil dalam pembinaan tahanan. Untuk memperoleh potongan masa tahanan, para terpidana diwajibkan membaca buku sekurang-kurangnya 14 buku. Buku tersebut bisa berupa novel atau filsafat. Setelah membaca buku, mereka diminta menulis esai tentang buku yang dibaca dengan tata bahasa yang benar. Tulisan itu kemudian diajukan kepada panel. Panel akan menentukan apakah tulisan para tahanan itu layak untuk mendapatkan remisi atau tidak. Jika layak, maka para terpidana akan mendapat pemotongan masa tahanan empat hari. Kebijakan itu diterapkan dalam rangka pembinaan mental para terpidana. Mereka diharapkan memiliki pengetahuan yang luas. Buku sastra sebagai sasarannya memiliki maksud agar mereka mendapatkan pelajaran tentang kehidupan sehingga bermanfaat dalam praktik hidup sehari-sehari (Kompas, 27 Juni 2012, dalam Emzir dan Rohman, 2015: 3-4).

Kisah pendek di atas hendak menyodorkan dua hal. Pertama, aktivitas membaca akan meluaskan pengetahuan, dan kedua, aktivitas membaca akan bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari. Pertanyaan reflektif yang ditenteng di lingkungan kebangsaan kita ialah bagaimana puluhan juta siswa yang setiap hari menjejali sekolah? Seberapa banyak di antara mereka yang menjadi pelajar (tukang belajar)?

Berbagai survei memperlihatkan fakta yang memilukan dan memalukan. Laporan penelitian menempatkan Indonesia pada posisi 60 dari 61 negara. Indonesia hanya setingkat lebih tinggi dari Botswana, sebuah negara miskin di Afrika. Hasil sensus Badan Pusat Statistik (lihat selasar.com 29-5-2015, tahun 2006) menunjukkan 85,9 persen masyarakat memilih menonton televisi daripada mendengarkan radio (40,3 persen) dan membaca koran (23,5 persen). Menurut Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendikbud, kemampuan membaca anak usia 15 tahun, hanya 37,6% anak yang membaca tanpa bisa menangkap makna. Begitu pun dalam persoalan menulis, Indonesia hanya mampu menghasilkan 8.000 buku per tahun, tertinggal dari Vietnam yang mampu menghasilkan 15.000 buku per tahun. Taufik Ismail (penyair Indonesia) pernah melakukan semacam studi banding budaya baca di kalangan pelajar beberapa negara. Ia menyimpulkan, rata-rata lulusan SMA di Jerman membaca 32 judul buku, di Belanda 30 buku, Rusia 12 buku, Jepang 15 buku, Singapura 6 buku, Malaysia 6 buku, Brunei 7 buku, sedangkan Indonesia 0 buku. Masih banyak survei yang membentangkan keadaan yang serupa. Minat baca bangsa ini seakan tenggelam di lembah hitam yang memerlukan usaha pertobatan maksimal jika tak mau menjadi pemulung atau budak belia di rumah sendiri.

Keadaan kelam ini tentu saja tidak sepenuhnya kesalahan siswa. Mereka hanyalah produk dari sebuah era, lahir di sebuah negara, dibesarkan dalam sebuah kultur. Ada beberapa problem yang menyertai keadaan ini. Pertama, mudah dituduh bangsa kita masih begitu melankolis dengan oralitas (tradisi omong). Wadah yang mengukuhkan itu adalah kolektivitas. Lingkungan sosial kita tak terlatih sebagai lingkungan literasi. Ke mana saja kita pergi, entah di halte (perhentian bus) atau teriminal, di bandara, di atas bus, di atas pesawat, di tempat-tempat umum lainnya, jarang kita melihat aktivitas membaca warga masyarakat. Bagaimana siswa-siswa kita hidup di lingkungan sosial semacam ini? Keadaan ini diperparah oleh datangnya televisi. Teknologi ini memperkuat tradisi oral tadi. Bahkan, televisi-televisi Indonesia menyediakan secara khusus acara "omong-omong nama orang" seperti "gosip", "silet" atau apapun namanya yang menghela aib orang dari ruang pribadi ke ruang publik. Aneh pula, begitu senang kita mendengar aib atau kesusahan orang diobok-obok di ruang publik itu. Inilah acara sampah dan televisi adalah kotak sampah di ruang tengah. Dalam konteks ini, keluarga bukanlah lingkungan literasi. Sulit dibayangkan gairah membaca tumbuh di lingkungan keluarga.

Bagaimana dengan lingkungan sekolah? Lebih parah. Sekolah atau kampus telah lama kehilangan kepesonaannya sebagai lembaga ilmiah. Tak banyak ditemukan perpustakaan dengan buku-buku yang memadai, tak terlihat pojok baca di setiap sudut sekolah, jarang terlihat majalah dinding menggairahkan minat baca dan menulis bagi siswa, jarang terlihat bapa dan ibu guru, staf atau pegawai yang membaca saat beristirahat. Mungkin, keadaan itulah yang menyadarkan pemerintah, lantas melalui Permendik Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti melalui ajakan membaca 15 menit sebelum memulai pelajaran. Permen ini hanya sebuah ironi baru. Sebab, apa yang didapatkan selama 15 menit itu. Permen ini diterima sebagai imbauan tentang pentingnya membaca. Jauh lebih penting dari permen ini ialah bahwa aktivitas literasi harus dipandang sebagai kebutuhan, harus dijalankan sebagai habitus. Kita membutuhkan sebuah literasi lingkungan sosial, lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah. Ketiga lingkungan tempat siswa kita lahir dan dibesarkan. Tengoklah sejarah, kemajuan peradaban dunia dipastikan melalui peradaban buku. Pada era Socrates misalnya, para siswa di Yunani diperkenalkan dengan budaya membaca sehingga berkembanglah beragam ilmu pengetahuan dari sana. Kemudian Yunani menjadi sumber ilmu pengetahuan. Orang India menghabiskan waktu membaca 10,7 jam per minggu. Mungkin orang India terus disadarkan oleh Perdana Menteri India, Jawaharlal Nehru yang pernah mengatakan, "kemajuan iptek dan industri harus sejalan dengan kemajuan sosial dan kebudayaan. Indikator paling nyata adalah tingginya minat baca masyarakat agar mampu memahami dan menghargai berbagai kekayaan tradisi, seni dan budaya dalam masyarakat India.

Bangsa Indonesia sungguh membutuhkan lingkungan literasi (lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat dan lingkungan sekolah). Kita memiliki jutaan anak sekolah, tetapi sedikit yang menjadi pelajar. Pemerintah harus mengulurkan tangan untuk membantu menumbuhkan gairah membaca. Hanya orang cerdas dan berbudi pekerti yang mampu menghela negara ke arah yang lebih maju dan bermartabat. Mengerikan pula, apabila monster globalisasi datang mengepung dan memegang tua-tuas profesionalisme, maka kita menjadi orang yang telantar dan hanya menjadi suku cadang dari mesin-mesin yang mereka ciptakan. Kita hanya menjadi bangsa kuli, terus bersedih, dan negara hanya sebuah kuburan raksasa tanpa aksara.*

Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help