Capitalizing the Opportunity Kasus Tenun Ikat NTT

Presiden menawarkan NTT sebagai penyedia daging sapi alternatif untuk Jakarta, sampai mengajak

Capitalizing the Opportunity Kasus Tenun Ikat NTT
Pos Kupang/Yeni Rachmawati
Tenun ikat dari Sabu warisan budaya yang memiliki makna filosfi tinggi. Gambar diabadikan, Rabu (13/1/2016).

Oleh Herman Seran
Co-Editor Buku Membangun Indonesia dari Pinggiran, Research Fellow IRGSC Kupang

POS KUPANG.COM - Pemerintahan Joko Widodo memberi perhatian khusus untuk bagian timur Indonesia. Provinsi NTT khususnya selain secara geografis terletak di bagian timur Indonesia, mendapat perhatian karena termasuk kawasan perbatasan negara, wilayah kepulauan, dan tentu karena ketertinggalannya secara ekonomi dibandingkan dengan provinsi lain. Sebagai mantan pengusaha Presiden Jokowi telah membuka berbagai peluang untuk NTT.

Presiden menawarkan NTT sebagai penyedia daging sapi alternatif untuk Jakarta, sampai mengajak gubernur Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama ke Kupang, hingga mengirim kapal ternak yang harus pulang dengan jumlah sapi di bawah target.

Presiden Jokowi adalah presiden yang paling banyak memakai pakaian tenun ikat NTT sepengetahuan penulis. Yang terakhir ini adalah iklan gratis yang gagal ditangkap oleh Nusa Tenggara Timur. Padahal pilihan memakai tenun ikat adalah cara Jokowi mempromosikan tenun ikat dengan bintang iklannya Presiden sendiri.

Spirit Entrepreneurial governance mengharuskan pemerintah daerah pintar-pintar (smart) memanfaatkan peluang yang ada untuk akselerasi pembangunan. Kebijakan pemerintah pusat sejatinya bisa menjadi peluang maupun hambatan bagi pemerintahan daerah. Misalnya saja, saat pertama kali digulirkan otonomi daerah yang melimpahkan wewenang pengelolaan usaha pertambangan kepada pemerintah daerah, para pejabat daerah umumnya menjadikan IUP (Izin Usaha Pertambangan) sebagai sumber rente baru terlebih menjelang pilkada, sehingga kemudian IUP itu diplesetkan menjadi 'Izin Untuk Pilkada'.

UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah menarik kembali kekuasaan tersebut ke pusat dan provinsi, sehingga tertutuplah wewenang para bupati untuk mencari rente dari penerbitan IUP. Ini adalah contoh kebijakan pemerintah pusat yang dikategorikan hambatan dari sudut pemerintah kabupaten, tetapi menjadi peluang bagi pemerintah provinsi. Banyak kebijakan Joko Widodo yang seharusnya menjadi peluang bagi pemerintah daerah NTT, seperti membangun dari pinggiran, tol laut, penyediaan daging sapi untuk Jakarta, hingga pilihannya mengenakan pakaian berbahan tenun ikat. Kita akan membedah kebijakan Presiden memakai kemeja berbahan tenun ikat ini sebagai peluang yang harus ditangkapi NTT secara agresif untuk memperluas pasar tenun ikat NTT secara nasional dan internasional.

Ilmu manajemen memperkenalkan metode analisis yang dinamakan SWOT. SWOT merupakan singkatan dari Strength (Keunggulan), Weakness (Kelemahan), Opportunity (Peluang) dan Threat (Ancaman). Jamaknya, para manajer berusaha keras untuk mengeksploitasi keunggulan mereka untuk mendapatkan hasil yang maksimal, sambil berjuang menutupi kelemahan mereka. Pada saat yang sama mereka berusaha untuk menghindari ancaman dari luar dengan berbagai strategi; dan yang terakhir adalah berusaha mengubah peluang menjadi kekuatan atau modal bagi kemajuan organisasi. Pada titik inilah kita membicarakan konsep'capitalizing the opportunity' alias mengubah peluang menjadi kekuatan untuk melipatgandakan hasil (outcome).

Nusa Tenggara Timur sangat kaya dengan berbagai motif tenun ikat yang dikerjakan secara rumahan yang memiliki keunikan tersendiri sebagai suatu karya seni. Banyak motif tenun ikat yang bernilai seni dan ekonomi tinggi, dihasilkan tangan-tangan terampil para perempuan NTT. Terbentang dari Manggarai di ujung barat hingga Timor di bagian timur, kita temukan beraneka motif tenun ikat. Kita tentu tahu indahnya tenun ikat Sumba. Alfonsa Horeng dari Flores memperkenalkan tenun ikat sampai ke mancanegara bersama LepoLorunnya.

Yovita Meta mendapat penghargaan Academia Awards dari Forum Academia NTT (FAN) karena memberdayakan para perempuan pengrajin tenun ikat di Biboki (TTU). Dalam konteks SWOT, kekayaan tenun ikat NTT adalah keunggulan industri kerajinan NTT.

Terus apa hubungan antara Jokowi memakai kemeja tenun ikat NTT dengan SWOT analysis? Dalam dunia bisnis, korporasi umumnya mengeluarkan 9% hingga 11% pendapatannya (revenue) untuk biaya promosi alias iklan atau rata-rata 10%. Bahkan perusahaan teknologi informasi yang memiliki tingkat pertumbuhan tinggi mengalokasikan lebih dari separuh pemasukan untuk pemasaran. Industri pertelevisian Indonesia saat ini dibayar antara Rp 10 juta -15 juta per 15 -30 detik penayangan iklan. Biaya ini belum termasuk bayaran kepada bintang iklannya, yang semakin mahal kalau semakin terkenal. Di sinilah mengapa keputusan Jokowi untuk memakai kostum berbahan tenun ikat merupakan peluang (Opportunity) yang harus dimanfaatkan dengan baik agar menjadi keunggulan (Strength) industri tenun ikat NTT.

NTT telah mendapatkan bintang iklan tenun ikat NTT termahal di Indonesia secara gratis, seorang presiden yang menyita perhatian dunia karena kepemimpinannya yang piawai. Kita tidak perlu lagi membayar iklan televisi seharga Rp 15 juta per 30 detik untuk pemasaran tenun ikat NTT. Para pemimpin NTT dikoordinasikan oleh gubernur, melalui Dinas Perindustrian dan Pariwisata provinsi harus menangkap peluang ini secara efektif. Flobamora perlu mengkapitalisasi peluang (capitalizing the opportunity) yang diciptakan Presiden menjadi keunggulan kompetitif yang dieksploitasi secara optimal bagi kesejahteraan rakyat. Saatnya kita menjadikan tenun ikat yang beraneka ragam sebagai brand (citra) provinsi kepulauan ini. Momentum ini perlu dimanfaatkan untuk menjadikan NTT sebagai produsen tenun ikat berkualiatas dan beranekaragam yang selalu dicari pembeli.

Praktisnya, yang perlu dilakukan adalah secara agresif memperkenalkan tenun ikat pada hajatan-hajatan nasional. Dinas Perindustrian dan Pariwisata provinsi harus mendekati sekretariat negara untuk menjadi sponsor kostum kenegaraan berbasis tenun ikat NTT demi mendorong nasionalisasi aneka motif tenun ikat NTT. Pada saat yang sama, secara domestik dikembangkan sentra-sentra kerajinan tenun ikat di seluruh Flobamora, sebagai destinasi pariwisata wajib, yang dilengkapi dengan show room di Kota Kupang.

Peningkatan kualitas dan produksi didorong dengan penyelenggaraan kontes tenun ikat sebagai even pariwisata tahunan untuk memotivasi dan memberi insentif bagi para pengrajin tenun ikat, yang dilengkapi program dengan lelang tenunan-tenunan terbaik. Demi pelestarian tradisi menenun, maka gubernur perlu menginstruksikan sekolah-sekolah NTT untuk menjadikan keterampilan menenun sebagai muatan lokal wajib dalam kurikulum dari SD hingga SMA. Tentu kita harus berterima kasih kepada Universitas Nusa Cendana yang telah membuka jurusan tenun ikat.

Singkat kata, pemerintah daerah harus pintar menangkap peluang yang diciptakan oleh kebijakan Presiden. Peluang yang diciptakan oleh pusat harus dikapitalisasi menjadi keunggulan kompetitif oleh pemerintah daerah yang berkarakter entrepreneurial governance. Tenun ikat beraneka motif yang diproduksi oleh industri rumahan, yang tersebar di seluruh wilayah NTT, merupakan satu keunggulan yang harus dieksploitasi secara maksimal oleh daerah.

Kesediaan Jokowi untuk mengenakan kostum bermotif tenun ikat NTT dalam berbagai hajatan kenegaraan adalah peluang yang sangat mahal harganya bagi industri tenun ikat kita. Karena itu, para pemimpin daerah ini harus menangkap peluang ini dan menjadikannya sebagai satu keunggulan kompetitif yang dimaksimalkan untuk percepatan pembangunan Nusa Tenggara Timur.*

Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help