Pers untuk Kemaslahatan Rakyat

Hal yang patut dicermati pada setiap peringatan hari kebebasan pers dunia adalah indeks kebebasan pers.

Pers untuk Kemaslahatan Rakyat
ilustrasi

Oleh Dr. Jonas KGD Gobang, MA

Peneliti pada LP2M Universitas Nusa Nipa Maumere

POS KUPANG.COM - Hari kebebasan pers dunia diperingati setiap tanggal 3 Mei. Peringatan ini sesungguhnya telah dicanangkan oleh PBB pada Desember 1993. Jauh sebelum itu, deklarasi universal tentang HAM (Hak Asasi Manusia) tahun 1948 dengan tegas menyatakan bahwa setiap orang memiliki hak untuk kebebasan berpendapat dan berekspresi yang mencakup kebebasan memiliki pendapat dan mencari, menerima dan menyampaikan informasi dan pikiran melalui media apa saja tanpa batas (Pasal 19 Declaration of Human Rights).

Hal yang patut dicermati pada setiap peringatan hari kebebasan pers dunia adalah indeks kebebasan pers. Pada tahun 2016 ini Reporters Without Borders (RSF) telah mengukur perihal pluralism, independensi media, kualitas kerangka hukum dan keamanan wartawan pada 180 negara di dunia.

Hasilnya menunjukkan bahwa negara-negara di Eropa seperti Filandia, Belanda dan Norwegia adalah negara-negara yang sangat menghargai kebebasan pers. Sedangkan negara-negara di Asia, Eropa Timur, dan Afrika Utara serta Timur Tengah tercatat sebagai tempat di mana kekerasan terhadap wartawan terus meningkat. Disebutkan pula istilah "neraka trio" yakni tiga negara yang oleh karena konflik politik melakukan tekanan bahkan pembungkaman terhadap pers, yakni Korea Utara, Turkmenistan, dan Eritrea.

Belenggu Ideologi Palsu
Antonio Gramsci pernah mengatakan bahwa ideologi adalah alat untuk melumpuhkan kesadaran kritis publik dan pers adalah instrumennya. Untuk mencermati posisi pers, pemikiran Dennis McQuail dapat memposisikan pers kembali pada fitrahnya dan tidak terbelenggu oleh ideologi palsu yang sering dipaksakan oleh para pemilik modal dan penguasa.

McQuail (2000 : 167-168) lantas memberikan syarat-syarat dari konsep kebebasan (media freedom) pada institusi media (level organisasi) dan apa yang dihasilkan media (level produksi) serta apa yang diterima oleh masyarakat (level audiens) yakni: pers hendaknya bebas dari kontrol pemerintah sehingga tidak menghalangi apa yang akan dipublikasikan.

Selain itu, kebebasan masyarakat untuk mengakses informasi atau berita, pandangan, pendidikan dan kebudayaan dari media harus pula dijamin. Kebebasan untuk mencari dan memproduksi informasi juga harus dijamin. Pers secara organisatoris juga harus bebas dari konstelasi kepentingan pemiliki media, pemasang iklan yang dapat mempengaruhi produksi informasi oleh media. Kebebasan pers dapat melahirkan kreativitas dan inovasi serta memberikan iklim yang kondusif bagi kebijakan editorial (editorial policy).

Bila syarat-syarat kebebasan pers yang disebutkan di atas dapat dipenuhi, maka pers dengan demikian akan memperoleh manfaat positif bagi kemaslahatan rakyat. Pers dapat menjamin keakurasian informasi dalam tugas media sebagai pengontrol kekuasaan (watchdog) dan pers sebagai forum publik untuk menyampaikan saran dan kritik.

Pers juga dapat mendorong dan menciptakan iklim dan sistem demokrasi dan kehidupan sosial yang kondusif. Pers dengan demikian dapat memberikan kesempatan untuk menyampaikan pikiran dan gagasan, keyakinan dan pandangan-pandangan yang berguna untuk publik, menciptakan iklim yang kondusif untuk pembaharuan dan perubahan budaya dan sosial dan meningkatkan kemampuan dan kualitas kebebasan.

Halaman
12
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved