Dengan Dua Kaki di Tanah

Relasi-Nya dengan para pengikut-Nya adalah relasi kawanan dengan gembala.

Dengan Dua Kaki di Tanah
IST
Paul Budi Kleden

Mengenang P. Piet Nong Lewar, SVD

Oleh Paul Budi Kleden, SVD
Rohaniwan Katolik, Tinggal di Roma

POS KUPANG.COM - Pastor adalah kata Latin yang berarti gembala. Kata ini digunakan sebagai sapaan bagi para imam Katolik yang melayani umat. Di sebagian wilayah, pastor juga dipakai untuk menyapa para pendeta Gereja-gereja Protestan. Penggunaan pengertian ini tidak terlepas dari InjilYohanes 10, di mana Yesus menyampaikan perumpamaan tentang gembala dan berbicara mengenai diri-Nya sebagai gembala yang baik.

Relasi-Nya dengan para pengikut-Nya adalah relasi kawanan dengan gembala. Seperti jelas dalam teks Injil tersebut, intensi dasar dari perumpamaan ini bukanlah tuntutan untuk patuh secara buta bagi para pengikut dan pembenaran untuk bertindak sewenang-wenang pada pihak sang gembala. Yang dimaksudkan adalah relasi saling mengenal, mendengar suara dan menanggapi suara tersebut.

Relasi seperti ini hanya mungkin apabila ada kedekatan, apabila gembala tidak membangun tembok pemisah sehingga hanya mengenal kawanannya dari balik dinding yang tebal. Sebaliknya, yang digarisbawahi adalah keterlibatan yang membawa konsekuensi. Gembala yang sungguh dekat dan melayani para dombanya, akan mempunyai "bau" seperti kawanannya, sebagaimana dikatakan Paus Fransiskus. Para imam mengambil bagian dalam tugas pelayanan Yesus dan karena itu disebut sebagai pastor.

Selain gembala, Kitab Suci juga mengenal sejumlah gambaran lain untuk melukiskan relasi Yesus dengan para pengikutnya. Salah satunya adalah gambar petani. Ada perumpamaan tentang petani, yang setelah menabur membiarkan gandumnya tumbuh bersama ilalang, dan baru pada akhir masa akan memisahkan mana yang dapat digunakan mana yang tidak. Yang hendak diangkat dengan figurasi ini adalah kesabaran dan pemberian ruang untuk tumbuh dalam kebebasan.

Petani yang mencintai ladangnya tidak akan memaksakan pertumbuhan dengan menariknya ke atas. Petani yang berpengalaman tahu bahwa dia mesti melakukan segalanya yang mungkin, tetapi dia serentak sadar bahwa tidak semuanya ada dalam genggamannya. Seorang petani yang sungguh-sungguh tidak hanya pada akhir pekan atau ketika dia sedang merasa berada dalam "mood" tertentu. Dia ke ladang, entah di bawah terik matahari atau saat bumi sedang diguyur hujan. Kendati gambaran ini tidak kalah menarik, namun Kitab Suci tidak menyebut secara eksplisit bahwa Yesus pernah menyebut diri sebagai agrícola bonus, petani yang baik.

Pastor Petrus Nong Lewar, SVD yang meninggal hari Kamis kemarin di Surabaya, adalah seorang gembala berjiwa dan berkepala petani. Dia lahir dari keluarga petani dan tetap akrab dengan para petani. Dan lebih dari itu, dia menjalankan pelayanannya sebagai imam dalam gaya seorang petani NTT. Beberapa ciri dapat disebutkan dalam gaya pastoral tersebut.

Yang pertama, berpijak dengan dua kaki di tanah. Piet Nong selalu merasa penting bersentuhan dengan kenyataan umat, tidak melayang dalam pola pikir dan gaya berbahasa yang tidak dipahami. Untuk menjadi akrab dan tahu situasi umat, imam ini memutuskan untuk betah tinggal bersama umatnya yang sederhana.

Dia bukan imam akhir pekan atau gembala musiman yang cuma datang kalau ada peristiwa khusus. Hanya karena kebetahan ini, seorang imam bisa berakar dalam budaya dan situasi masyarakat dan umatnya. Dan keberakaran ini pula yang selalu didorong Piet Nong. Dia menganimasi warga untuk mencintai budayanya, menggali kekayaan yang ada di dalam tradisi agar menjadi bagian utuh dari jati diri setiap generasi. Jika tidak memiliki akar yang kuat, apabila kaki tidak berpijak kokoh di atas tanah, maka orang akan mudah menjadi anggota gerombolan yang gampang terseret isu dan didikte mode.

Halaman
12
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved