Seniwati Kota Kupang Perangi Human Traficking Lewat Teater

Kekerasan dalam rumah tangga dan human traficking di Nusa Tenggara Timur (NTT), merupakan persoalan serius yang perlu diminimalisir.

Seniwati Kota Kupang Perangi Human Traficking Lewat Teater
POS KUPANG/JOHN TAENA
Salah satu anggota Komunitas Teater Perempuan Biasa sedang saat mementaskan aksinya dalam acara Kupang Pesta Monologia 2016 di di Aalu F - Sqeur, Kota Kupang. Sabtu (12/3/2016). 

Laporan wartawan Pos Kupang, John Taena

POS KUPANG.COM, KUPANG -- Kekerasan dalam rumah tangga dan human traficking di Nusa Tenggara Timur (NTT), merupakan persoalan serius yang perlu diminimalisir.

Puluhan bahkan ratusan kaum perempuan di daerah telah menjadi korban. Hal ini membuat komunitas taeter perempuan biasa angkat bicara lewat pementasan yang bertajuk Panggung Perempuan Biasa.

Koordinator Komunitas Teater Perempuan Biasa, Lanny Koroh, kepada Pos Kupang.com di Kelurahan Naikoten II, Minggu (3/7/2016) meminta kaum hawa di NTT untuk berhenti menjadi penonton. Pementasan teater bertajuk 'Panggung Perempuan Biasa' yang rencananya akan digelar di Taman Dedari Sikumana pada Sabtu (16/7/2016) itu, sebagai aksi protes dan kampanye untuk meminimalisir human traficking di daerah ini.

Dikatakannya, "Kita menghargai budaya tapi sangat disayangkan jikalau ada kekerasan terhadap perempuan. Itu adalah hal terkutuk, jadi sebagai perempuan khsususnya orang NTT yang menganut budaya patriarki jangan sampai kita diam."

Istilah perempuan menjadi nomor dua dan lelaki nomor satu, lanjutnya, perlu dihilangkan. Pasalnya sebagai manusia ciptaan Tuhan, perempuan dan laki-laki memiliki hak yang sama. Hal ini yang menjadi alasan mendasar bagi komunitas tersebut untuk menggelar pementasan teater yang bertajuk 'Panggung Perempuan Biasa'.

"Kita ingin mengkampanyekan dan memberikan pencerahan kepada masyarakat untuk sama-sama meminimalisir human traficking. Begitupun dengan kekerasan dalam rumah tangga yang sering dialami oleh kaum perempuan. Banyak perempuan yang mengalaminya, bukan hanya kekerasan fisik tapi kekerasan verbal juga," tandasnya.*

Penulis: John Taena
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help