Sepelenya Proklamasi

Lima merah untuk Lebaran, dua untuk Natal dan hanya satu untuk tujuh belas Agustus. Betapa berartinya Idul Fitri dan Natal dan betapa tidak berartinya

Sepelenya Proklamasi
Foto karya Frans Mendur yang mengabadikan Presiden Soekarno membacakan naskah proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur, Nomor 56, Cikini, Jakarta. 

Oleh: Theodorus Widodo
Wakil Ketua Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) NTT

ADA perasaan sedih ketika menatap kalender 2016 yang tergantung di dinding. Lima merah untuk Lebaran, dua untuk Natal dan hanya satu untuk tujuh belas Agustus. Betapa berartinya Idul Fitri dan Natal dan betapa tidak berartinya Proklamasi. Libur cuma sehari. Tidak beda dengan hari besar yang lain.

Pikiran pun sontak kembali menerawang jauh ke masa lalu.

Suatu Sore di Pasar Chatuchak
Ini pasar tradisional di Bangkok yang sangat terkenal. Konon pasar tradisional ini terbesar se-Asia. Ke Bangkok selain ke kuil Wat Arun yang terbuat dari porselen atau ke istana raja Grand Palace, supaya lengkap para pelancong perlu sekali ke Chatuchak.

Letak pasar Chatuchak di dalam kota. Luas dan lengkapnya adzubillah. Tidak main-main. Keliling setengah harian belum tentu selesai. Jumlah gerainya lebih dari sepuluh ribu. Barang yang dijual di situ sangat beragam. Mulai barang antik sampai batu akik. Mulai ikan koi sampai ikan teri. Mau cari apa saja pasti ada. Pasar ini buka cuma sekali seminggu. Setiap akhir pekan. Orang Bangkok sudah terbiasa belanja kebutuhan rumah tangga seminggu sekali di pasar ini. Harganya pun murahnya minta ampun. Banyak barang yang sama membuat para pedagang harus banting harga. Pesaing banyak, omset harus dikejar.

Ketika sedang asyik belanja di toko pakaian, tiba tiba semua orang yang ada di situ diam tidak bergerak. Termasuk pelayan toko yang sedang melayani pembeli dan kasir yang sedang kembalikan uang. Juga semua orang di sekitar toko. Tanpa kecuali. Semuanya tiba-tiba diam mematung.

Kejadian aneh ini bikin saya bengong sendiri. Tapi tentu harus ikutan diam. Daripada ditegur atau dimarahi. Sementara itu ada lagu yang diputar di tape-recorder. Tiga menit kemudian lagu selesai. Seperti dikomando atau robot yang disetel pakai timer, semua sontak kembali bergerak. Si pelayan meneruskan pelayanannya. Si kasir terima uang. Proses tawar-menawar pun berlanjut. Suasana kembali gaduh. Ciri khas pasar tradisional.

Kebingungan terjawab ketika pelayan toko menjelaskan apa yang terjadi. Ternyata tape-recorder butut yang ada di situ baru saja selesai memperdengarkan lagu kebangsaan Muangthai "Phleng Chat Thai". Dan semua orang wajib mendengarnya. Dengan sikap diam penuh hormat.

Si pelayan menjelaskan, antheme ini wajib diperdengarkan di seluruh negeri. Setiap hari. Seperti minum obat, orang Thai wajib mendengar lagu kebangsaan mereka dua kali sehari. Pagi pkl 08.00 dan sore pkl 06.00. Setiap kali lagu itu diperdengarkan, semua orang wajib menghentikan seluruh kegiatan. Mendengarnya dengan sikap penuh hormat.

Rupanya ini salah satu cara efektif Muangthai merawat semangat kebangsaannya. Dengan mendengar lagu kebangsaan dua kali sehari, patriotisme orang Thai senantiasa dijaga. Tentu hasilnya adalah spirit persatuan. Semua merasa satu. Tidak peduli suku, agama, kelompok, golongan atau ras. Maka buat orang Thai perbedaan itu bukan soal. Perdana menteri boleh gonta-ganti setiap bulan. Demonstrasi bisa terjadi setiap hari. Tapi tidak ada pertikaian. Apalagi berdarah-darah. Faktor raja memang penting. Tapi semangat kebangsaan di kalangan rakyat jauh lebih penting.

Halaman
12
Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help