Tiga Orang Ditahbiskan Menjadi Pastor

Cornelis Ninu Bentuk Karakter Anaknya di Meja Makan

Makan bersama di meja makan, disebut Aris sebagai 'ritual' wajib sang ayah untuk meminta anak-anak laki-laki harus menjadi pastor.

Cornelis tak selalu membuat anak-anaknya 'pening' dijejali aneka nasehat. Meja makan juga menjadi 'forum' bagi Cornelis untuk puja-puji. Cornelis tak segan-segan memuji anak-anaknya yang hari itu loyal mengikuti perintah orangtua, mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dengan baik (di rumah dan sekolah), mendapat nilai bagus di sekolah, rajin berdoa atau rajin ke gereja, juga tak lupa berbuat baik kepada sesama. Tak sekadar memuji, Cornelis memberi hadiah, bukan uang. Ini hadiah 'favoritnya' dan anak-anak senang.
Cornelis mengajak sang anak jalan-jalan ke Kota Kupang, ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Dalam sebulan, misalnya, Cornelis merencanakan ke Kota Kupang satu kali. Sebanyak itu pula anak-anak ikut bersamanya ke kota. Sekali jalan dua orang anak ikut. Jadwalnya disusun di meja makan, siapa yang berangkat duluan, tentu yang berprestasi. Semuanya demokratis. Pun sebaliknya. Meja makan juga menjadi 'pengadilan' bagi anak-anak yang malas, bandel di rumah dan sekolah. Atau yang mendatangkan masalah dalam keluarga. Selain memberi nasehat, Cornelis tak jarang marah atau merotani meski tidak membenci.

Bagi Cornelis, meja makan juga tempat berdoa bersama keluarga. Mensyukuri makanan dan minuman yang diperoleh hari itu dan semua dalam keluarga yang menyiapkannya. Doa di meja makan itu lain. Doa keluarga setiap malam juga 'ritual' wajib yang tak pernah dilewatkan. Soal doa ini, Cornelis tidak main-main. Semua anak wajib ikut dan khusuk. Pada doa malam inilah dan doa-doa hariannya, Cornelis mempersembahkan semua anak-anaknya agar menjadi biarawan-biarawati. Tuhan pun mengabulkannya. Tiga putranya menjadi pastor.

Di rumah, Cornelis juga selalu menyiapkan koran, majalah, buku-buku bacaan untuk menambah wawasan anak-anaknya. Pun menjadwalkan jam belajar anak-anak di rumah pada malam hari, menyelesaikan pekerjaan rumah, dan rutin mengawasinya. Tak hanya itu, mantan ketua umum di Seminari Lalian Belu ini menjadi guru dengan memberikan penjelasan tambahan jika anak-anaknya tidak mengerti apa yang mereka pelajari. Setelah anak-anak belajar malam, sekeluarga baru boleh makan bersama dengan penuh keriuhan. Setelahnya doa malam bersama.

Perjalanan hidup keluarga Cornelis dan Martina bukan tanpa pasang surut. Meski sadar kondisi perekonomian pas-pasan, tidak menyurutkan niat Cornelis untuk berderma, berbagi dan memberi kepada orang-orang yang membutuhkan. Keluarga yang datang ke rumah dan membutuhkan bantuan, Cornelis ringan tangan membantunya. Bahkan kepada orang yang tidak dikenalnya sekali pun. Cornelis yang pernah menjabat Ketua Dewan Pastoral Paroki Niki-Niki dan ketua RT hingga sekarang ini, kerap memberi dan berbagi tanpa sepengetahuan sang istri, Martina. Sang istri tak marah, bahkan mendukungnya. Agar 'lubang' tidak semakin dalam, Martina 'bisnis' kecil-kecilan di rumah. Buat kue dan sambal, dijual kepada anak-anak sekolah dan anak-anak asrama paroki SMPK St. Aloysius dan SMAK Stella Maris Niki-Niki. Hasilnya lumayan, meski tak harus kaya. Tentang berbagi, Cornelis ingin mengajarkan kepada anak-anaknya agar peduli terhadap sesama. Tidak pelit meski diri sendiri juga berkekurangan.

Meski 'mewajibkan' anak-anaknya menjadi biarawan-biarawati, Cornelis tetap memberi kebebasan kepada anak-anaknya untuk menentukan pilihan hidup. Tatkala Beatus Ninu, Firmus Ninu, Amanche Oe Ninu, memutuskan masuk seminari (sekolah calon pastor), Cornelis menyerahkannya pada kebebasan nurani sang anak. Ketiganya pun menerima tahbisan imamat. "Tanya saja hati nurani kalian (apakah mau terus atau tidak menjadi pastor), jangan tanya sama bapak," tegas Cornelis ketika ketiga anaknya memutuskan menjadi pastor. Cornelis tidak menampik minta bimbingan Roh Kudus agar keputusan tiga anaknya tepat dan benar. "Intinya, pada doa dan ketekunan mendidik," pungkas Cornelis.

Jual Kue dan Sambal

Romo Amanche mengaku bangga mempunyai orangtua 'hebat'. Bukan pertama-tama karena mereka mencukupi semua kebutuhan, lebih-lebih karena cara mendidik yang membuat mereka mandiri dan bisa mengambil keputusan yang tepat. Kunci semuanya adalah kebersamaan di meja makan. "Di meja makan, kami tidak hanya menyantap makanan, tetapi juga 'menyantap' nasehat orangtua. Di meja makan itu kami dibentuk, benih-benih panggilan tumbuh. Ini yang hilang pada keluarga-keluarga zaman sekarang," ujar Romo Amanche di Kupang, Selasa (10/5/2016).

Romo Amanche ingat betul tatkala sang ibu menyuruhnya menjual kue dan sambal di sekolah dan asrama untuk menambahkan penghasilan keluarga tatkala sang ayah terlalu 'boros' menderma. "Saya tak malu jual kue dan sambal bantu mama. Dengan cara itu saya dibentuk untuk mandiri," ujar Romo Amanche.

Hal senada disampaikan Romo Bento, Pr. Dia mengakui didikan orangtua sangat membekas di hatinya, utamanya tekun menggumuli hal-hal sederhana. Sebagai anak pertama, Romo Bento selalu mendapat tugas sebagai 'ibu rumah tangga' yakni mencuci semua pakaian adik-adiknya. Semuanya dijalaninya dengan penuh tanggung jawab. "Kami dibentuk dalam doa dan ketekunan orangtua," tegasnya.
Romo Bento juga bangga terhadap orangtua yang disiplin terapkan makan bersama di meja makan sebagai tempat persemaian benih-benih kehidupan anak-anak untuk masa depan. "Bukan hanya dikoarkan-koarkan secara lisan atau menyuruh anak-anak membaca buku edukasi saja. Tapi perlu kegiatan nyata di mana anak pun melihat dan bisa berperan aktif di dalamnya. Itu ternyata jauh lebih manjur dan cepat terserap," tegas Romo Bento, yang kini melayani umat di Alor.

Halaman
123
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved