Enam Peluru Bersarang di Punggung Tarsisius Eri Hardi

Eri, ketika kejadian itu terjadi masih duduk dibangku kuliah salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta dan sedang liburan ke Ruteng.

Enam Peluru Bersarang di Punggung Tarsisius Eri Hardi
ilustrasi

Laporan wartawan Pos Kupang,Eugenius Moa

POS KUPANG.COM,RUTENG--Pembubaran paksa aksi massa memrotes penanganan dugaan kasus rabies di Mapolres Manggarai tanggal 7 Juli tahun 2000 silam menyisahkan penderitaan berkepanjangan Tarsius Eri Hardi (37). Tujuh butir peluru bersarang pada punggung dan pinggangnya hingga membuatnya lumpuh total.
Eri, ketika kejadian itu terjadi masih duduk dibangku kuliah salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta dan sedang liburan ke Ruteng.
Dia menuturkan saat itu dia mendengar ribuan massa dari Kota Ruteng berkumpul di Mapolres.
Polisi membubarkan paksa massa dengan melepas tembakan ke udara membuat massa kocar-kacir menyelamatkan diri. Eri lari menyusuri Jalan Katedral di depan Mapolres Manggarai ke arah utara.
"Saya ingat saya jatuh di depanTaman Kanak-kanak (TK) Bhayangkara. Saya diberondong tembakan tujuh kali. Saya tidak tahu darimana datang tembakan dan sampai hari ini saya tidak tahu siapa yang menembak saya. Ketika saya jatuh Lalong yang menolong saya," kisah Eri, Jumat (15/4/2016) siang mengenang kejadian yang membuatnya lumpuh total sampai sekarang.
Kisah pilu itu dibuka kembali Eri menerima kedatangan Wabup Manggarai, Drs.Victor Madur, Kadis SosialNakertrans, Drs.Rafael Ogur. Wabup dan rombongan mengantar bantuan kursi roda ke kediamanya. Sanak family Eri menerima sukacita bantuan ini.
Menurut Rafael, sejumlah 32 jenis alat bantu berupa kursi roda dan tongkat diberikan dalam peringatan HKSN, 20 Desember 2016 di KecamatanLangke Rembong, Wae Rii, Cibal dan Reok Barat. Kursi roda seharga Rp 1,5 juta/unit dan tongkat Rp 300.000/buah.

Penulis: Eugenius Moa
Editor: Ferry Jahang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved