PosKupang/

Tiga Orang Ditahbiskan Menjadi Pastor

Cornelis Ninu Bentuk Karakter Anaknya di Meja Makan

Makan bersama di meja makan, disebut Aris sebagai 'ritual' wajib sang ayah untuk meminta anak-anak laki-laki harus menjadi pastor.

POS KUPANG.COM - Malam itu, 23 September 2011. Dingin menusuk kulit. Suasana di rumah keluarga Cornelis Ninu dan Martina Meol di Kelurahan Niki-Niki, Kecamatan Amanuban Tengah, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), lain dari biasanya. Sebuah tenda besar beratapkan terpal berdinding daun kelapa berdiri di samping rumah. Terang benderang. Ramai. Lantunan lagu-lagu daerah Timor menyemarakkan suasana. Para tamu dan kerabat datang silih berganti memenuhi tenda. Mereka membagi sukacita dan larut dalam kegembiraan merayakan syukuran tahbisan Romo Amanche Franck Oe Ninu, Pr.

Malam itu, Romo Amanche memimpin misa perdana untuk keluarga dan kaum kerabatnya setelah ditahbiskan menjadi imam oleh Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Mgr. Antonio Guido Filipazzi, di Gereja Katedral Kristus Raja Kupang, 14 September 2011. Bagi keluarga yang anaknya ditahbiskan menjadi imam, misa perdana dirayakan besar-besaran sebagai ungkapan syukur. Malam itu, Romo Amanche memberkati seluruh keluarganya. Pemandangan yang mengharukan.

Romo Amanche adalah putra keenam dari sembilan bersaudara buah hati pasangan Cornelis Ninu dan Martina Meol yang ditahbiskan menjadi pastor. Romo yang kini menjadi Kepala SMPK St. Yoseph Naikoten Kupang ini menjejaki langkah kedua kakaknya yang sudah terlebih dahulu ditahbiskan menjadi pastor. Si sulung, Romo Beatus Ninu, Pr, ditahbiskan tahun 2002. Disusul sang adik putra kedua, Romo Firmus Ninu, Pr, ditahbiskan tahun 2003.

Luar biasa! Semua undangan dan kerabat terkagum-kagum terhadap Bapak Cornelis Ninu dan Ibu Martina Meol yang rela mempersembahkan tiga putranya menjadi pastor. Hidup selibat (tidak menikah), menjadi gembala umat, melayani sesama. Sangat jarang terjadi pada keluarga-keluarga Katolik yang mengutamakan putranya sebagai penerus keturunan. Keluarga ini (mungkin) satu-satunya di NTT. "Profil keluarga ini sederhana, namun sukses mendidik anak-anak mereka menjadi 'orang.' Luar biasa, patut dicontohi keluarga lainnya," puji Pater Yustinus Tegu Wona, SVD, yang juga hadir malam itu.

Tamat Seminari Lalian di Atambua, Belu, tahun 1960, Cornelis Ninu, pemuda asal Desa Haekto, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) ini, menikahi gadis pujaannya, Martina Meol, asal Nifuboke Noemuti, juga dari TTU. Mereka dikaruniai sembilan orang anak, delapan putra, satu putri. Putra pertama, kedua dan keenam menjadi pastor. Enam anak yang lain, ada yang menjadi guru, wartawan dan pengusaha. Semuanya sukses. Merintis hidup berkeluarga dengan berprofesi sebagai guru SD dan SMP, dengan gaji pas-pasan, perjalanan hidup keluarga Cornelis dan Martina penuh warna dan dinamika. Meski akhirnya tetap menjadi kisah yang menginspirasi dan meneguhkan bagi setiap orang yang mendengarkannya.

Tinggal di desa dalam rumah berukuran mungil, kehidupan keluarga Cornelis terasa damai. Sebelas kepala berkumpul bersama, pada saat-saat tertentu, memperlihatkan pemandangan yang ramai, namun menyenangkan. Belum lagi jika di antara para 'jagoan' saling berseteru. Semakin bernuansa. Dalam rumah mungil itu, Cornelis dan Martina dengan mudah merajut kebersamaan dengan semua buah hatinya. "Sedari kecil saya sudah membiasakan anak-anak melakukan hal-hal kecil sederhana secara bersama-sama. Kami makan bersama di meja makan, berdoa bersama, ke gereja juga selalu bersama-sama. Ini wajib," ungkap Cornelis di Kupang, belum lama ini.

Cornelis, yang kini berumur 71 tahun itu, menyebut makan bersama di meja makan setiap pagi, siang dan malam sebagai 'ritual' wajib yang dilakukannya untuk membagi cinta dan suka duka kepada anak-anak. Waktu ideal untuk keluarga berkumpul. Tempat membagi cerita dan menangkap keluh kesah. Tempat menata hari-hari hidup keluarga seperti apa. Momentum saling mengawasi dan mengingatkan antaranggota keluarga dalam berperilaku di tengah-tengah pergaulan masyarakat luas. Komunikasi yang baik di meja makan, diakui Cornelis, memagari anak-anak dan keluarga agar terhindar dari perilaku negatif saat ini yang semakin marak seperti pergaulan bebas, narkoba dan sebagainya.

Ini yang pasti dan tak terbantahkan. Cornelis memanfaatkan kebersamaan di meja makan untuk menabur benih panggilan agar semua putranya menjadi pastor dan putri menjadi biarawati. Hidup membiara ini harus menjadi pilihan pertama, perkara gagal itu urusan kemudian dan anak-anak boleh memilih jalan lain, berumah tangga, misalnya. Ini petuah utama Cornelis di meja makan, selain memberi motivasi memupuk kebersamaan, saling tenggang rasa, tolong menolong dan bertanggung jawab. Yang terakhir ini terutama dalam mengerjakan tugas-tugas di rumah, sekolah dan lingkungan.

Bagi keluarga lain, 'ritual' ini mungkin jarang dilakukan di meja makan karena tidak selalu makan bersama. Namun bagi Cornelis dan Martina, meja makan adalah tempat keterbukaan terhadap anak-anak, sebaliknya anak-anak terbuka terhadap orangtua. Apa pun masalahnya. Selain menasehati anak-anaknya agar menjadi biarawan dan biarawati, di meja makan Cornelis menyampaikan secara terbuka tentang kondisi keuangan keluarga saat bulan berjalan sehingga semua anak-anak tahu. Maksudnya sederhana saja. Supaya anak-anak tidak protes kalau makan tanpa lauk, tak ada uang jajan atau memendam hasrat untuk memiliki baju baru, sandal baru atau sepeda baru. Apalagi kalau hasrat anak-anak memiliki yang baru itu karena melirik apa yang dipunyai tetangga. Pasti Cornelis marah besar.

Muaranya pada hidup sederhana. Cornelis sangat senang jika baju yang dipakai si sulung (Romo Bento), misalnya, bisa dipakai adik-adiknya, bukan saja oleh adiknya yang kedua, tetapi hingga adik yang kelima dan keenam. Untuk apa beli baju baru kalau yang ada masih bisa dipakai. Itu sikap Cornelis. "Saya tanamkan kepada anak-anak agar hidup sederhana. Jangan lihat apa yang dipunyai orang," tegas Cornelis. "Ini tak boleh ditawar-tawar. Sikap keluarga kami," tambahnya. Tak hanya seputar kehidupan keluarga, Cornelis juga memanfaatkan momen makan bersama untuk menginformasikan keadaan di desa mereka terkini, rawan atau tidak, pembangunan apa yang sedang dilakukan dan apa kontribusi keluarga terhadap pembangunan itu. "Informasi apa saja saya sampaikan kepada anak-anak mulai dari kelurahan (lokal) hingga nasional," ujar Cornelis.

Halaman
123
Editor: Ferry_Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help