Literasi Media

Salah satu tantangan terbesar bagi orang tua dan pendidik dewasa ini adalah bagaimana membentengi anak-anak

Literasi Media
ilustrasi

Kado untuk Hari Pendidikan Nasional

Oleh Dr. Marselus Ruben Payong, M.Pd.
Pembantu Ketua I STKIP Santu Paulus Ruteng

POS KUPANG.COM - Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional Indonesia, sejak awal sudah mengisyaratkan bahwa ada tripusat pendidikan yang memiliki pengaruh penting bagi tumbuh kembang anak yakni keluarga, sekolah dan masyarakat. Pengaruh ketiganya sangat khas. Namun dewasa ini, pengaruh lingkungan masyarakat, terutama media, telah begitu kuat menggeser peran pendidik di sekolah dan orang tua di rumah.

Salah satu tantangan terbesar bagi orang tua dan pendidik dewasa ini adalah bagaimana membentengi anak-anak dari berbagai pengaruh media dan teknologi yang semakin tidak terbendung.

Kecemasan orang tua dan pendidik sangat beralasan karena ekses dari konten media terutama yang berbau pornografi, konsumerisme, kekerasan dan gaya hidup negatif semakin hari semakin mengkhawatirkan. Hampir setiap hari berita tentang penyalahgunaan media dan teknologi untuk tujuan-tujuan yang destruktif semakin bermunculan, terutama di kalangan anak-anak dan remaja.

Sejumlah Fakta Berbicara
Dalam sebuah artikel berjudul, "Global/Local: Media Literacy for the Global Village", Barbara J Walkozs, Tessa Joll, dan Mary Ann Sund (2009) merilis sejumlah fakta menarik dari temuan mereka tentang teknologi bagi kehidupan remaja dewasa ini.Dilaporkan bahwa remaja saat ini menghabiskan waktu rata-rata 6,8 -8 jam perhari berinteraksi dengan berbagai media seperti televisi, radio, majalah, internet, dan handphone.

Sekitar 81% remaja terlibat dalam penggunaan beberapa media sekaligus (multi-tasking media) pada waktu tertentu seperti bekerja di depan komputer sambil mendengar musik atau bercakap-cakap dengan telepon genggam. Sedangkan 93% remaja setiap hari berinteraksi di situs-situs online dan 63% remaja telah memiliki telepon genggam dan memanfaatkan untuk mendengar musik atau hiburan atau berinteraksi dengan orang lain.

Sekitar 55% remaja sudah memiliki akun pada salah satu situs jaringan sosial dan telah memasang profilnya pada situs-situs seperti My Space atau Facebook dan 64% remaja yang sedang di online melaporkan sudah membuat konten tertentu dan 57% remaja biasa menonton video di situs Youtube. Juga remaja dilaporkan selalu aktif mengunduh konten tertentu dari internet seperti video, video music, nada dering dan juga permainan. Data ini sungguh menggugat keseriusan kita untuk peduli terhadap literasi media.

Antara Tremendum et Fascinosum
Realitas media dan teknologi (televisi, radio, internet, videogame, playstation, handphone, dsb) begitu dipuja karena menarik, membuat orang tergila-gila dan merasa sangat membutuhkannya. Tetapi pada saat yang sama begitu menakutkan karena sejumlah dampaknya yang semakin mengkhawatirkan bagi manusia.

John Naisbitt dan koleganya dalam bukunya High Tech High Touch (1999) mengatakan bahwa manusia di abad ini hidup dalam sebuah zona mabuk teknologi (technologically intoxicated zone) yang dicirikan oleh beberapa simptom: 1) kehidupan yang ditandai dengan kecenderungan menyelesaikan persoalan secara instan (quick fix); 2) kehidupan yang ditandai dengan kecanduan dan ketakutan terhadap teknologi; 3) kehidupan di mana hal yang asli dan palsu semakin kabur; 4) kehidupan yang menerima kekerasan sebagai yang wajar; 5) kehidupan di mana kecintaan terhadap teknologi dilihat sebagai mainan; dan 6) kehidupan yang dirasa semakin berjarak (distanced).

Halaman
12
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved