Ada Lobi Politik di Balik Munculnya Tommy Soeharto dalam Munaslub Golkar

Kehadiran Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto pada bursa pencalonan ketua umum di Munaslub

Ada Lobi Politik di Balik Munculnya Tommy Soeharto dalam Munaslub Golkar
KOMPAS.COM/ADYSTA PRAVITRA RESTU
Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto datang sekitar pukul 12.30 WIB untuk mencoblos di TPS 01, BKKKS, Jakarta Pusat, Rabu (9/7/2014). 

POS KUPANG.COM, JAKARTA --Kehadiran Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto pada bursa pencalonan ketua umum di Munaslub Partai Golkar, diyakini hanya akan menjadi pemecah suara. Hal itu dikatakan pengamat politik LIPI, Siti Zuhro saat berbincang dengan harian ini, Selasa (3/5/2016).

Menurut Siti, wajar jika ada upaya untuk memecah suara untuk menguntungkan salah seorang kandidat.

"Pastinya sebelum ada munas ada lobi, ada perbincangan dulu. Biasanya politik kan gitu," kata dia.

Sejauh yang terpantau media, baru Ade Komarudin yang kedapatan "sowan" ke Keluarga Cendana.

Tim sukses Ade, Bambang Soesatyo bahkan mengklaim, Tommy akan mendukungnya saat Munaslub. Namun, belakangan, nama Tommy justru masuk ke dalam bursa pencalonan.

Siti melihat, pengaruh Keluarga Cendana di Partai Golkar sudah tak sebesar seperti era Orde Baru. Hal itu disebabkan adanya transformasi sosial dan tranformasi politik di tubuh partai berlambang pohon beringin tersebut.

"Sebaliknya, Golkar membutuhkan sosok yang sudah malang melintang di Golkar. Bagaimana memahami nilai-nilai ke-Golkar-an. Nilai-nilai baru yang diharapkan eksternal dapat meminimalisir penggunaan politik uang," ujarnya.

Menurut Siti, Golkar seharusnya dapat menjadi role model bagi parpol lain dalam menjalankan politik yang lebih dewasa.

Munaslub Partai Golkar yang akan diselenggarakan di Bali pada 23-26 Mei mendatang haruslah menjadi ajang rekonsiliasi final pasca konflik yang terjadi selama 1,5 tahun terakhir ini.

Jika Golkar kembali salah memilih pemimpin, ia khawatir, Munaslub mendatang justru hanya akan menimbulkan friksi baru di internal.

"Boro-boro bangkit nantinya, justru hanya akan menimbulkan masalah baru bahkan distrust public," ujarnya.(Kompas.Com)

Editor: Rosalina Woso
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved