Kurikulum Muatan Lokal dan Potensi Daerah

Bila diaplikasi secara tepat, sejumlah manfaat dapat diraih dari hadirnya kurikulum muatan lokal berbasis potensi daerah.

Kurikulum Muatan Lokal dan Potensi Daerah
POS KUPANG/JULIANUS AKOIT
DIHADANG -- Dua anggota Satpol PP Kabupaten Kupang menghadang dua truk pengangkut material tambang jenis mineral dan batuan di depan pintu gerbang Civic Center di Oelamasi, Senin (29/6/2015) siang. 

Oleh: Anselmus JE Toenlioe
Dosen Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Malang

UNDANG-UNDANG RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional antara lain berisi pesan bahwa kurikulum memperhatikan keragaman potensi daerah dan lingkungan (Pasal 36, ayat 3d). Pada bagian lain terdapat pesan bahwa kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat muatan lokal (Pasal 37, ayat 1 j).

Bila diaplikasi secara tepat, sejumlah manfaat dapat diraih dari hadirnya kurikulum muatan lokal berbasis potensi daerah. Tak hanya bagi daerah, juga bagi siswa. Bagi daerah, dapat berfungsi sebagai pelestari potensi daerah sekaligus mendatangkan manfaat ekonomi. Sedangkan bagi siswa, dapat menjadi bekal untuk berkarya setelah menyelesaikan pendidikan.

Sebagai contoh, daratan Timor khususnya, dan NTT umumnya, dengan potensi kayu cendana. Kayu cendana yang sempat mengharumkan nama pulau Timor sampai ke berbagai pelosok dunia berabad-abad yang lalu, kini nyaris punah. Melalui kurikulum muatan lokal, tanaman khas daerah ini dapat dilestarikan, bahkan dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi. Demikian juga dengan potensi pertanian, peternakan, pertambangan, bahkan potensi budaya, seperti kain tenun.

Hal yang sering ditanyakan dalam disikusi-diskusi tentang kurikulum muatan lokal adalah pada jenjang apa muatan lokal tertentu layak diadakan? SD, SMP, atau SMA?

Idealnya, kurikulum muatan lokal ditata sedemikian rupa, sehingga bersifat holistik, mulai dari hulu hingga hilir. Dalam bahasa eknomi, dimulai dari proses produksi sampai pemasaran. Meskipun demikian, karena pendidikan untuk siswa, dan bukan siswa untuk pendidikan, maka penerapannya mesti disesuaikan dengan kondisi psikologis-akademik siswa.

Sesungguhnya kurikulum muatan lokal apapun dapat dimulai sejak SD. Tentu saja, sebagaimana dikemukakan di atas, isinya disesuaikan dengan tingkat akademik siswa. Ambil contoh kayu cendana. Untuk anak SD, sebaiknya pendidikan lebih difokuskan pada pengenalan potensi daerah kayu cendana, dan praktik menanam dan merawatnya. Hasil penelitian saya tentang kurikulum muatan lokal bertani apel di Kota Batu misalnya, menunjukkan bahwa siswa SD sudah dapat diajak bertani menanam dan memelihara apel. Mereka ternyata sukses bertani, dalam arti apel yang ditanam dapat tumbuh dan berbuah secara wajar, dalam pendampingan orangtua yang adalah petani apel.

Singkatnya, dalam hal kayu cendana, sesungguhnya siswa SD sudah bisa diajak menanam cendana di lingkungan rumah dan kebunnnya masing-masing, dalam kerja sama dengan orangtua mereka, sebagai wujud dari kurikulum muatan lokal. Tentu saja didahului pengenalan kepada mereka tentang jejak sejarah, potensi ekonomi, dan cara-cara sederhana menanam dan merawat kaya berharga ini.

Hal yang relatif sama dapat diberlakukan untuk muatan lokal tanaman lain. Misalnya dalam menanam pohon jati, pohon kelor, dan tanaman bernilai ekonomi lainnya. Begitu pula dalam hal peternakan, misalnya memelihara ayam, sapi, kambing, dan babi. Andaikan banyak siswa SD yang tertarik menanam aneka pohon dan memelihara aneka hewan di rumah sebagai bagian dari kurikulum muatan lokal NTT, dapat dibayangkan pada gilarannya betapa makmurnya provinsi relatif kering itu. Ini baru siswa SD, belum siswa SMP dan SMA. Warga daerah ini tak harus mengadu nasib menjadi TKI, misalnya, dengan berbagai risiko sebagaimana terjadi selama ini.

Sementara untuk potensi pertambangan, seperti mangan dan marmer, di SD pun sudah bisa diperkenalkan sebagai potensi yang juga menjanjikan, bila dikelola secara tepat. Paling tidak, sejak dini warga daerah ini sudah paham akan potensi daerah mereka, dan apa yang kelak dapat mereka lakukan secara bertanggung jawab terhadap potensi anugerah Tuhan itu.

Pada jenjang lebih tinggi, baik di SMP maupun SMA, prinsip pendidikan holistik dari hulu ke hilir sudah dapat diterapkan. Siswa sudah dapat diperkenalkan dengan hal-hal lebih spesifik dan rumit, seperti pembibitan, pemberantasan hama penyakit, bahkan pemasaran. Tentu saja, tetap harus disesuaikan dengan kondisi psikologis-akademik siswa.

Tetang pengembangan kurikulum muatan lokal, secara teknis ada ilmunya. Di Program Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Malang, misalnya, terdapat matakuliah Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal. Saya termasuk salah satu pengampu matakuliah ini. Sejumlah mahasiswa bahkan menulis skripsi pengembangan, dengan mengambil tema pengembangan kurikulum muatan lokal. Boleh jadi, terdapat program pendidikan di perguruan tinggi di NTT yang juga menyajikan matakuliah ini.

Pada prinsipnya, pengembangan kurikulum muatan lokal hendaknya melibatkan ahli disiplin ilmu yang relevan, praktisi di bidang yang relevan, dan tentu saja ahli kurikulum. Serahkanlah pada ahlinya, dan tunggulah hasilnya, atau kepada amatiran dan tuailah kehancurannya. Begitulah substansi pesan antropologi sebagai ilmu sosial, yang menjadi jargon pendidikan masa kini. Salam sukses pendidikan berbasis potensi daerah, lewat kurikulum muatan lokal. Tentu saja, kalau mau.*

Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved