Berkuliah dalam Tuntutan KPT 2012

Saat ini, beribu-ribu tamatan SMA/SMK berjubel di loket pendaftaran berbagai kampus untuk mendaftar kuliah (menjadi mahasiswa).

Berkuliah dalam Tuntutan KPT 2012
Humas Undana
Berjubelnya calon mahasiswa saat mendaftar SMMU di kampus Undana, Selasa (19/7/2016) siang. 

Oleh: Gerardus D. Tukan
Dosen Biokimia FMIPA Unwira Kupang

SAAT ini, beribu-ribu tamatan SMA/SMK berjubel di loket pendaftaran berbagai kampus untuk mendaftar kuliah (menjadi mahasiswa). Di saat yang sama, semua perguruan tinggi di Indonesia sedang 'pusing' menyusun kurikulum yang bernama Kurikulum Pendidikan Tinggi tahun 2012, yang disingkat KPT 2012. Kurikulum ini merupakan revisi atau ekstremnya mengganti Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). KPT 2012 menghendaki setiap program studi harus mencetak sarjana yang kompetitif. Standar pembelajaran dan standar kualitas diri sarjana yang dihasilkan pun harus memenuhi ketentuan-ketentuan yang tertuang dalam Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Atau dengan kata lain, KPT 2012 yang disusun oleh tiap program studi harus berbasis KKNI.

KKNI merupakan suatu standar atau tuntutan yang ditetapkan oleh negara terhadap seorang lulusan (sarjana) yang diproduksi oleh program studi di perguruan tinggi. Standar atau tuntutan KKNI itu adalah bahwa program studi harus mencetak lulusan (sarjana) yang berkompeten, yang memiliki life skill, yang mandiri secara individual, sehingga mampu menciptakan lapangan kerja sendiri dan menyediakan lapangan kerja bagi orang lain. Sarjana yang dihasilkan pun harus mampu menghasilkan produk-produk inovatif sehingga mampu mangatasi masalah-masalah hidup yang dihadapinya di masyarakat.

Untuk dapat menciptakan sarjana sebagaimana standar KKNI, tiap program studi dalam menyusun KPT 2012, melewati 9 tahap yang cukup kompleks dalam menghasilkan sebuah kurikulum pendidikan untuk dijalankan. Pada tahapan awal penyusunannya, program studi sudah harus mematok profil lulusan yang akan dihasilkan. Profil lulusan yang dimaksud adalah sarjana yang mampu berperan dan berfungsi di masyarakat atau dunia kerja. Misalnya, profil lulusan sebagai seorang peneliti, manajer, perencana, guru kelas yang handal di jenjang pendidikan tertentu, pengusaha di satu bidang tertentu, dan lain-lain. Jadi, bukan lulusan yang hanya bertitel sarjana, yang hanya menggondol ijazah, yang hanya mempunyai IPK tinggi, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.

KKNI menuntut agar sarjana-sarjana Indonesia yang diproduksi perguruan tinggi pada tahun 2012 ke atas haruslah yang tangguh dan mampu menjadi penegak martabat negara dalam era kompetisi dunia. Dari tuntutan ini maka tentu ikutannya adalah selektivitas yang ketat atas rekrutmen tenaga kerja (bagi para pencari kerja), dan juga kompetisi produk usaha produktif di gelanggang pasar yang dihasilkan oleh para sarjana yang membuka lapangan kerja sendiri. Negara mungkin sudah geram menyaksikan jutaan sarjana yang diproduksi setiap tahun, namun bermental pencari kerja, atau bahkan menjadi penganggur bertitel sarjana. Statistik tahun 2014 mencatat bahwa penganggur berstatus tamatan perguruan tinggi sebanyak 688.660 orang (6,25%). Mungkin juga banyak dari mereka yang terindikasi menjadi beban negara.

Untuk memacu tercapainya profil sarjana yang dituntut negara ini, maka negara pun tidak tinggal diam. Negara, melalui Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi secara taktis menghadirkan atau menawarkan sejumlah program hibah kompetisi bagi mahasiswa. Ada program yang bernama Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), Program Hibah Bina Desa Mahasiswa (PHBDM), Program Kewirausahaan Mahasiswa, dan lain-lain. Dana hibah yang disiapkan cukup membantu mahasiswa untuk mengembangkan potensi diri selama menjadi mahasiswa, mengajak mahasiswa menjadi insan mandiri selama masih kuliah, yang pada akhirnya menjadi bekal untuk kemandirian setelah menjadi sarjana. Untuk mendapat dana-dana hibah pada program-program tersebut, mahasiswa harus mengajukan gagasan secara tertulis yang memenuhi syarat-syarat sebuah penulisan ilmiah. Mayoritas mahasiswa kita di NTT tidak sanggup berkompetisi atas peluang dan tawaran Dikti ini karena kemampuan menulis yang sangat lemah.

Batu Sandungan
Untuk memproduksi seorang sarjana yang memiliki profil sesuai standar KKNI, tidak hanya mengandalkan kerja keras para dosen di program studi atau perguruan tinggi untuk merumuskan dan menghasilkan kurikulum yang elok, serta banting tulang sendiri dalam proses perkuliahan untuk mengimplementasikan kurikulum itu. Prof. Dr. Edy Harianto (dosen senior Fuel Cell Institute Universitas Kebangsaan Malaysia), dalam seminar internasional bertopik 'Fuel Cell sebagai energi alternatif dan dampak ekonomi masa depan', dalam celah paparan materinya menekankan bahwa kampus dan dosen hanyalah petugas pintu. Calon mahasiswa datang mengetuk pintu. Kampus dan para dosen membuka pintu, lalu calon mahasiswa itu masuk ke suatu area baru untuk belajar memperdalam ilmu yang terbentang luas, serta pembentukan diri sendiri guna memiliki kemampuan kognitif, psikomotorik dan afektif. Dosen berperan mendampingi dan menguatkan dalam jalur kurikulum pendidikan.

Jika kita merefleksi, tampak begitu bertebaran batu-batu sandungan dalam menjalani proses sebagaimana yang dikemukakan Prof Edy itu, dan terutama untuk memenuhi tuntutan KKNI. Mampukah kampus atau program studi membentuk profil lulusan yang dipersyaratkan? Batu sandungan pertama adalah rendahnya minat membaca. Mungkin saja hanya satu dari seratus mahasiswa yang membaca tulisan ini. Mahasiswa kita dewasa ini rata-rata hanya membaca materi kuliah, dan kurang membaca bahan bacaan lain sebagai perluasan pengetahuan umum.

Batu sandungan kedua, para dosen 'terpaksa' hanya berkutat pada materi kuliah sebagaimana rencana pembelajaran dan bahan ajar yang disiapkan, karena kemampuan dasar dan kemampuan bawaan mahasiswa yang relatif tidak kuat. Para dosen mungkin sangat ingin dan peduli mengajak mahasiswa belajar secara komprehensif dengan pengembangan serta aplikasi, namun kemampuan bawaan mahasiswa yang lemah, yang menyebabkan dosen harus kembali mengulang dan memperkuat materi-materi dasar. Perkuliahan hanya berputar-putar pada penguasaan materi-materi dasar. Derap maju menjadi sangat terhambat.

Batu sandungan ketiga, para mahasiswa tampaknya tidak peduli kalau kemampuan dasar dan kemampuan bawaannya lemah. Hal itu ditunjukkan oleh kondisi bahwa belajar hanya terjadi di ruang kuliah. Setelah jam kuliah berakhir, pendalaman dan perluasan pengetahuan secara mandiri maupun diskusi ilmiah secara kelompok, sangat langka terlihat. Lebih dominan tampak adalah diskusi berbobot rendah di FB, atau menghabiskan waktu berjam-jam dengan menonton film di laptop.

Halaman
12
Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help