Membenahi LPTK

Tema ini penting untuk didiskusikan sebab LPTK merupakan rahim yang melahirkan guru yang kemudian menjadi pilar determinatif bagi kualitas pendidikan

Membenahi LPTK

Refleksi Pergantian Tahun Sekolah

Oleh: Florianus Dus Arifian, M. Pd
Dosen STKIP St. Paulus Ruteng

DUNIA pendidikan kita sedang menghadapi pergantian tahun ajaran atau tahun sekolah. Pergantian tersebut perlu dimaknai lebih dari sekadar peralihan kalender pendidikan. Pergantian tahun ajaran sejatinya perlu diikuti dengan pembaharuan diri sekolah ke arah yang lebih baik. Inilah makna hakiki pergantian tahun sekolah. Dalam rangka menggapai makna hakiki itu, artikel ini secara khusus berbicara tentang pembenahan lembaga pembentuk tenaga kependidikan (LPTK). Tema ini penting untuk didiskusikan sebab LPTK merupakan rahim yang melahirkan guru yang kemudian menjadi pilar determinatif bagi kualitas pendidikan di sekolah. Jika demikian hubungannya, kualitas LPTK menjadi taruhan utama. Sementara itu, kualitas selalu bertalian dengan kemampuan LPTK untuk membenahi diri sepanjang waktu. Menurut penulis, terdapat minimal dua titik pembenahan yang dapat dilakukan LPTK pada pergantiaan tahun sekolah saat ini, yakni proses seleksi calon dan isi kurikulum.

Proses Seleksi Calon
LPTK yang mencakup STKIP, IKIP, dan FKIP pada satu universitas merupakan lembaga yang secara khusus menyiapkan tenaga guru. Guru yang dihasilkan dari LPTK kemudian menjadi pilar kunci dalam menentukan mutu pendidikan di berbagai sekolah. Oleh karena mengemban misi luhur sekaligus berdampak besar dan panjang bagi kualitas pendidikan melalui tenaga guru yang dihasilkannya, seleksi calon mahasiswa untuk LPTK merupakan titik sentral yang tidak boleh diabaikan. Hal ini sejalan dengan implikasi dari salah satu tesis bernas Michael Fullan (2007: 129), yakni kelas dan sekolah akan efektif jika guru direkrut dari orang-orang yang berkualitas. Pada titik ini, perekrutan guru yang berkualitas di antaranya mencakup proses seleksi yang berkualitas atas calon mahasiswa oleh LPTK.

Dalam proses seleksi, LPTK berfokus pada aspek kuantitas dan kualitas calon mahasiswa. Dari aspek kuantitas, LPTK perlu memperhatikan dengan serius keseimbangan antara jumlah calon yang diterima dengan daya dukung berbagai sumber daya yang dimilikinya terutama jumlah sumber daya manusia (dosen dan pegawai) serta jumlah sarana dan prasarana. Sehubungan dengan hal ini, imbauan imperatif untuk membangun lembaga pendidikan tinggi sehat yang ditandai dengan keseimbangan rasio antara mahasiswa dan dosen yang ditegaskan Dikti belakangan ini harus menjadi pertimbangan utama LPTK dalam proses seleksi. Kalau pada masa-masa sebelumnya LPTK sempat memunculkan fenomena massalisasi dengan menerima calon mahasiswa dalam jumlah yang melampaui daya dukung, pergantian tahun sekolah saat ini merupakan momentum untuk menciptakan LPTK sehat dengan menjaga keseimbangan antara jumlah calon yang diterima dengan daya dukung yang tersedia.

Dari aspek kualitas, LPTK perlu memiliki suatu model seleksi yang memang dapat menyadap dengan valid kualitas calon guru yang diterima dan dibentuknya. Sehubungan dengan hal ini, ada dua fokus yang perlu diperhatikan oleh LPTK, yakni (1) kemampuan akademik calon dan (2) bakat atau passion (panggilan jiwa) calon untuk menjadi pendidik. Dalam praktiknya, sejauh ini LPTK lebih banyak mengeksplorasi kemampuan akademik dan jarang menggali passion calon, padahal passion sangat kuat mempengaruhi kualitas guru yang akan dihasilkan. Minimnya perhatian pada aspek passion dibuktikan melalui penelitian Paramadina Public Policy Institute (PPPI) yang menemukan bahwa sejauh ini LPTK belum menyediakan persyaratan khusus untuk calon mahasiswa yang akan diterimanya (Kompas, 6/1/2016, p. 11).

Passion berhubungan dengan keseriusan calon untuk menjadi guru. Passion berkaitan dengan energi atau kekuatan internal pada kedalaman jiwa sang calon yang mendorongnya untuk memilih dan terus mencintai panggilan hidup sebagai guru. Dengan demikian passion menjadi semacam motivasi intrinsik yang senantiasa menyemangati dan menginspirasi seseorang untuk memutuskan dan berpegang teguh pada keputusan untuk mimilih hidup sebagai guru. Pada dampak yang lebih jauh, passion menjadi kekuatan penentu bagi segenap upaya peningkatan profesionalisme guru. Abduhzen (Kompas, 25/11/2015, p. 6), misalnya, mengatakan bahwa kegagalan program sertifikasi guru masa kini, yakni lebih berdampak pada peningkatan ekomomi daripada kompetensi guru, disebabkan oleh kondisi bahwa sedari awal kebanyakan guru mengalami krisis panggilan hati untuk menjadi guru. Oleh karena itu, pada momentum pergantian tahun sekolah saat ini LPTK perlu memberikan perhatian serius pada aspek passion calon mahasiswa dalam proses seleksi.

Isi Kurikulum LPTK
Oleh karena bertujuan untuk menghasilkan guru, LPTK perlu menata dengan cermat standar isi kurikulumnya. Perhatian yang cermat pada standar isi kurikulum tidak berarti LPTK mengabaikan standar proses untuk mengolah isi tersebut dan standar evaluasi untuk melihat ketercapaian tujuannya yang dihubungkan dengan standar isi dan proses. Sehubungan dengan isi kurikulum, minimal dua titik refleksi berikut ini perlu menjadi pertimbangan LPTK.

Pertama, hasil uji kompetensi guru (UKG) tahun 2015. Jika berkaca pada hasil UKG tahun 2015, tampak bahwa nilai rata-rata terendah, yakni 48,94, diperoleh pada kompetensi pedagogis, jauh di bawah kompetensi profesional sebesar 54,77 (Kompas, 31/12/2015, p. 9). Hasil ini menunjukkan bahwa guru lebih menguasai konten atau isi materi daripada cara atau strategi menyampaikan materi tersebut kepada siswa. Dengan perkataan lain, guru lebih menguasai isi bidang studi untuk siswa daripada kemampuan yang berhubungan dengan pengelolaan pembelajaran.

Kedua, penelitian tentang isi kurikulum LPTK. Terkait dengan hal ini, hasil penelitian PPPI baru-baru ini menemukan minimnya porsi mata kuliah keguruan pada LPTK, yakni hanya sekitar 20% dari seluruh materi atau rata-rata hanya 29 dari 150 satuan kredit semester (SKS); padahal semestinya porsi mata kuliah keguruan adalah sepertiga dari total mata kuliah (Kompas, 6/1/2016, p. 11). Patut dicermati bahwa temuan PPPI ini seakan mengungkapkan alasan rendahnya penguasaan kompetensi pedagogis guru yang terungkap melalui hasil UKG tahun 2015 di atas. Artinya, dapat diduga bahwa minimnya kompetensi pedagogis guru disebabkan oleh kurangnya porsi mata kuliah pedagogis yang diterimanya ketika belajar di LPTK.

Berdasarkan dua poin di atas, tampak bahwa LPTK perlu membenahi isi kurikulumnya dengan memberikan porsi yang memadai untuk rumpun mata kuliah pedagogis atau kependidikan. Hal ini penting mengingat penciri khas guru sebagai out put LPTK terletak pada penguasaan kompetensi pedagogis tersebut. Tentu saja hal ini tidak berarti bahwa rumpun mata kuliah nonpedagogis dapat diabaikan apalagi ketika disadari bahwa saat ini lulusan LPTK menghadapi kompleksitas tantangan seperti berkurangnya peluang kerja dan meningkatnya persaingan antara bangsa seperti yang mulai dirasakan dalam era MEA saat ini. Tantangan seperti ini memberi sinyal bagi LPTK akan pentingnya membekali mahasiswa yang dihasilkannya dengan kompetensi lain di luar kompetensi utama sebagai guru. Pembenahan-pembenahan semacam ini menjadi pekerjaan yang dapat dilakukan oleh LPTK pada momentum pergantian tahun sekolah saat ini. Jayalah LPTK dan selamat memasuki tahun baru sekolah dengan gebrakan baru!

Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved