Sapi Punya Susu Kerbau Punya Nama

Demikian pula harga jual sapi hidup secara borongan/timbangan di NTT dikendalikan pemerintah yakni berkisar

Sapi Punya Susu Kerbau Punya Nama
POS KUPANG/NOVEMY LEO
SAPI - Ternak sapi yang digembalakan petani di Oesao, Kabupaten Kupang. 

POS KUPANG.COM - Inisiatif dan kebijakan ekonomi pro rakyat yang dilakukan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terhadap segenap petani peternak sapi di Provinsi NTT beberapa waktu lalu sungguh melegakan hati peternak sapi. Betapa tidak, harga daging sapi maupun sapi hidup yang semula seret dan terkesan hanya menguntungkan pihak tertentu bisa berubah membawa kesejahteraan ekonomi bagi peternak sapi di seantero provinsi kepulauan ini. Rute pengiriman sapi yang sebelumnya panjang melewati Surabaya, Jawa Timur baru bisa sampai di Jakarta, kini dipersingkat. Pemerintah menyiapkan kapal laut angkutan khusus bersubsidi dengan biaya terjangkau. Kondisi ini tentu lebih menguntungkan pengusaha antarpulau karena lebih hemat biaya transportasi pengiriman sapi.

Demikian pula harga jual sapi hidup secara borongan/timbangan di NTT dikendalikan pemerintah yakni berkisar dari Rp 30.000 - Rp 34.000/kg. Sementara harga jual daging sapi oleh pedagang pasar di Jakarta Rp 110.000 -Rp 120.000/Kg. Namun, gejolak penurunan harga daging sapi yang sementara terjadi di Jakarta akibat kebijakan Presiden Jokowi dan Gubernur setempat menurunkan harga daging sapi dari Rp 110.000 -Rp 120.000/kg menjadi Rp 80.000/kg pada masa puasa umat Islam (Pos Kupang, Jumat, 10/6/2016), hendaknya tidak menyurutkan semangat petani peternak sapi dan upaya
Pemerintah Provinsi NTT dalam mempertahankan dan mengembangkan sapi di NTT.

Pemerintah provinsi dan kabupaten/kota di daerah ini harus berani mencarikan solusi terbaik untuk petani peternak sapi agar tidak dirugikan terlampau lama dengan kondisi gejolak penurunan harga daging sapi yang terjadi di pasar-pasar di Kota Jakarta saat ini.

Selain persoalan pemasaran dan stabilitas harga jual daging sapi dan sapi hidup milik petani peternak sapi di NTT, pemerintah Provinsi NTT diingatkan agar serius memperhatikan perkembangan populasi sapi di NTT. Mengapa? Sebab tingginya permintaan pasar terhadap sapi asal NTT menyebabkan produktivitas sapi setiap tahun terus menurun. Salah satu penyebabnya yakni longgarnya kebijakan pemerintah daerah ini tentang larangan penjualan dan pemotongan sapi usia produktif.

Selain itu, kebijakan pembangunan dalam bidang pengembangbiakan sapi melalui program pemerintah provinsi dan daerah seperti penyediaan pakan ternak sapi, kawin suntik (inseminasi buatan) masih berjalan di tempat. Demikian pula di bidang kesehatan sapi, program vaksinasi dan upaya pencegahan sapi milik petani peternak sapi dari serangan berbagai jenis penyakit belum berjalan dengan baik, karena lemahnya pendampingan dari pemerintah melalui dinas peternakan di daerah.

Tidak bisa dipungkiri kalau populasi sapi milik masyarakat petani peternak di NTT kini bertumbuh dan berkembang secara alamiah dari jerih payah petani peternak sendiri. Sangat sedikit mendapatkan bantuan dari pemerintah daerah. Bahkan sering sapi milik petani didata dan diklaim Pemerintah Provinsi dan kabupaten/kota di NTT sebagai keberhasilan program pemerintah. Seperti kata pepatah tua, sapi punya susu kerbau yang punya nama.*

Penulis: PosKupang
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help